Kanjeng Ratu Wetan dan Kanjeng Ratu Kulon adalah permaisuri Sri Susuhunan Amangkurat Agung yang memerintah Mataram tahun 1645 – 1677. Kanjeng Ratu Wetan mendapat tugas untuk mengelola pelabuhan Tanjung Emas Semarang, kawasan bisnis Pantura dan area wisata wilayah Banyumas. Sedangkan Kanjeng Ratu Kulon bertugas mengelola pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, koordinator Kadipaten Bang Wetan, dan pabrik garam Kalianget Madura. Selama mendampingi Sri Susuhunan Amangkurat Agung, peran wanita Mataram sungguh terhormat dan bermartabat.
Ketika ibukota Mataram beralih ke Kartasura, kerajaan Mataram mengalami kejayaan yang berkilauan. Sinuwun Paku Buwana I yang memerintah Mataram tahun 1708 – 1719 bekerja dengan melibatkan segala elemen masyarakat. Keunggulan sang raja ini diperkuat oleh peran sang permaisuri, Kanjeng Ratu Mas Balitar. Beliau putri Pangeran Rangga Juminah bupati Madiun.
Kanjeng Ratu Mas Balitar pernah belajar kesusasteraan kepada pujangga Samudra Pasai yang bernama Nuruddin Arraniri. Kitab Bustanu Salatin disadur dalam bahasa Jawa. pada masa pemerintahan di Kartasura ini terbitlah serat Ambiya, serat Menak dan serat Iskandar Zulkarnaen. Kerajaan Mataram menerapkan sistem wajib belajar bagi sekalian warga. Permaisuri raja Mataram mengirimkan pemuda pemudi untuk belajar sastra budaya di negeri Turki dan Mesir.
Kegiatan Istri Raja Mataram selalu menonjol dalam berbagai lapangan sosial. Kanjeng ratu Kencono adalah permaisuri Sinuwun Paku Buwana II. Beliau adalah putri Pangeran Purbaya bupati Lamongan. Istri raja ini memiliki bisnis perkapalan, pelayaran, dan perikanan di Tuban. Sukses bisnis ratu Kencono digunakan untuk membiaya kegiatan sosial kerajaan sampai relung-relung pedesaan.
Konsep kewanitaan banyak ditulis dalam kitab Jawa klasik. Misalnya serat Condrorini, serat Centhini, dan serat Piwulang Estri. Sebagai wanita kelahiran kota Surakarta tentulah mbak Kahiyang Ayu sangat akrab dengan butir-butir luhur warisan para pujangga agung. Kandungan nilai spiritual yang berkaitan dengan ajaran agama Islam tersebut dalam tembang kinanthi Serat Centhini.
Kinanthi
Yen sira winengku kakung,
ywa tilar lanjaran nguni,
tetuladan kuna-kuna,
kadising Rasullulahi,
kang amrih utamaning dyah,
antuka sawarga adi.
Kang kekal salaminipun,
langgeng boya owah gingsir,
budinen nganti sampurna,
Anyingkirana saliring,
kang wus ingaranan cacad,
tanduk tindaking pawestri.
Terjemahan:
Jika kamu telah bersuami,
janganlah kamu tinggalkan
alur ajaran-ajaran lama.
Teladan yang terdapat dalam Hadis
hanya demi keutamaan wanita,
agar dapatlah mencapai surga yang abadi,
Tak berbeda selama-lamanya,
abadi tanpa berganti-ganti.
Usahakanlah itu hingga tercapai.
Jauhkanlah dirimu dari segalanya
yang dipandang tercela
bagi tingkah laku kaum wanita.
Mbak Kahiyang Ayu terlalu akrab dengan lantunan tembang-tembang Jawa yang mengandung pembinaan tentang budi pekerti luhur. Ajaran tersebut menghendaki agar para wanita senantiasa menjunjung tinggi teladan sebagaimana yang telah dianjurkan oleh agama melalui hadis Nabi Muhammad. Khasanah sastra Jawa yang akan diangkat dalam pembahasan ini adalah sastra piwulang yaitu Serat Centhini yang ditinjau dari aspek moralnya. Berkaitan dengan nilai kemasyarakatan, Serat Centhini dalam tembang kinanthi menguraikan sebagai berikut:
Kinanthi
Tan kurang tuladan luhung,
anggon-anggoning pawestri.
Janji temen linampahan,
ingkang wus kasebut tulis,
tanggung kang padha iyasa,
yen nganti tumekeng nisthip.
Nanging kudu wruh panuju,
watek kabeneran Nini,
ywa nganggo bener kewala.
Iku angeling dumadi,
empan papan duga-duga,
tangi turu away lali.
Terjemahan:
Beragam suri teladan yang utama,
yang pantas menjadi pedoman para wanita.
Asal benar-benar dipatuhi,
segala yang tertulis
dalam ajaran para penciptanya,
tidaklah mungkin akan menemui cela.
Akan tetapi harus mengerti tujuanmu,
Pantaslah berpegang pada kebenaran,
tetapi jangan ingin benar sendiri.
Memang sulit hidup ini.
Harus tahu keadaan masyarakat,
harus ingat akan waktu,
itulah yang harus diperhatikan.
Wanita memang dianjurkan untuk berpartisipasi dalam mewujudkan tertib sosial sehingga perjalanan masyarakat tanpa gangguan dan hambatan. Para pujangga Jawa menyelipkan ajaran kemasyarakatan ini dalam karya-karyanya. Tembang kinanthi kerap dipelajari oleh Mbak Kahiyang Ayu saat belajar di bangku SD, SMP, SMA sebagai muatan lokal.
Mbak Kahiyang Ayu lahir di Surakarta pada tanggal 20 April 1991. Dari pasangan Ir H Joko Widodo dan Hj Iriana. Sedangkan Mas Bobby Nasution lahir di Tapanuli Selatan tanggal 5 Juli 1991 dari pasangan Erwin Nasution dan Ade Hanifah Siregar. Keduanya telah menjalankan biduk rumah tangga.
Perpaduan dari latar dua sub kultur kebangsaan ini, telah lahir pada tanggal 1 Agustus 2018 seorang putri cantik bernama Sedah Mirah Nasution. Sebetulnya nama Sedah Mirah pada jaman kerajaan Mataram amat terkenal. Departemen sosial kerajaan Mataram selalu dijabat oleh seorang wanita yang bernama Sedah Mirah. Dengan demikian Sedah Mirah merupakan figur historis yang amat mulia.
Kelengkapan biduk rumah tangga bertambah membahagiakan setelah kelahiran Panembahan Al Nahyan Nasution pada tanggal 11 Agustus 2020. Nama Panembahan merujuk pada pendiri kerajaan Mataram. Dengan kehadiran anak laki-laki dan perempuan ini berarti generasi penerus tetap berlanjut. Cita-cita mengabdi kepada rakyat merupakan tekad kuat. Oleh karena itu perjuangan demi masyarakat selalu dilakukan dengan penuh semangat.
(M-01)
