Liputan KOLOM

Pak Jokowi Dan Pengabdian Kepada Negara

Ditulis oleh Liputan68 pada 27 Oktober 2020 ⏱️ 2 Menit Baca

Oleh : Dr. Purwadi, M.Hum.

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp.087864404347)

A. Pandangan tentang Kenegaraan.

Konsep lila lan legawa kanggo mulyane negara sering didengar Pak Jokowi lewat tembang gugur gunung. Kepemimpinan dalam pandangan budaya desa diperoleh melalui proses turunnya wahyu, pulung atau ndaru. Di desa-desa sewaktu terjadi pemilihan kepala desa (pilkades), para calon kades itu biasanya saling berebut pulung.

Kepemimpinan Jawa bersifat magis spiritual. Mereka datang ke dukun-dukun, orang tua, atau tempat keramat semacam kuburan leluhur hanya demi mewujudkan impiannya untuk mendapatkan pulung kepemimpinan tersebut. Faktor kabegjan dan kanugrahan menjadi pandangan utama. Oleh karena itu untuk mendapatkan pun perlu ilmu laku.

Pedalangan termasuk seni edi peni budaya adi luhung. Edi peni berhubungan dengan nilai keindahan estetis. Adi luhung berikutnya dengan nilai etis filosofis. Masyarakat Surakarta sangat memahami hubungan antara perkembangan seni edi peni dan budaya adi luhung. Cita- cita sosial dibangun berdasarkan aktifitas kultural.

Dalam pewayangan, lakon yang menceritakan pulung kepemimpinan dilukiskan dengan memperoleh wahyu cakraningrat.
Siapa saja yang memperoleh wahyu cakraningrat, maka dia dan keturunannya akan berhak menduduki tahta kepemimpinan.

Tiga pangeran putra mahkota dalam pewayangan yaitu Lesmana dari Hastina, Samba dari Dwarawati, dan Abimanyu dari Amarta bersaing sengit dalam memperebutkan wahyu cakraningrat agar tergenggam di tangannya. Karena Lesmana dan Samba tidak kuat menerima cobaan berupa wanita cantik, maka hanya Abimanyu yang kemudian berhasil memperolehnya. Akhirnya memang hanya Abimanyu yang bisa menurunkan raja di Hastina, yaitu Prabu Parikesit.

Masyarakat Surakarta menjadikan seni wayang sebagai bahan refleksi kehidupan. Misalnya pentas di pagelaran tahun 1995. Lakon wahyu cakraningrat ini di masyarakat Jawa sangat populer. Lurah, camat, bupati yang terpilih seringkali menanggap wayang dengan lakon tersebut.

Harapannya mereka akan memerintah dan menerapkan kepemimpinan mirip Prabu Parikesit yang terkenal berwibawa dan disegani baik kawan maupun lawan. Sedangkan buat masyarakat yang diperintah akan mengakui eksistensi kepemimpinannya. Agaknya wahyu cakraningrat merupakan salah satu sarana yang ampuh sebagai sumber legitimasi kepemimpinan.
Komunitas paling bawah dalam kebudayaan Jawa dipimpin oleh lurah. Seorang lurah bernama Bapak Lamidi Wirjo Mihardjo adalah Eyang kakung Pak Jokowi. Lurah Kragan Karanganyar ini kerap meresapi lakon Wahyu Cakraningrat.

Wewenang atau kepemimpinan yang bersumber dari pulung atau wahyu itulah yang menyebabkan kepemimpinan berubah menjadi magis, wingit, angker, gaib dan serba supranatural. Salah satu bukti pusat kepemimpinan yang berwajah wingit adalah sebagian besar pendopo kabupaten di Jawa. Di sana akan kita temukan beberapa simbol yang mendukung sifat keangkerannya, misalnya lampu yang sengaja dipasang nyala redup dan suram, pajangan pusaka tombak, keris, songsong gilap payung agung, patung Dwarapala dan sebagainya.

Ajaran kepemimpinan yang bersumber dari sastra pewayangan itu diresapi betul oleh Pak Jokowi sebagai sangu pengabdian. Contohnya ajaran Serat Witaradya yang ditulis tahun 1846. Pulung sebagai sumber kepemimpinan diyakini hanya melekat pada satu orang. Pulung atau wahyu tidak terbagi-bagi dan tetap utuh wujudnya.

Dengan demikian seseorang yang telah mendapatkan pulung kepemimpinan itu tidak mempunyai kewajiban moral bagi dirinya untuk mengadakan distribusi wewenang. Mereka percaya bahwa kepemimpinan yang terbagi-bagi akan mengganggu harmoni alam. Kepemimpinan yang otoriter diperkenankan asal tetap pada landasan ambeg adil paramarta, memayu hayuning bawana.

Leluhur Pak Jokowi mengajarkan unggah ungguhing basa, kasar alusing rasa, jugar genturing tapa. Oleh karena itu segala penandang diterima dengan lapang dada. Tradisi kritik terhadap kepemimpinan yang dilakukan secara terang terangan dalam budaya Jawa dinilai terlalu banyak menanggung resiko. Pangarsa kudu sembada.

Pancaran kepemimpinan diibaratkan dengan cahaya matahari. Orang yang mengritik secara vulgar dan konfrontatif sama halnya dengan ngidoni srengenge ‘meludahi matahari’. Sudah pasti ludahnya akan hanya mengenai muka sendiri.

Surya madhangi jagad. Duk mungup-mungup aneng sapucaking wukir. Marbabak bang sumirat. Memang dalam budaya desa dikenal tradisi pepe ‘berjemur’ di alun-alun antara dua ringin kembar. Tetapi itu bukan bersifat kritikan. Pepe hanya salah satu usaha permintaan keadilan warga kerajaan yang teraniaya oleh aparat bawahan raja. Beruntung jika raja memiliki belas kasihan, jika tidak, bukan menjadi tanggungan berat bagi raja. Ulat patrap lan pangucap harus bersandar pada nilai kesusilaan.

Pengetahuan tentang nilai budaya bagi Pak Jokowi sungguh amat penting. Segala pekerjaan dilakukan dengan kebudayaan. Sebagaimana amanat Kyai Yasadipura pujangga Pengging yang hidup tahun 1729 – 1802. Akan tetapi tidak berarti bahwa budaya desa tidak mengenal kritik sama sekali. Kritik silahkan jalan asalkan empan papan ‘sesuai waktu dan tempat’. Ada tiga kelas sosial yang berkaitan dengan praktek kritik yaitu dupak bujang, esem mantri, semu bupati dan sasmita narendra.

1. Dupak bujang.

Kelas bujang ‘pelayan atau buruh’ cara mengritiknya bisa dengan dhupak ‘tendangan’. Buruh itu tidak akan peduli apa-apa terhadap kritik keras, meskipun dengan umpatan dan makian yang kasar. Namun yang penting upahnya harus tetap dipenuhi. Buruh, jarwo dhosok-nya (akronim) awak lebur ora weruh ‘badan lebur tidak peduli’. Jiwa buruh sama dengan orang yang semata-mata mengejar upah tanpa menghiraukan harga diri.

2. Esem mantri.

Mantri mendapat kedudukan dari pembesar. Sebagai seorang aparat posisi mantripenting sekali, demi kelancaran sebuah pekerjaan. Kritik buat mantri cukup dengan eseman atau senyuman. Senyuman seorang pemimpin harus diketahui oleh para mantri.

3. Semu bupati.

Kelas yang selevel dengan bupati cara mengritiknya cukup dengan semu. Oleh karena itu seorang bupati harus tanggap terhadap eseman rakyatnya.

Kalau semu ini saja tidak juga ditanggapi, maka rakyat akan lebih runyam lagi dengan memasyarakatkan kata-kata plesetan. Budaya plesetan ini boleh jadi merupakan ekspresi puncak dari kritikan rakyat yang sudah tidak tahan lagi terhadap sesuatu yang kurang berkenan di hatinya.

4. Sasmita narendra.

Untuk narendra atau raja, kritik tidak diekspresikan dengan senyuman atau kata -kata denotatif, tetapi dengan sasmita. Perasaan dilatih untuk tajam.

Lambang atau simbol halus memang bermakna konotatif. Ambil contoh rangkaian kata- kata kali ilang kedhunge, pasar ilang kumandhange, sungai hilang kedalamannya, pasar hilang keramaiannya. Sesungguhnya idiom itu memiliki makna kiasan yang dalam. Seorang kepala negara yang berbudi bawa leksana harus mampu mengungkap dan menangkap makna simbolik seperti itu. Itulah sasmitaning ngaurip.

Peradaban Jawa direnungkan oleh Pak Jokowi, melalui ajaran kesusastraan dan pentas pakeliran. Sasmita atau kritik dilakukan denagn tepat oleh Pujangga Yasadipura dengan Serat Wicara Kerasnya dan Ranggawarsita dengan Serat Kalatidanya.

Demikian pula Ki Dalang dengan gara- garanya. Ketiga contoh tersebut memuat kritik terhadap ketimpangan masyarakat dan kesewenangan kepemimpinan yang dilakukan dengan cara yang sangat halus dan hati-hati. Sabeja bejane kang lali, luwih beja kang eling lan waspada. Sesanti ini dipahami benar oleh Pak Jokowi sekeluarga.

Aspek kenegaraan mendapat perhatian yang utama bagi pentas pedalangan. Jejer pertama dalam adegan pewayangan, Ki Dalang mesti mengawali pagelarannya dengan melukiskan keindahan, kemakmuran dan kewibawaan suatu negara. Cara pelukisan semua negara dan rajanya boleh dikatakan stereotip. Pangarsa negari sinengkuyung dening kawula dasih.

Untuk negara pasti menggunakan lukisan ingkang panjang punjung pasir wukir gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharja ‘suatu negara yang terbentang luas lautan dan pegunungannya, ramai pelabuhan dan perdagangannya, murah sandang pangan, subur makmur tertib tentram damai jauh dari laku kejahatan’. Tidak ada dalang menceritakan keburukan atau cacat suatu negara. Jadi imajinasi orang desa terhadap lembaga negara akan selalu indah, makmur, dan serba membahagiakan.

Tertib kosmis berkaitan dengan kebijaksanaan seorang pemimpin. Serat Dewaruci memberi wejangan keteladanan. Sedangkan lukisan yang menunjukkan kewibawaan, keagungan, dan kebijaksanaan raja diceritakan dengan paripurna.

Dikisahkan narendara ingkang kinasih dewa, kinawula ing widadari, cinedhak ing brahmana, lan kinacek sesamaning narendra. Narendra guna ing aguna tan ngendhak gunaning janma, paring payung kang kudanan, paring teken kang kelunyon, paring obor kang kepetengan ‘Raja yang dikasihi para dewa, diperhamba bidadari, dekat dengan ulama, dan disegani sesama raja. Raja yang menguasai pengetahuan luas namun tak merendahkan pengetahuan orang lain, memberi payung siapa yang kehujanan, memberi tongkat orang yang kelicinan, memberi pelita orang yang kegelapan.

Lembaga negara memang utama bagi masyarakat Jawa. Orang tua Pak Jokowi memberi nasihat tentang labuh labet. Bapak Widjiatno Notomihardjo berusaha memberi wewarah kautaman. Seperti keteladanan Prabu Puntadewa. Di situ kepala negara atau raja dilukiskan sebagai orang yang adil berwibawa, murah hati pada rakyat dan dicintai para ulama. Oleh karena itu imajinasi orang desa terhadap pemegang kapemimpinan adalah mengayomi. Pemimpin memberi rasa ayom ayem.

B. Tuntunan bagi Seorang Negarawan.

Wulang wuruk selalu mengandung tuntunan. Nasihat luhur itu lantas disampaikan kepada putra wayah. Sebagai modal pengabdian bagi nusa bangsa. Mas Gibran Rakabuming Raka, Mas Bobby Nasution, Mbak Selvi Ananda, Mas Kaesang Pengarep dianjurkan untuk memiliki jiwa kebangsaan.

Teladan Negarawan harus ditiru. Orang desa sangat menghormati dan menjunjung tinggi harkat dan martabat lembaga yang namanya negara. Loyalitas orang desa terhadap hukum dan pemerintah atau negara sebagaimana tercermin dalam idiom formal mereka, desa mawa cara negara mawa tata ‘desa dengan adat istiadat, negara dengan undang-undang.

Darma bakti pada kejayaan negara perlu ditanamkan sejak dini. Contoh ideal yaitu Raden Werkudara. Asal demi negara, apapun yang dimiliki bila diminta akan diserahkan. Meskipun secara material mereka sering dirugikan, namun rasa ruginya itu akan terobati oleh ungkapan kagem negara. Setia pada pemerintah atau pamong praja akan mendatangkan berkah karena pemerintah dianggab sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam memelihara dan mengupayakan tatanan sosial yang gemah ripah loh jinawi karta raharja.

Kesetiaan merupakan barang yang megah mewah. Sifat utama ini mendatangkan kehormatan. Contohnya Begawan Bisma yang memegang teguh sumpah suci. Loyalitas pada negara dalam pewayangan terdapat pada lakon Sumantri Ngenger.

Di situ tokoh Sumantri, seorang anak desa ingin mengabdikan diri kepada kerajaan Maespati yang diperintah oleh Prabu Arjuna Sasrabahu. Kesetiaan dan keteladanan Sumantri pada negara dilukiskan oleh Mangkunegara IV dalam Serat Tripama. Salah satu petikan syairnya. Aran Patih Suwanda, lelabuhanipun, kang ginelung tripakara, guna kaya purune antepi, nuhoni trah utama. Namanya Patih Suwanda atau Sumantri, jasanya terikat tiga hal, kepandaian, kesaktian dan semangat mantab memenuhi keturunan utama. Serat Tripama yang ditulis pada tahun 1854 ini amat populer di kalangan kejawen.

Dalam berbagai forum Pak Jokowi memberi wejangan kepada handai taulan, agar berbakti kepada ibu pertiwi.
Nilai kesetiaan yang tinggi terhadap negara itu kadang -kadang membuat seseorang harus menentukan keputusan yang kontroversial. Hal yang cukup dilematis ini juga dialami oleh Sumantri sewaktu dia dihadapkan pada dua pilihan: mengabdi negara atau mengorbankan adiknya, Sukasarana. Tugas kenegaraan memang berat.

Dalam serat tripama terjadi cerita dahsyat. Keputusan Sumantri ternyata lebih berpihak kepada kepentingan negara meskipun harus kehilangan adiknya. Lakon Sumantri Ngenger tersebut mempengaruhi jalan pikiran sebagian besar orang desa bahwa urusan negara lebih utama daripada sekedar kepentingan keluarga. Inilah gambaran patriotisme sejati. Eyang buyut Pak Jokowi yang bernama Mangun Dinomo merupakan figur pemimpin teladan.

Konsep kepemimpinan tertuang dalam Serat Wahyu Makutharama yang ditulis pada tahun 1951 oleh Ki Siswoharsoyo. Orang desa suka dengan referensi kepemimpinan menurut Lakon Wahyu Makutharama. Lakon ini menyuratkan kepemimpinan sosial yang terkenal dengan istilah astabrata, yang berarti delapan prinsip. Manajemen kenegaraan ini begitu diperhatikan oleh para pemimpin di seluruh penjuru nusantara.

1) Laku Hambeging Kisma.

Laku hambeging kisma berhubungan dengan sifat tanah. Maknanya seorang pemimpin yang selalu berbelas kasihan dengan siapa saja. Kisma artinya tanah. Tanah tidak memperdulikan siapa yang menginjaknya, semua dikasihani.

Tanah sealun memperlihatkan jasanya. Walaupun dicangkul, diinjak, dipupuk, dibajak tetapi malahan memberi subur dan menumbuhkan tanam-tanaman. Filsafat tanah adalah air tuba dibalas air susu. Keburukan dibalas kebaikan dan keluhuran. Istilah lain dari kisma yaitu siti, bantala, bumi, pertiwi, pratala, jagad, lemah.

2) Laku Hambeging Tirta.

Laku hambeging tirta berhubungan dengan sifat air. Maknanya seorang pemimpin harus adil seperti air yang selalu rata permukaanya. Keadilan yang ditegakkan bisa memeberi kecerahan ibarat air yang membersihkan kotoran. Air tidak pernah emban oyot emban cindhe ‘pilih kasih’. Istilah lain tirta yaitu toya, we, banyu, warih.

3) Laku Hambeging Dahana.

Laku hambeging dahana berhubungan dengan sifat api. Maknanya seorang pemimpin harus tegas seperti api yang sedang membakar. Namun pertimbangannya berdasarkan akal sehat yang bisa dipertanggungjawabkan sehingga tidak membawa kerusakan di muka bumi. Istilah lain dahana yaitu bagni, pawaka, siking, gehi, guna, kaya, trining, rana, api.

4) Laku Hambeging Samirana.

Laku hambeging samirana berhubungan dengan sifat angin. Maknanya seorang pemimpin harus berjiwa teliti di mana saja berada. Baik buruk rakyat harus diketahui oleh mata kepala sendiri, tanpa menggantungkan laporan dari bawahan saja. Bawahan cenderung selektif dalam memberi informasi untuk berusaha menyenangkan pimpinan. Istilah lain samirana yaitu barat, lesus, sindhung riwut, margana, pawana, maruta, maruti, bayu, warayang.

5) Laku Hambeging Samodra.

Laku hambeging samudra berhubungan dengan sifat laut. Maknanya seorang pemimpin harus mempunyai sifat pemaaf sebagaimana samudra raya yang siap menampung apa saja yang hanyut dari daratan. Jiwa samudra mencerminkan pendukung pluralisme dalam hidup bermasyarakat yang berkharakter majemuk. Istilah lain samudra yaitu tasik, pasir, segara, jalanidhi, jaladri.

6) Laku Hambeging Surya.

Laku hambeging surya berhubungan dengan sifat matahari. Maknanya seorang pemimpin harus memberi inspirasi pada bawahannya ibarat matahari yang selalu menyinari bumi dan memberi energi pada setiap makhluk. Istilah lain surya yaitu aditya, bagaskara, pratangga pati, srengenge, tengsu, baskara.

7) Laku Hambeging Candra.

Laku hambeging candra berhubungan dengan sifat bulan. Maknanya seorang pemimpin harus memberi penerangan yang menyejukkan seperti bulan bersinar terang benderang namun tidak panas. Bahkan terang bulan tampak indah sekali. Orang Jawa menyebutnya purnama sidi. Istilah lain bulan yaitu sasi, rembulan, sitaresmi, sasadara.

8) Laku Hambeging Kartika.

Laku hambeging kartika berhubungan dengan sifat bintang. Maknanya seorang pemimpin harus tetap percaya diri meskipun dalam dirinya ada kekurangan. Ibarat bintang-bintang di angkasa, walaupun ia sangat kecil tapi dengan optimis memancarkan cahayanya, sebagai sumbangan buat kehidupan. Istilah lain bintang yaitu taranggana, lintang.

Ajaran astabrata memberikan kesadaran kosmis bahwa dunia dengan segala isinya mengandung pelajaran bagi manusia yang mau merenung dan menelitinya. Norma kepemimpinan desa dikenal dengan ungkapan sabda pandita ratu tan kena wola- wali.

Sabda brahmana raja amat populer. Maksudnya seorang pemimpin hartus konsekwen untuk melaksanakan dan mewujudkan apa yang telah dikatakan. masyarakat Jawa menyebutnya sebagai orang yang bersifat berbudi bawa laksana yaitu teguh berpegang pada janji. Sebaimana tokoh Bisma yang agung.

Wejangan para luhur menjadi pegangan hidup sehari-hari. Keluarga Pak Jokowi nak tumanak, run tumurun berusaha melaksanakan wejangan para leluhur. Pengabdian pada negara adalah budi pekerti yang utama. Berbekal kearifan lokal, tenaga dan pikiran digunakan untuk mengabdi kepada bangsa dan negara.

(M-01)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian