Bantah Tudingan Mark up, Pemprov Sumut Tegaskan Harga Paket Sembako Berdasar Hasil Survey Pasar

Berdasarkan hasil survei kemudian diambil hargai rata-rata beras, gula, minyak makan dan mi instan. Di dalam harga Rp225.000 ini juga termasuk harga kepada perusahaan, yaitu untuk packaging atau kemasannya. “Bukan seperti menenteng mi instan dalam jumlah sedikit atau satuan. Ini paket, harus ada proses pamaketan. Kemudian juga keuntungan perusahaan yang disesuaikan dengan peraturan yang berlaku dan harga yang wajar,” terangnya.

Kemudian, kata Riadil, dalam proses penyaluran kepada penerima manfaat diperlukan biaya pengangkutan ke daerah yang dituju, dan biaya tersebut telah masuk di dalamnya. Perusahaan juga harus sewa gudang untuk menyimpan sementara paket sembako karena jumlahnya mencapai ratusan ribu paket.

“Sebagai contoh, berbeda dengan membeli sebungkus mi instan di kedai. Kalau di kedai beli sebungkus kan bisa ditenteng. Dengan jumlah yang ratusan ribu gini apa bisa ditenteng? Makanya perlu sewa gudang. Kemudian ada juga biaya pengangkutan dari lokasi pembelian ke gudang mereka, kemudian ke kabupaten/kota. Jadi itu, tidak bisa diperbandingkan beli sebungkus di kedai, karena ada hal-hal yang harus ditanggung perusahaan packaging, keuntungan perusahaan, sewa gudang dan pengangkutan, termasuk risiko lain yang harus ditanggung, misalnya dalam proses pengiriman dan kerusakan bahan pokok” jelas Riadil

Adanya biaya ke perusahaan itu yang membuat harga paket bantuan sembako berbeda dengan harga di pasaran. ‘’Jadi tidak bisa diperbandingkan. Insya Allah ini semua bisa dipertanggung jawabkan. Silahkan masyarakat mengawasinya. Atau memberikan masukan-masukan. Jadi itu penjelasannya dari harga satu paket Rp225.000, Yang pasti, jangan ada satupun masyarakat calon penerima tidak mendapatkan sembako. Mari kita kawal bersama. Jika terjadi ada warga yang belum mendapatkan paket sembako, silahkan melapor ke Pemerintah Setempat, atau Kepala Lingkungan/kepala desa/Lurah/Camat” dan diminta kepada Kabupaten/kita untuk bisa mengawal dan menyikapinya,” ujar Riadil.

(M-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *