Kalaulah saya tarik garis sejak beliau Ketua STIEAD, itu berarti IBM diperjuangkan sejak tahun 2009. Jangan tanya betapa itu surat bolak ke Kopertis, Kedikti dan ke Kemnetrian, yang kelak akan masuk SEKAB Karena akan diresmikan oleh Presiden Jokowi. Persoalan yang menjadi heboh ialah, “ Mengapa menjadi nama ITB Ahmad Dahlan”, bukankah impian kita sejak dulu adalah IBM.
Ini duduk persoalannya. Dirjend Dikti, hanya akan memberi izin, apakah pendirian Kampus baru, atau perubahan bentuk, maka hanya prodi yang masuk rumus STEM (Science, Technology, Engineering dan Mathematics), yang diizinkan.
Oleh sebab itu, IBM yang hanya punya Ekonomi, Akuntansi dan Keuangan Syariah. Tidak mendapat izin. Maka, Dr Mukhaer Pakkanna, SE.MM, menambahkan prodi yang bersifat Teknologi, yaitu Arsitektur, DKV, Sistem Informasi dan Teknologi Informasi. Sehingga nama yang diusulkan menjadi ITBM (Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah).
Tapi pertimbangan Dikti, nama semula jangan diganti. Misal YAI, menjadi Unversitas YAI. ASMI Menjadi Universitas ASMI. Maka STIE Ahmad Dahlan yang menjadi instritut teknologi dan bisnis, harus menjadi Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan, disingkat ITB Ahmad Dahlan. Terdiri atas dua Fakultas, Fakultas Ekonomi Digital dan Fakultas Teknopreuneur.
Demikianlah kawan-kawan yang bisa saya jelaskan secara informal.
Tidak menutup kemungkinan, bila ada keberatan dari ITB secara tertulis misalnya, pasti akan direspon oleh pimpinan saya. Saya terus terang tidak pernah ikut hadir dan apalagi menyusun proposal IBM (baca: ITB Ahmad Dahlan), kecuali ada undangan dari Koperetis (LLDIKTI Wil-3), untuk sekedar mendampingi pimpinan. Semua dikerjakan oleh para junior pelanjut saya yang kini hampir doktor semua. Saya berharap, penjelasan saya, bisa memuaskan. Mohon maaf bila kata-katanya kurang berkenan. Saya hargai perhatian saudara terhadap masalah ini. Semoga menjadi kebaikkan bagi kita semua. /Red-liputan68
Kontributor ; Ichwan Aridanu, S.Pd, M.Pd.
Editor ; Seno
