Oleh : Dr. Purwadi, M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp.087864404347)
A. Penerapan Konsep Agama Ageming Aji.
Dengan ilmu hidup menjadi lebih mudah. Dengan seni hidup menjadi lebih indah. Dengan agama hidup menjadi lebih terarah. Pada tahun 2003 Pak Jokowi dan Bu Iriana melaksanakan ibadah Haji. Agama ageming aji, bermakna bahwa dengan memeluk agama, maka derajat seseorang akan bertambah mulia. A berarti tidak, gama berarti rusak. Dengan beragama budi pekerti manusia menjadi luhur.
Kondisi sosial politik saat ini mengharuskan seorang negarawan atau pemimpin untuk menyusun strategi gerak yang relevan agar siap menghadapi masa depan bangsa. Konsep kepemimpinan yang dibuat haruslah kukuh dan kokoh sehingga keberadaan seorang pemimpin tidak asing di tengah rakyat yang dipimpinnya. Sangat penting seorang pemimpin memiliki grassroot masa bawah yang kuat.
Masa bawah dalam masyarakat bermacam-macam jenis dan bentuknya. Grassroot mempunyai basis kultural yang kuat dan harus diperhatikan dengan perhatian yang tertentu. Ambil contoh komunitas pedesan memiliki keunikan khusus seperti kesederhanaan, ikatan emosional tinggi, kesenian rakyat dan loyalitas pada pemimpin kultural. Untuk lebih dalam tentang seluk- beluk masyarakat desa perlu dipahami konsep-konsep yang berkembang di pedesaan. Tembang pangkur mengandung kearifan lokal terkait dengan praktek keagamaan.
Pangkur
Mingkar mingkuring angkara, Akarana karenan Mardi siwi,
Sinawung resmining kidung. Sinuba sinukarta, Mrih ketarta pakartining ngelmu luhung.
Kang tumrap ing tanah Jawa,
Agama ageming aji.
Jinejer neng Wedhatama. Mrih tan kemba kembenganing pambudi. Mangka nadyan tuwa pikun.
Yen tan mikani rasa,
Yekti sepi asepa lir sepah samun,
Samangsane pasamuan, gonyak ganyuk nglilingsemi.
Nggugu karsane priyangga, Nora ngganggo peparah lamun angling, Lumuh ingaran balilu, Uger guru aleman, Nanging janma ingkang wus
Waspadeng semu.
Sinamun ing samudana,
Sesadon ingadu manis.
Si pengung nora nglegawa,
Sangsayarda denira cacariwis, Ngandhar- andhar angendhukur,
Kandhane nora kaprah, Saya elok alangka longkanganipun,
Si wasis waskitha ngalah, Ngalingi marang si pingging.
Tembang pangkur di atas punya tafsir dan makna ajarannya. Anak sekolah di Surakarta mengenal lelagon ini. Untaian ajaran luhur buat putra -putri telah disusun oleh Mangkunegara IV dalam kitab Wedhatama. Bahasanya indah, isinya mentes. Makna filosofis yang tinggi cocok buat kajian rohani. Mangkunegara IV menghargai kualitas intelektual, material dan spiritual. Ajaran budi pekerti luhur disampaikan lewat syair yang penuh dengan nilai keindahan. Lagu ini dihayati benar oleh orang Jawa sebagai bahan tuntunan. Penghayatan Pak Jokowi dan bu Iriana atas praktek keagamaan selalu berdasarkan keselarasan sosial.
Keluarga Pak Jokowi selalu menerapkan ajaran agama dengan sikap toleransi. Setiap pemimpin harus memahami konsep Gusti Allah. Orang Jawa (baca = desa) menyebut Tuhan dengan istilah Gusti Allah. Dua istilah ini merupakan gabungan dari kata bahasa Jawa dan bahasa Arab. Kata Gusti dalam bahasa Jawa berarti pihak yang dihormati, dijunjung, dipundi-pundi dan diharapkan dapat pemberikan pengayoman dan perlindungan. Kata Gusti bersifat teologis. Dengan demikian harus dibedakan dengan kata Gusti yang bersifat sosiologis seperti Gusti Prabu, Gusti Ratu, Gusti Pangeran yang merupakan gelar kebangsawanan.
Sedangkan kata Allah adalah adopsi dari kata Arab yang berarti nama diri Tuhan dalam agama Islam, karena orang Jawa mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Bahan kalau dihitung secara kuantitatif Suku Jawa termasuk etnis terbesar di dunia yang beragama Islam.
Oleh karena seseorang yang memahami seluk beluk kehidupan orang Jawa tidak pernah akan berhasil tanpa menyertakan analisis yang berkaitan dengan perkembangan Islam di Indonesia. Antara paham Hindu Buda dengan tasawuf Islam dengan mistik kebatinan Jawa banyak unsur persamaaannya.
Bagi kalangan orang desa yang menganut agama Kristen, menyebut kata Gusti Allah juga bukan sesuatu yang asing. Apalagi antara Islam dan Kristen masih satu rumpun. Maka ketika keduanya berkembang di tanah Jawa mudah sekali beradaptasi. Lebih dari itu keterbukaan dan toleransi antar umat beragama yang berbeda-beda tidak sulit dilakukan.
Dalam sejarah terdapat lembaga pendidikan agama yang berdiri di Surakarta pada tahun 1905. Seorang pemimpin harus memahami konsep tentang Ingkang Akarya Jagat. Secara keseluruhan makna Ingkang Akarya Jagat adalah yang membuat dunia.
Alam raya seluruhnya ini diyakini oleh orang desa bahwa ada yang menciptakan. Ilmu sangkan paraning dumadi menunjukkan asal -usul kehidupan dan tujuannya. Dunia pasti ada awalnya dan ada akhirnya. Namun Sang Pencipta tanpa awal akhir, karena awal akhir hanya menguasai makhluk. Tembang dhandhanggula reriptan Ki Ageng Sela mengandung pepali yang pantas dijadikan bahan refleksi atau kaca benggala.
Dhandhanggula
Pepaliku ajinen mbrekati, tur Selamet sarta kuwarasan,
pepali iku mangkene:
aja agawe angkuh,
aja ladak lan aja jail,
aja ati serakah,
lan aja celimut,
lan aja mburu aleman, aja lada wong ladak pan gelis mati, lan aja ati ngiwa.
Padha sira titirua kaki, jalma patrap iku kasihana, iku arahen sawabe, ambrekati wong iku, nora kena sira wadani, tiniru iku kena, pambegane alus, yen angucap ngarah- arah, yen alungguh nora pegat ngati-ati, ora gelem gumampang.
Sapa sapa wong kang gawe becik,
nora wurung mbenjang manggih arja, tekeng saturun -turune, yen sira dadi agung, amarintah marang wong cilik,
aja sedaya-daya,
mundhak ora tulus,
nggonmu dadi pangauban, aja nacah, marentaha kang patitis, nganggoa tepa-tepa.
Padha sira ngestokena kaki,
tutur ingsun kang nedya utama,
angarjani sarirane,
way nganti seling surup yen tumpang suh iku niwasi, hanggung atelanjukan,
temah sasar susur,
tengraning jalma utama, bisa nimbang kang ala lawan kang becik, rasa rasaning kembang.
Kawruhana pambengkasing kardi, pakuning rat lelananging jagad,
pambengkasing jagad kabeh,
amung budi rahayu,
setya tuhu marang Hyang Widi,
warastra pira pira,
kang hanggung ginunggung
kasor dening tyas raharja, harjaning rat punika pakuning bumi, kabeh kapiyarsakna.
Tafsir dan makna tembang dhandhanggula ini berhubungan dengan kisah Ki Ageng Sela yang menjadi pengayom segenap para petani. Cerita ini sangat dikenal oleh orangtua pak Jokowi.
Ki Ageng Selo menganjurkan seseorang untuk menjunjung tinggi tradisi leluhur yang telah diwariskan secara turun temurun. Sejarah harus berjalan. Jangan sampai masa silam dilupakan. Nama Ki Ageng Selo sangat populer di kalanan petani Jawa. Ki Ageng Selo dikenal sakti mandraguna. Ki Ageng Selo dapat menangkap petir.
B. Teladan Keberagaman Nusantara Jaman Majapahit.
Empu Tantular pujangga kerajaan Majapahit menyusun Kitab Sutasoma pada tahun 1352. Isinya tentang toleransi atas keberagaman. Arti Ingkang Murbeng Gesang adalah yang menguasai kehidupan. Setiap pemimpin harus memahami konsep ini.
Kepasrahan kepada yang menguasai hidup ini membuat orang desa tidak risau terhadap segala jenis perubahan sosial yang sedang terjadi. Dalam logika sederhana, penguasa pesti memiliki kasih sayang terhadap yang dikuasai atau makhluknya. Duka nestapa selalu dipahami sebagai ganjaran dari Ingkang Murbeng Gesang.
