oleh

Corona, Literasi dan Soekirman

Oleh: Erix Hutasoit

Berbulan-bulan dunia diteror virus corona. Vaksin dan obat mujarab belum ditemukan. Setiap hari berita kematian merajarela. Orang-orang ketakutan dan mencari jalan selamat. Namun satu-satunya jalan keselamatan yang paling masuk akal saat ini, adalah mengandalkan keterampilan menggunakan informasi (literasi).

Bupati Soekirman dari Serdang Bedagai (Sergai), Sumater Utara (Sumut) punya pandangan visioner soal literasi. Dalam buku Membangun Literasi Bangsa (2020), Bupati Soekirman menulis sebuah pengantar yang menarik. Mengambil tajuk Masa Depan Kita Adalah Literasi, Bupati Soekirman tegas menulis: menguasai informasi adalah kunci memenangkan masa depan. Mensarikan pemikiran Alvin Toffler dalam The Future Shock (1970), Bupati Soekirman menulis, ”Siapa yang menguasi informasi, maka dialah yang menguasai dunia. Agar mampu menguasai informasi, manusia harus terus-menerus belajar.” Dalam pengantar itu, Bupati Soekirman menyertakan satu kutipan Alvin Toffler yang paling terkenal. “The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn and re-learn (Buta huruf di abad 21 bukanlah mereka yang tidak bisa membaca dan menulis, tetapi mereka yang tidak mau belajar, berhenti belajar dan tidak belajar terus menerus).”

Bupati Soekirman menggunakan frasa ‘Terus Belajar’ untuk mempertegas bahwa literasi bukan sekadar soal senang membaca atau tidak. Literasi adalah alat untuk merespon masalah. Alat untuk beradaptasi. Hanya dengan terampil membaca, manusia bisa mencari, memahami dan menggunakan informasi untuk menghadapi masalah. Dengan memiliki informasi yang akurat, seseorang bisa membuat keputusan yang tepat dalam hidupnya.

Liputan JUGA  Budi Luhur Permaisuri Amangkurat I

Apa yang dituliskan Bupati Soekirman kini terbukti. Serangan Pandemik COVID-19, menunjukkan bagaimana frasa ‘Terus Belajar’ menjadi pembeda tiap-tiap negara dalam membuat keputusan. Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS) adalah contohnya. Dua negara ini memberikan respon berbeda saat menerima infromasi awal COVID-19. Ada yang tanggap dan ada yang mengabaikan.

Korsel adalah negara yang serius merespon virus Corona. Saat mereka menemukan pasien positif pertama, Korsel langsung menggumpulkan industri kesehatan. Pemerintah meminta industri farmasi menciptakan alat test cepat (rapid test). Tujuannya agar pemerintah bisa memetakan penyebaran virus dan mengendalikannya. Jika langkah awal ini gagal, ekonomi Korsel bisa terancam. Industri farmasi Korsel merespon dengan kecepatan luar biasa. Belum sampai puluhan orang terinfeksi, alat rapid test sudah tersedia. Dalam secepat kilat, Korsel melakukan test massal. Sekitar 10 ribu – 15 ribu orang ditest setiap hari. Bahkan pemeriksaan bisa dilakukan dari mobil tanpa harus turun.

Liputan JUGA  Dukungan Terus Mengalir, Soekirman Resmikan Rumah Pemenangan SETUJU

Setelah rapid test tersedia, langkah selajutnya adalah tracking (melacak) orang-orang yang kontak dengan penderita Corona. Pelacakan di Korsel sedikit lebih kompleks, karena mereka tidak menerapkan lockdown. Korsel mengandalkan big data untuk ini. Mereka memanfaatkan data dari penderita positif. Semua informasi dari hp, media sosial, kartu kredit, laptop dan apa saja yang bisa diakses secara digital dipakai untuk melacak kemana saja mereka pergi dan bertemu siapa saja. Agar tindakan pengambilan data ini tidak melanggar hukum (ilegal), parlemen Korsel rapat kilat dan merestui permintaan pemerintah.

Pelacakan data HP, salah satu metode tracking yang paling efektif. Data HP tidak hanya menyediakan informasi soal lokasi tetapi juga waktu. Melalui informasi ini, pemerintah bisa melacak siapa saja orang yang berdekatan dengan si pasien pada lokasi dan jam tertentu. Orang-orang ini walau tidak saling mengenal, tapi bisa dilacak nomor hpnya. Big data membuat pelacakan menjadi mudah, karena semua nomor HP teregister pada perusahaan penyediaan layananan seluler. Data perjalanan si penggunan HP juga tersimpan di server perusahaan. Pemerintah tinggal meminta data dari perusahaan dan mengsingkronisasinya melalui algoritma khusus. Hasilnya Korsel bisa sangat masif melacak siapa saja yang kontak dengan pasien positif, menghubungi mereka, meminta mereka melakukan test, dan membawa mereka ke rumah sakit jika terpapar.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.