Belati Gawai di Masa Pandemi

Pembelajaran jarak jauh menggunakan gawai selama pandemi Coved-19 membuat banyak orangtua stres. Bukan saja pengeluaran lebih besar karena harus membeli gawai baru dan paket data. Terlebih lagi anak-anak mereka yang masih di bawah umur rentan terpapar pengaruh buruk internet dan gawai.

Sampai sekarang belum ada laporan pemerintah atas tingkat efektifitas belajar daring menggunakan gawai selama pandemi. Malah Studi ESPAT (End Child Prostitution, Child Pornography & Trafficking of Children for Sexual Purpose, 2020) berkata sebaliknya. Bahwa mengakses internet saat pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang diberlakukan Mendikbud Nadiem membuka ruang bagi kejahatan seksual yang mengancam anak-anak.

Studi tersebut mewawancarai secara daring 1.203 anak dari 13 provinsi di Indonesia pada masa pandemi Covid-19, menemukan ada 287 anak yang mendapatkan pengalaman buruk ketika berselancar di dunia maya. Anak-anak yang diharapkan mengakses dunia maya sebagai bagian dari proses pembelajaran daring, ternyata sering menerima pesan tak senonoh, gambar atau video pornografi, dan ajakan membicarakan hal yang membuat anak tidak nyaman. Sejumlah anak menjadi korban pornografi karena penggunaan medsos yang lebih tersembunyi, seperti whisper dan secret yang bisa berbentuk aplikasi.
Pembelajaran daring, khususnya menggunakan gawai di era pandemi memang keniscayaan.

Namun, membiarkan seluruh sekolah melakukan pembelajaran daring tanpa aturan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi anak-anak berusia belia. Jika berlangsung lama, pendidikan terancam krisis, sebagaimana dialami bidang lainnya. Pembelajaran daring merupakan solusi darurat dan tetap harus dicari solusi alternatif, khususnya bagi siswa yang berusia di bawah 14 tahun.

Sampai saat ini, pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tak memiliki platform pembelajaran masa pandemi. Pemerintah hanya menyuruh seluruh sekolah di daerah yang terjangkit Coved-19 melakukan daring. Bagaimana caranya? Semuanya diserahkan ke sekolah. Ini sungguh aneh, sebab tidak semua sekolah di Indonesia siap dengan pembelajaran daring yang sehat bagi perkembangan jiwa dan intelektual anak.
Seharusnya di masa pandemi yang belum pasti kapan berakhir, pemerintah membuat platform pembelajaran di era pandemi. Pembelajaran tidak selalu mengunakan gawai. Banyak alternatif lain, seperti pembelajaran berbasis komunitas, yaitu guru melakukan kegiatan kunjungan dan sekaligus mengajar ke tempat tertentu yang dekat dengan tempat tinggal siswa. Tentu kegiatan itu harus dibarengi dengan penerapan protokol penanganan Covid-19.

Kalaupun akhirnya harus menggunakan daring, pemerintah wajib menyediakan atau mensubsidi laptop dan paket data kepada siswa. Laptop lebih aman daripada gawai. Pemerintah tak perlu bingung mencari dana. Tokh, dana pendidikan di negeri ini mencapi 450 triliun dimana 567 miliar akan diberikan kepada 156 ormas membuat program pelatihan guru .

Alangkah bijaknya dana tersebut dialihkan mendukung pembelajaran daring siswa. Daripada dana tersebut diberikan kepada organisasi besar, seperti Yayasan Sampoerna dan Tonoto Faundation untuk membuat program pendidikan yang belum tentu bermanfaat bagi siswa, mengapa tak diberikan saja kepada siswa agar belati gawai tak “melukai” siswa. Semoga.

(M-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *