Oleh: Dr Purwadi, M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA)
A. Kaswargan Para Nata ing Tanah Jawi.
Pajimatan Imogiri merupakan tanda kebesaran adat istiadat peradaban. Pelestarian tata cara adat demi kehidupan yang ayem tentrem. Hari Senin Wage, 5 Oktober 2020 diselenggarakan pisowanan di makam Pajimatan Imogiri. Sebagai pimpinan yaitu KGPH Mangkubumi, Putra Sinuwun Paku Buwana XIII.
Putra Mahkota Karaton Surakarta Hadiningrat ini berdiri di depan untuk memuliakan para raja Mataram, yang sudah cinandi ing angkasa, manjing ing kaswargan jati. Dengan harapan bumi pertiwi kokoh jatidiri, berkilauan dalam kepribadian.
Makam Imogiri dibangun oleh Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma. Pada tahun 1621 beliau naik haji ke Makkah. Saat melempar jumrah, tiba tiba batu terbang melayang. Batu jumrah itu jatuh di atas Gunung Merak. Atas wangsit Kanjeng Ratu Waskitha Jawi, Permaisuri Panembahan Senapati ada dhawuh khusus. Tempat di atas Gunung Merak itu, supaya digunakan untuk memule Trah Mataram.
Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma, surut ing kasedan jati tahun 1645. Tempat pemakaman di puncak Gunung Merak yang diberi nama Pajimatan Imogiri. Enam tahun kemudian, tahun 1651 Kanjeng Ratu Batang ndherek sumare. Beliau adalah garwa prameswari Kanjeng Sultan Agung. Abdi dalem dalang kinasih yang diperkenankan ikut dalam satu kompleks pemakaman yakni Dalang Panjang Mas.
Tahlil tahmid tasbih takbir berkumandang di kaswargan Sultan Agungan. Sayup Sayup seperti bremara reh mbrengengeng. Lir swaraning madu brangta. Manungsum sarining kembang. Abdi dalem ulama Pajimatan membaca doa dengan khusuk.
Kukusing dupa kumelun, ngeningken tyas sang apekik, kawengku sagung jajahan, nanging sanget angikibi, sang Resi Kanekaputra, kang anjog saking wiyati.
Bau dupa sumerbak wangi. Sekar ganda arum diuntai di pusaka Makam Sultan Agung. Melati, kenanga, mawar menjadi piranti tata cara. Doa puji pangastuti bersama dengan sekar sumawur.
Abdi dalem Bedaya berbusana Jawa dengan pakaian kemben. Nyampingan, sanggulan, samiran duduk timpuh. Lenggah andheku amarikelu, nenuwun murih raharjaning jagad raya.
Sementara abdi dalem kakung mengenakan busana padintenan. Kali ini warna agak beragam. Menandakan tata cara termasuk acara isindentil. Kalau ada hajad penting, Karaton Surakarta Hadiningrat senantiasa mohon lilah pada leluhur.
Berurutan yang seba yaitu KGPH Mangkubumi, GKR Retno Dumilah, GKR Wandansari, KPH Wirrobhumi. Diikuti sentana, wayah dalem dan abdi Bedaya. Pagi hari sebelumnya hujan deras mengguyur. Tapi sore itu waktu menunjukkan pukul 17 sore. Angin sumilir sepoi sejuk. Angkasa rasa tampak biru cerah. Tanda doa terkabul. Sembada kang sinedya, jumbuh kang ginayuh.
Segera turun melewati gapura Sri Manganti. Rindang pepohonan, terutama wit maja. Kanan kiri petamanan yang dirawat rapi. Pantulan cahaya matahari dari arah barat, asri terang benderang. Seberang arah selatan berdeburan ombak samudera Kidul.
Kompleks makam raja Mataram untuk sebelah timur disediakan keluarga Karaton Yogyakarta. Sebelah barat untuk keluarga Karaton Surakarta Hadiningrat. Pengelola makam terdiri dari para abdi dalem.
Tangga makam berundak undak. Terhitung dari tangga terbawah sampai paling atas berjumlah 582. Untuk melewati diperlukan tenaga ekstra. Keringat gemrobyos tanda olahraga. Sowan di Pajimatan Imogiri berarti menyehatkan badan.
Hari mulai gelap. Tata cara dilanjutkan di kaswargan kaping sedasan. Penerangan berupa anglo padupan. Perapian menyala di makam Sinuwun Paku Buwana X, Sinuwun Paku Buwana XI, Sinuwun Paku Buwana XII.
Kewibawaan spiritual muncul dengan kesungguhan. Para pendherek tradisi berbakti sebagai wujud dedikasi.
