oleh

BERBAGI KISAH MENJALANI ISOLASI MANDIRI COVID-19

JAKARTA, LIPUTAN68.COM | Saat saya menulis kisah ini, maka sejak Tanggal 14 Maret 2020 berada di Rumah di Bandung, maka berbagai kisah ingin saya ceritakan, namun ini hanyalah pengalaman pribadi yang tentunya tidak akan sama dengan pengalaman orang lain. Alhamdulillah, saya dapat mengatasi masalah isolasi mandiri COVID-19 ini oleh saya sendiri.

Senang sekali saya, ibarat sebuah Bangsa, dia hanya bisa mengatasi masalah Bangsanya, oleh dirinya sendiri. Jangan menggantungkan persoalan Bangsa sendiri kepada Bangsa lain, karena, “there is no free lunch” (tidak ada makan siang gratis), jadi kalau masalah Bangsa kita, kita serahkan kepada Bangsa lain, akibatnya sangat luas, bisa bermacam-macam. Ibarat virus Corona, kedatangannya tak pernah diprediksi, dan kapan ia akan berakhir juga sulit diprediksi. Lalu apa, kemana dan sampai kapan dampak dari Covid-19 terhadap kehidupan umat manusia juga tak terjawabkan, mirip kasus lumpur Sidoarjo tak tahu saya, kapan akan berhenti?. Baiklah kita mulai berbagi cerita.

_1.RASA HERAN BIN HERAN_

Apa pasal?. Begini, bila saya akan meninggalkan tugas kampus rutin (Baca ITB Ahmad Dahlan), apakah ada urusan keluarga di Bandung, atau ada proyek tentang energi di Lombok atau mengajar di Medan, atau bahkan keluar Negeri dan sebagainya. Hampir pasti saya harus menyiapkan surat-surat resmi dan mempersiapkan alasan kepada bos saya Rektor ITB Ahmad Dahlan. Dr. Mukhaer Pakkanna, serta para wakilnya, Insya Allah, Dr. Budi, Dr Yayat dan Dr Imal, apa alasan yang enak untuk sebentar meninggalkan Kampus. Tentu alasan itu bukan kepentingan pribadi tetapi apa manfaatnya bagi kampus. Selalu saya siapkan “Raison d’etre”-nya.

Liputan JUGA  Sejarah Upacara Maesa Lawung Di Alas Krendha Wahana

Mengapa harus begitu, karena saya yang kini berumur 68 tahun, dua tahun lagi, saya pensiun, harus menjadi teladan bagi siapapun bahwa kendatipun bos saya dan para wakilnya jauh lebih muda dari saya, maka saya wajib menghormati dan menghargai mereka, agar orang lain bisa mencontoh bahwa, makin tua umur kita, harus makin bijak bestari, jangan , “ pikasebeleun” kata orang Sunda. Insya Allah, ini harus saya jaga selama-lamanya. Termasuk izin berhaji yang membutuhkan 40 hari bersama istri berdua di Kota Mekah dan Madinah, pasti izin dulu ke bos saya, apalagi saya A.S.N.(aparatur sipil Negara).

Adapun kaitannya dengan isolasi diri ialah. Heran saya, tgl 14 Maret 2020 itu, saya belum minta izin, tidak lapor ini itu. Tahu tahu, semua orang wajib pulang kerumah, dan rumus “ Di rumah saja” menjadi jargon yang paling disenangi kini”. Semula, ada untaian kata “ Jangan Keluar Rumah”, kurang dikenal, sebaliknya kata “Dirumah saja, bisa disambug sebagai berikut : Dirumah saja bekerja online. Dirumah saja belajar dan bahkan dirumah saja beribadah sholat berjamaah, bahkan Sholat Jum’at boleh diganti dzhuhur, itu semua arahan berdasar Nasehat Nabi Besar Muhammad SAW bila umat menghadapi bala bencana virus apalagi yang mewabah, kini malah menjadi pandemi atau wabah tingkat Dunia. Bukan sekedar epidemi atau endemi. Semula hanya China, kini Amerika, Itali, Spanyol dan lain-lain.

Liputan JUGA  Analisis Pengaruh Perputaran Persediaan Terhadap Tingkat Profitabilitas Pada Perusahaan Otomotif Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)

Jadi saya dan keluarga diam di Rumah ini, bukan sekedar mentaati ketetapan Pemerintah, mengikuti anjuran MUI dan PP Muhammadiyah. Akan tetapi saya mengamalkan Sunah Rasululloh SAW menghadapi wabah. Alhamdulillah, sungguh benar Hadits yang berbunyi, “ Tidak tersesat hidup umat, kalau mematuhi Al-Quran dan Sunah Rasul”. Jadi dengan mengikuti Sunah Rasul menghadapi Covid-19. Insya Allah tenang saya. Subhanalloh.

Selain itu, sebelum adanya Covid-19, bila di rumah, saya harus berpikir, Minggu depan tugas apa ya, sekarang ini bener-bener tidak banyak berpikir, malah senang menulis dan membaca. Kiranya benar-benar, Covid-19, jadi blessing in guise bagi saya. Sebuah barokah yang ga disangka sangka, jarang dalam hidup saya, tidur berdua di Rumah bersama istri begini lama hingga 20 hari seperti ini, bahkan ketika di Mekah, tak bisa berdua dengan istri. Banyak Jamaah lainnya, sejak menikah, hingga saya belajar di Belanda, selalu LDR (long distance relationship). Paling lama bersatu ialah ketika haji ke Mekah dan Madinah, lebih 40 hari kumpul walau tak berdua. Kesimpulan, keheranan saya ialah, pertama bisa meninggalkan kampus tanpa izin, malah disuruh tanpa tahu kapan boleh kembali ke kampus. Kedua, bisa kumpul dengan istri sudah labih 20 hari. Ajaib yah.

Liputan JUGA  Sejarah Japa Mantra Ajaran Wali Songo

_2. MERENUNGKAN KEKUASAAN ALLAH SWT SEMAKIN DALAM

Akhir-akhir ini, kita mendengar kesombongan Negara yang sangat kuat yakni Amerika dan China, sehingga perang dagang saja antara kedua Negara itu menjadikan Negara seperti Indonesia dan India serta Negara lain yang mempunyai hubungan dengan Amerika dan China, goyah. Mengapa, karena barang dagang dan kebutuhan ekspor -impor dengan Amerika dan China nilainya signifikan. Itu salah satu dampak Covid-19.

  Banner Iklan Sariksa

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.