Darimana Korsel bisa dapat gagasan seperti ini? Pengalaman. Mereka belajar dari pengalaman menghadapi virus SARS dan MERS pada tahun-tahun sebelumnya.
Namun tidak semua negara yang punya pengalaman, mampu menggunakannya dengan cerdas. Amerika Serikat (AS) adalah contohnya. AS sebenarnya sudah berpengalaman menghadapi pandemi. Pada masa Pemerintahan Barrack Obama, AS berhasil membantu negara-negara Afrika menghentikan virus Ebola. Obama membentuk gugus tugas khusus yang melacak perkembangan penyakit di seluruh dunia. Begitu muncul penyakit baru di luar AS, mereka segera mengirimkan tim kesehatan militer ke sana. Bersama negara setempat, AS melawan wabah agar jangan sampai ke Negeri Paman Sam. Di dalam negeripun dilakukan persiapan, siapa tahu wabah tetap lolos. Prosedurnya sama: melakukan testing cepat dan luas, melatih tenaga kesehatan untuk perawatan dan memberlakukan pembatasan fisik.
Tapi yang kini terjadi malah sebaliknya. Gugus tugas bentukan Obama dibubarkan. Informasi awal soal COVID-19 diabaikan. Presiden Donald Trump malah menyebut virus Corona sebagai hoax. Saat COVID-19 benar-benar masuk dan menginfeksi banyak orang, AS kelimpungan. Rumah sakit over kapasitas. Alat kesehatan habis. Dokter dan perawat tidak memiliki cukup alat pelindung diri. AS harus membayar semua itu dengan kematian lebih dari 52 ribu orang dan angka itu terus bertambah sampai sekarang.
Frasa ‘Terus Belajar’ juga berlaku bagi individu. Keselamatan kita di masa pandemik ini, sangat teragantung kepada diri kita sendiri. Semakin baik kita memahami informasi, maka semakin disiplin kita menjalakan prosedur kesehatan dan keselamatan. Semakin ketat kita menjalankan prosedur, semakin kecil potensi kita terjangkiti virus.
Sampai hari ini, ada empat anjuran yang harus kita ikuti yaitu: cuci tangan, makan yang sehat, istirahat yang cukup, berlakukan jarak fisik (physical distancing) dan pakai masker kalau berpergian keluar rumah. Keempat anjuran ini kalau diringkas menjadi satu yaitu: tetap tinggal di rumah. Prosedur ini sederhana sekali, tapi membutuhkan kedisiplinan agar bisa mengerjakannya. Kedisiplinan akan muncul jika kita benar-benar memahami dan yakin dengan informasi yang kita punya.
Secara statistik virus Corona memang tidak semematikan SARS dan MERS. Virus ini bisa dikalahkan secara mandiri melalui imunitas. Namun adakah orang yang mau mencoba-coba terpapar virus ini untuk mengetahui kekuatan imunitasnya? Kalau ada, mungkin dialah yang disebut Alvin Toffer sebagai orang buta huruf di abad 21.
(M-01)
