Oleh: Arfanda Siregar
Mudir Islamic Center Ali Bin Abi Tholib
Pemerintah tak boleh menutup mata atas dampak negatif pembelajaran daring menggunakan gawai di tengah wabah pandemi virus corona. Sepintas gawai memang menjadi media termudah dan termurah pembelajaran daring dibandingkan penggunaan laptop dan komputer. Namun dampak buruk gawai harus diantisipasi sebelum menjadi benalu bagi generasi masa depan bangsa.
Kekhawatiran tersebut bisa jadi mewakili perasaan orang tua yang resah melihat anak berusia belia teramat akrab dengan benda mungil tersebut. Bukan saja pengeluarannya bertambah besar karena membelikan gawai maupun menyediakan paket data sebagai sarana belajar anak. Terlebih lagi, kecemasan membuncah melihat sang buah hati kian akrab dengan benda mungil tersebut.
Harus diakui sisi positif gawai banyak, namun sisi negatifnya juga besar, khususnya bagi perkembangan anak. Gawai mempercepat transfer pengetahuan dan teknologi. Portal-portal pendidikan yang berkualitas berserakan di dunia maya. Bahkan, rekaman pelajaran dan persentasi para pakar yang berasal dari universitas ternama di dunia mudah diperoleh di internet. Berbagai pelatihan keterampilan daring ditawarkan. Peminat cukup mengetikkan kata kunci di mesin pencari.
Namun, sisi negatifnya pun tak kalah mengerikan. Dia ibarat belati tajam bagi anak-anak, yang hanya menggunakan gadget sebagai alat permainan dan hiburan semata. Fasilitas gawai, seperti game, tontonan, judi, dan jejaring sosial bila dikonsumsi berlebihan berefek buruk pada fisik, otak, mental, dan sosial.
Anak-anak belum mempunyai kontrol diri. Kalau sudah asyik bermain game dan aplikasi mengasikkan sulit dihentikan. Anak yang kecanduan gawai sulit sembuh seperti manusia normal. Kecanduan gawai ibarat ketergantunga narkoba. Sudah banyak contoh anak-anak yang harus direhabilitasi mentalnya oleh rumah sakit gara-gara kecanduan gawai.
Di dunia medis muncul istilah nomofobia yang berasal dari istilah “no-mobile-phone-phobia” atau sindrom kecanduan gawai. Sebenarnya sindrom ini menyerang banyak orang dari berbagai kalangan dan usia. Namun, yang paling banyak terkena sindrom nomofobia ini adalah anak-anak milenial yang sangat suka dan selalu ingin update dengan hal-hal terbaru.
Pandemi Coved-19 telah mempercepat integrasi gawai dengan kehidupan anak. Orang tua tidak siap karena tak mampu mengendalikan anak menggunakan dawai. Anak juga tidak siap karena belum memiliki nalar yang baik atas berbagai konten yang ditawarkan berbagai situs internet.
Anak berusia belia, yang masih berusia di bawah 14 tahun belum pantas dibelikan gawai tanpa pengawasan ketat dari orang tua. Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), usia ideal anak dapat mengakses gadget saat menginjak usia 14 tahun. Bill Gates, orang terkaya dunia, ketika diwawancarai majalah Tenplay mengatakan bahwa ketiga anaknya tidak diberi gawai hingga berusia 14 tahun. Pemilik perusahaan Microsoft tersebut dengan tegas mengatakan anak tidak boleh diberi gawai sebelum menginjak 14 tahun. Dan seluruh ahli parenting mengamini perkatanya tersebut.
