Liputan KOLOM

Corona, Literasi dan Soekirman

Ditulis oleh Liputan68 pada 26 April 2020 ⏱️ 2 Menit Baca

Oleh: Erix Hutasoit

Berbulan-bulan dunia diteror virus corona. Vaksin dan obat mujarab belum ditemukan. Setiap hari berita kematian merajarela. Orang-orang ketakutan dan mencari jalan selamat. Namun satu-satunya jalan keselamatan yang paling masuk akal saat ini, adalah mengandalkan keterampilan menggunakan informasi (literasi).

Bupati Soekirman dari Serdang Bedagai (Sergai), Sumater Utara (Sumut) punya pandangan visioner soal literasi. Dalam buku Membangun Literasi Bangsa (2020), Bupati Soekirman menulis sebuah pengantar yang menarik. Mengambil tajuk Masa Depan Kita Adalah Literasi, Bupati Soekirman tegas menulis: menguasai informasi adalah kunci memenangkan masa depan. Mensarikan pemikiran Alvin Toffler dalam The Future Shock (1970), Bupati Soekirman menulis, ”Siapa yang menguasi informasi, maka dialah yang menguasai dunia. Agar mampu menguasai informasi, manusia harus terus-menerus belajar.” Dalam pengantar itu, Bupati Soekirman menyertakan satu kutipan Alvin Toffler yang paling terkenal. “The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn and re-learn (Buta huruf di abad 21 bukanlah mereka yang tidak bisa membaca dan menulis, tetapi mereka yang tidak mau belajar, berhenti belajar dan tidak belajar terus menerus).”

Bupati Soekirman menggunakan frasa ‘Terus Belajar’ untuk mempertegas bahwa literasi bukan sekadar soal senang membaca atau tidak. Literasi adalah alat untuk merespon masalah. Alat untuk beradaptasi. Hanya dengan terampil membaca, manusia bisa mencari, memahami dan menggunakan informasi untuk menghadapi masalah. Dengan memiliki informasi yang akurat, seseorang bisa membuat keputusan yang tepat dalam hidupnya.

BACA JUGAPohon

Apa yang dituliskan Bupati Soekirman kini terbukti. Serangan Pandemik COVID-19, menunjukkan bagaimana frasa ‘Terus Belajar’ menjadi pembeda tiap-tiap negara dalam membuat keputusan. Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS) adalah contohnya. Dua negara ini memberikan respon berbeda saat menerima infromasi awal COVID-19. Ada yang tanggap dan ada yang mengabaikan.

Korsel adalah negara yang serius merespon virus Corona. Saat mereka menemukan pasien positif pertama, Korsel langsung menggumpulkan industri kesehatan. Pemerintah meminta industri farmasi menciptakan alat test cepat (rapid test). Tujuannya agar pemerintah bisa memetakan penyebaran virus dan mengendalikannya. Jika langkah awal ini gagal, ekonomi Korsel bisa terancam. Industri farmasi Korsel merespon dengan kecepatan luar biasa. Belum sampai puluhan orang terinfeksi, alat rapid test sudah tersedia. Dalam secepat kilat, Korsel melakukan test massal. Sekitar 10 ribu – 15 ribu orang ditest setiap hari. Bahkan pemeriksaan bisa dilakukan dari mobil tanpa harus turun.

Setelah rapid test tersedia, langkah selajutnya adalah tracking (melacak) orang-orang yang kontak dengan penderita Corona. Pelacakan di Korsel sedikit lebih kompleks, karena mereka tidak menerapkan lockdown. Korsel mengandalkan big data untuk ini. Mereka memanfaatkan data dari penderita positif. Semua informasi dari hp, media sosial, kartu kredit, laptop dan apa saja yang bisa diakses secara digital dipakai untuk melacak kemana saja mereka pergi dan bertemu siapa saja. Agar tindakan pengambilan data ini tidak melanggar hukum (ilegal), parlemen Korsel rapat kilat dan merestui permintaan pemerintah.

Pelacakan data HP, salah satu metode tracking yang paling efektif. Data HP tidak hanya menyediakan informasi soal lokasi tetapi juga waktu. Melalui informasi ini, pemerintah bisa melacak siapa saja orang yang berdekatan dengan si pasien pada lokasi dan jam tertentu. Orang-orang ini walau tidak saling mengenal, tapi bisa dilacak nomor hpnya. Big data membuat pelacakan menjadi mudah, karena semua nomor HP teregister pada perusahaan penyediaan layananan seluler. Data perjalanan si penggunan HP juga tersimpan di server perusahaan. Pemerintah tinggal meminta data dari perusahaan dan mengsingkronisasinya melalui algoritma khusus. Hasilnya Korsel bisa sangat masif melacak siapa saja yang kontak dengan pasien positif, menghubungi mereka, meminta mereka melakukan test, dan membawa mereka ke rumah sakit jika terpapar.

Darimana Korsel bisa dapat gagasan seperti ini? Pengalaman. Mereka belajar dari pengalaman menghadapi virus SARS dan MERS pada tahun-tahun sebelumnya.

Namun tidak semua negara yang punya pengalaman, mampu menggunakannya dengan cerdas. Amerika Serikat (AS) adalah contohnya. AS sebenarnya sudah berpengalaman menghadapi pandemi. Pada masa Pemerintahan Barrack Obama, AS berhasil membantu negara-negara Afrika menghentikan virus Ebola. Obama membentuk gugus tugas khusus yang melacak perkembangan penyakit di seluruh dunia. Begitu muncul penyakit baru di luar AS, mereka segera mengirimkan tim kesehatan militer ke sana. Bersama negara setempat, AS melawan wabah agar jangan sampai ke Negeri Paman Sam. Di dalam negeripun dilakukan persiapan, siapa tahu wabah tetap lolos. Prosedurnya sama: melakukan testing cepat dan luas, melatih tenaga kesehatan untuk perawatan dan memberlakukan pembatasan fisik.

Tapi yang kini terjadi malah sebaliknya. Gugus tugas bentukan Obama dibubarkan. Informasi awal soal COVID-19 diabaikan. Presiden Donald Trump malah menyebut virus Corona sebagai hoax. Saat COVID-19 benar-benar masuk dan menginfeksi banyak orang, AS kelimpungan. Rumah sakit over kapasitas. Alat kesehatan habis. Dokter dan perawat tidak memiliki cukup alat pelindung diri. AS harus membayar semua itu dengan kematian lebih dari 52 ribu orang dan angka itu terus bertambah sampai sekarang.

Frasa ‘Terus Belajar’ juga berlaku bagi individu. Keselamatan kita di masa pandemik ini, sangat teragantung kepada diri kita sendiri. Semakin baik kita memahami informasi, maka semakin disiplin kita menjalakan prosedur kesehatan dan keselamatan. Semakin ketat kita menjalankan prosedur, semakin kecil potensi kita terjangkiti virus.

Sampai hari ini, ada empat anjuran yang harus kita ikuti yaitu: cuci tangan, makan yang sehat, istirahat yang cukup, berlakukan jarak fisik (physical distancing) dan pakai masker kalau berpergian keluar rumah. Keempat anjuran ini kalau diringkas menjadi satu yaitu: tetap tinggal di rumah. Prosedur ini sederhana sekali, tapi membutuhkan kedisiplinan agar bisa mengerjakannya. Kedisiplinan akan muncul jika kita benar-benar memahami dan yakin dengan informasi yang kita punya.

Secara statistik virus Corona memang tidak semematikan SARS dan MERS. Virus ini bisa dikalahkan secara mandiri melalui imunitas. Namun adakah orang yang mau mencoba-coba terpapar virus ini untuk mengetahui kekuatan imunitasnya? Kalau ada, mungkin dialah yang disebut Alvin Toffer sebagai orang buta huruf di abad 21.

(M-01)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian