Pak Jokowi Dan Pengabdian Kepada Negara

Oleh : Dr. Purwadi, M.Hum.

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp.087864404347)

A. Pandangan tentang Kenegaraan.

Konsep lila lan legawa kanggo mulyane negara sering didengar Pak Jokowi lewat tembang gugur gunung. Kepemimpinan dalam pandangan budaya desa diperoleh melalui proses turunnya wahyu, pulung atau ndaru. Di desa-desa sewaktu terjadi pemilihan kepala desa (pilkades), para calon kades itu biasanya saling berebut pulung.

Kepemimpinan Jawa bersifat magis spiritual. Mereka datang ke dukun-dukun, orang tua, atau tempat keramat semacam kuburan leluhur hanya demi mewujudkan impiannya untuk mendapatkan pulung kepemimpinan tersebut. Faktor kabegjan dan kanugrahan menjadi pandangan utama. Oleh karena itu untuk mendapatkan pun perlu ilmu laku.

Pedalangan termasuk seni edi peni budaya adi luhung. Edi peni berhubungan dengan nilai keindahan estetis. Adi luhung berikutnya dengan nilai etis filosofis. Masyarakat Surakarta sangat memahami hubungan antara perkembangan seni edi peni dan budaya adi luhung. Cita- cita sosial dibangun berdasarkan aktifitas kultural.

Dalam pewayangan, lakon yang menceritakan pulung kepemimpinan dilukiskan dengan memperoleh wahyu cakraningrat.
Siapa saja yang memperoleh wahyu cakraningrat, maka dia dan keturunannya akan berhak menduduki tahta kepemimpinan.

Tiga pangeran putra mahkota dalam pewayangan yaitu Lesmana dari Hastina, Samba dari Dwarawati, dan Abimanyu dari Amarta bersaing sengit dalam memperebutkan wahyu cakraningrat agar tergenggam di tangannya. Karena Lesmana dan Samba tidak kuat menerima cobaan berupa wanita cantik, maka hanya Abimanyu yang kemudian berhasil memperolehnya. Akhirnya memang hanya Abimanyu yang bisa menurunkan raja di Hastina, yaitu Prabu Parikesit.

Masyarakat Surakarta menjadikan seni wayang sebagai bahan refleksi kehidupan. Misalnya pentas di pagelaran tahun 1995. Lakon wahyu cakraningrat ini di masyarakat Jawa sangat populer. Lurah, camat, bupati yang terpilih seringkali menanggap wayang dengan lakon tersebut.

Harapannya mereka akan memerintah dan menerapkan kepemimpinan mirip Prabu Parikesit yang terkenal berwibawa dan disegani baik kawan maupun lawan. Sedangkan buat masyarakat yang diperintah akan mengakui eksistensi kepemimpinannya. Agaknya wahyu cakraningrat merupakan salah satu sarana yang ampuh sebagai sumber legitimasi kepemimpinan.
Komunitas paling bawah dalam kebudayaan Jawa dipimpin oleh lurah. Seorang lurah bernama Bapak Lamidi Wirjo Mihardjo adalah Eyang kakung Pak Jokowi. Lurah Kragan Karanganyar ini kerap meresapi lakon Wahyu Cakraningrat.

Wewenang atau kepemimpinan yang bersumber dari pulung atau wahyu itulah yang menyebabkan kepemimpinan berubah menjadi magis, wingit, angker, gaib dan serba supranatural. Salah satu bukti pusat kepemimpinan yang berwajah wingit adalah sebagian besar pendopo kabupaten di Jawa. Di sana akan kita temukan beberapa simbol yang mendukung sifat keangkerannya, misalnya lampu yang sengaja dipasang nyala redup dan suram, pajangan pusaka tombak, keris, songsong gilap payung agung, patung Dwarapala dan sebagainya.

Ajaran kepemimpinan yang bersumber dari sastra pewayangan itu diresapi betul oleh Pak Jokowi sebagai sangu pengabdian. Contohnya ajaran Serat Witaradya yang ditulis tahun 1846. Pulung sebagai sumber kepemimpinan diyakini hanya melekat pada satu orang. Pulung atau wahyu tidak terbagi-bagi dan tetap utuh wujudnya.

Dengan demikian seseorang yang telah mendapatkan pulung kepemimpinan itu tidak mempunyai kewajiban moral bagi dirinya untuk mengadakan distribusi wewenang. Mereka percaya bahwa kepemimpinan yang terbagi-bagi akan mengganggu harmoni alam. Kepemimpinan yang otoriter diperkenankan asal tetap pada landasan ambeg adil paramarta, memayu hayuning bawana.

Leluhur Pak Jokowi mengajarkan unggah ungguhing basa, kasar alusing rasa, jugar genturing tapa. Oleh karena itu segala penandang diterima dengan lapang dada. Tradisi kritik terhadap kepemimpinan yang dilakukan secara terang terangan dalam budaya Jawa dinilai terlalu banyak menanggung resiko. Pangarsa kudu sembada.

Pancaran kepemimpinan diibaratkan dengan cahaya matahari. Orang yang mengritik secara vulgar dan konfrontatif sama halnya dengan ngidoni srengenge ‘meludahi matahari’. Sudah pasti ludahnya akan hanya mengenai muka sendiri.

Surya madhangi jagad. Duk mungup-mungup aneng sapucaking wukir. Marbabak bang sumirat. Memang dalam budaya desa dikenal tradisi pepe ‘berjemur’ di alun-alun antara dua ringin kembar. Tetapi itu bukan bersifat kritikan. Pepe hanya salah satu usaha permintaan keadilan warga kerajaan yang teraniaya oleh aparat bawahan raja. Beruntung jika raja memiliki belas kasihan, jika tidak, bukan menjadi tanggungan berat bagi raja. Ulat patrap lan pangucap harus bersandar pada nilai kesusilaan.

Pengetahuan tentang nilai budaya bagi Pak Jokowi sungguh amat penting. Segala pekerjaan dilakukan dengan kebudayaan. Sebagaimana amanat Kyai Yasadipura pujangga Pengging yang hidup tahun 1729 – 1802. Akan tetapi tidak berarti bahwa budaya desa tidak mengenal kritik sama sekali. Kritik silahkan jalan asalkan empan papan ‘sesuai waktu dan tempat’. Ada tiga kelas sosial yang berkaitan dengan praktek kritik yaitu dupak bujang, esem mantri, semu bupati dan sasmita narendra.

1. Dupak bujang.

Kelas bujang ‘pelayan atau buruh’ cara mengritiknya bisa dengan dhupak ‘tendangan’. Buruh itu tidak akan peduli apa-apa terhadap kritik keras, meskipun dengan umpatan dan makian yang kasar. Namun yang penting upahnya harus tetap dipenuhi. Buruh, jarwo dhosok-nya (akronim) awak lebur ora weruh ‘badan lebur tidak peduli’. Jiwa buruh sama dengan orang yang semata-mata mengejar upah tanpa menghiraukan harga diri.

2. Esem mantri.

Mantri mendapat kedudukan dari pembesar. Sebagai seorang aparat posisi mantripenting sekali, demi kelancaran sebuah pekerjaan. Kritik buat mantri cukup dengan eseman atau senyuman. Senyuman seorang pemimpin harus diketahui oleh para mantri.

3. Semu bupati.

Kelas yang selevel dengan bupati cara mengritiknya cukup dengan semu. Oleh karena itu seorang bupati harus tanggap terhadap eseman rakyatnya.

Kalau semu ini saja tidak juga ditanggapi, maka rakyat akan lebih runyam lagi dengan memasyarakatkan kata-kata plesetan. Budaya plesetan ini boleh jadi merupakan ekspresi puncak dari kritikan rakyat yang sudah tidak tahan lagi terhadap sesuatu yang kurang berkenan di hatinya.

4. Sasmita narendra.

Untuk narendra atau raja, kritik tidak diekspresikan dengan senyuman atau kata -kata denotatif, tetapi dengan sasmita. Perasaan dilatih untuk tajam.

Lambang atau simbol halus memang bermakna konotatif. Ambil contoh rangkaian kata- kata kali ilang kedhunge, pasar ilang kumandhange, sungai hilang kedalamannya, pasar hilang keramaiannya. Sesungguhnya idiom itu memiliki makna kiasan yang dalam. Seorang kepala negara yang berbudi bawa leksana harus mampu mengungkap dan menangkap makna simbolik seperti itu. Itulah sasmitaning ngaurip.

Peradaban Jawa direnungkan oleh Pak Jokowi, melalui ajaran kesusastraan dan pentas pakeliran. Sasmita atau kritik dilakukan denagn tepat oleh Pujangga Yasadipura dengan Serat Wicara Kerasnya dan Ranggawarsita dengan Serat Kalatidanya.

Demikian pula Ki Dalang dengan gara- garanya. Ketiga contoh tersebut memuat kritik terhadap ketimpangan masyarakat dan kesewenangan kepemimpinan yang dilakukan dengan cara yang sangat halus dan hati-hati. Sabeja bejane kang lali, luwih beja kang eling lan waspada. Sesanti ini dipahami benar oleh Pak Jokowi sekeluarga.

Aspek kenegaraan mendapat perhatian yang utama bagi pentas pedalangan. Jejer pertama dalam adegan pewayangan, Ki Dalang mesti mengawali pagelarannya dengan melukiskan keindahan, kemakmuran dan kewibawaan suatu negara. Cara pelukisan semua negara dan rajanya boleh dikatakan stereotip. Pangarsa negari sinengkuyung dening kawula dasih.

Untuk negara pasti menggunakan lukisan ingkang panjang punjung pasir wukir gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharja ‘suatu negara yang terbentang luas lautan dan pegunungannya, ramai pelabuhan dan perdagangannya, murah sandang pangan, subur makmur tertib tentram damai jauh dari laku kejahatan’. Tidak ada dalang menceritakan keburukan atau cacat suatu negara. Jadi imajinasi orang desa terhadap lembaga negara akan selalu indah, makmur, dan serba membahagiakan.

Tertib kosmis berkaitan dengan kebijaksanaan seorang pemimpin. Serat Dewaruci memberi wejangan keteladanan. Sedangkan lukisan yang menunjukkan kewibawaan, keagungan, dan kebijaksanaan raja diceritakan dengan paripurna.

Dikisahkan narendara ingkang kinasih dewa, kinawula ing widadari, cinedhak ing brahmana, lan kinacek sesamaning narendra. Narendra guna ing aguna tan ngendhak gunaning janma, paring payung kang kudanan, paring teken kang kelunyon, paring obor kang kepetengan ‘Raja yang dikasihi para dewa, diperhamba bidadari, dekat dengan ulama, dan disegani sesama raja. Raja yang menguasai pengetahuan luas namun tak merendahkan pengetahuan orang lain, memberi payung siapa yang kehujanan, memberi tongkat orang yang kelicinan, memberi pelita orang yang kegelapan.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *