Lembaga negara memang utama bagi masyarakat Jawa. Orang tua Pak Jokowi memberi nasihat tentang labuh labet. Bapak Widjiatno Notomihardjo berusaha memberi wewarah kautaman. Seperti keteladanan Prabu Puntadewa. Di situ kepala negara atau raja dilukiskan sebagai orang yang adil berwibawa, murah hati pada rakyat dan dicintai para ulama. Oleh karena itu imajinasi orang desa terhadap pemegang kapemimpinan adalah mengayomi. Pemimpin memberi rasa ayom ayem.
B. Tuntunan bagi Seorang Negarawan.
Wulang wuruk selalu mengandung tuntunan. Nasihat luhur itu lantas disampaikan kepada putra wayah. Sebagai modal pengabdian bagi nusa bangsa. Mas Gibran Rakabuming Raka, Mas Bobby Nasution, Mbak Selvi Ananda, Mas Kaesang Pengarep dianjurkan untuk memiliki jiwa kebangsaan.
Teladan Negarawan harus ditiru. Orang desa sangat menghormati dan menjunjung tinggi harkat dan martabat lembaga yang namanya negara. Loyalitas orang desa terhadap hukum dan pemerintah atau negara sebagaimana tercermin dalam idiom formal mereka, desa mawa cara negara mawa tata ‘desa dengan adat istiadat, negara dengan undang-undang.
Darma bakti pada kejayaan negara perlu ditanamkan sejak dini. Contoh ideal yaitu Raden Werkudara. Asal demi negara, apapun yang dimiliki bila diminta akan diserahkan. Meskipun secara material mereka sering dirugikan, namun rasa ruginya itu akan terobati oleh ungkapan kagem negara. Setia pada pemerintah atau pamong praja akan mendatangkan berkah karena pemerintah dianggab sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam memelihara dan mengupayakan tatanan sosial yang gemah ripah loh jinawi karta raharja.
Kesetiaan merupakan barang yang megah mewah. Sifat utama ini mendatangkan kehormatan. Contohnya Begawan Bisma yang memegang teguh sumpah suci. Loyalitas pada negara dalam pewayangan terdapat pada lakon Sumantri Ngenger.
Di situ tokoh Sumantri, seorang anak desa ingin mengabdikan diri kepada kerajaan Maespati yang diperintah oleh Prabu Arjuna Sasrabahu. Kesetiaan dan keteladanan Sumantri pada negara dilukiskan oleh Mangkunegara IV dalam Serat Tripama. Salah satu petikan syairnya. Aran Patih Suwanda, lelabuhanipun, kang ginelung tripakara, guna kaya purune antepi, nuhoni trah utama. Namanya Patih Suwanda atau Sumantri, jasanya terikat tiga hal, kepandaian, kesaktian dan semangat mantab memenuhi keturunan utama. Serat Tripama yang ditulis pada tahun 1854 ini amat populer di kalangan kejawen.
Dalam berbagai forum Pak Jokowi memberi wejangan kepada handai taulan, agar berbakti kepada ibu pertiwi.
Nilai kesetiaan yang tinggi terhadap negara itu kadang -kadang membuat seseorang harus menentukan keputusan yang kontroversial. Hal yang cukup dilematis ini juga dialami oleh Sumantri sewaktu dia dihadapkan pada dua pilihan: mengabdi negara atau mengorbankan adiknya, Sukasarana. Tugas kenegaraan memang berat.
Dalam serat tripama terjadi cerita dahsyat. Keputusan Sumantri ternyata lebih berpihak kepada kepentingan negara meskipun harus kehilangan adiknya. Lakon Sumantri Ngenger tersebut mempengaruhi jalan pikiran sebagian besar orang desa bahwa urusan negara lebih utama daripada sekedar kepentingan keluarga. Inilah gambaran patriotisme sejati. Eyang buyut Pak Jokowi yang bernama Mangun Dinomo merupakan figur pemimpin teladan.
Konsep kepemimpinan tertuang dalam Serat Wahyu Makutharama yang ditulis pada tahun 1951 oleh Ki Siswoharsoyo. Orang desa suka dengan referensi kepemimpinan menurut Lakon Wahyu Makutharama. Lakon ini menyuratkan kepemimpinan sosial yang terkenal dengan istilah astabrata, yang berarti delapan prinsip. Manajemen kenegaraan ini begitu diperhatikan oleh para pemimpin di seluruh penjuru nusantara.
1) Laku Hambeging Kisma.
Laku hambeging kisma berhubungan dengan sifat tanah. Maknanya seorang pemimpin yang selalu berbelas kasihan dengan siapa saja. Kisma artinya tanah. Tanah tidak memperdulikan siapa yang menginjaknya, semua dikasihani.
Tanah sealun memperlihatkan jasanya. Walaupun dicangkul, diinjak, dipupuk, dibajak tetapi malahan memberi subur dan menumbuhkan tanam-tanaman. Filsafat tanah adalah air tuba dibalas air susu. Keburukan dibalas kebaikan dan keluhuran. Istilah lain dari kisma yaitu siti, bantala, bumi, pertiwi, pratala, jagad, lemah.
2) Laku Hambeging Tirta.
Laku hambeging tirta berhubungan dengan sifat air. Maknanya seorang pemimpin harus adil seperti air yang selalu rata permukaanya. Keadilan yang ditegakkan bisa memeberi kecerahan ibarat air yang membersihkan kotoran. Air tidak pernah emban oyot emban cindhe ‘pilih kasih’. Istilah lain tirta yaitu toya, we, banyu, warih.
3) Laku Hambeging Dahana.
Laku hambeging dahana berhubungan dengan sifat api. Maknanya seorang pemimpin harus tegas seperti api yang sedang membakar. Namun pertimbangannya berdasarkan akal sehat yang bisa dipertanggungjawabkan sehingga tidak membawa kerusakan di muka bumi. Istilah lain dahana yaitu bagni, pawaka, siking, gehi, guna, kaya, trining, rana, api.
4) Laku Hambeging Samirana.
Laku hambeging samirana berhubungan dengan sifat angin. Maknanya seorang pemimpin harus berjiwa teliti di mana saja berada. Baik buruk rakyat harus diketahui oleh mata kepala sendiri, tanpa menggantungkan laporan dari bawahan saja. Bawahan cenderung selektif dalam memberi informasi untuk berusaha menyenangkan pimpinan. Istilah lain samirana yaitu barat, lesus, sindhung riwut, margana, pawana, maruta, maruti, bayu, warayang.
5) Laku Hambeging Samodra.
Laku hambeging samudra berhubungan dengan sifat laut. Maknanya seorang pemimpin harus mempunyai sifat pemaaf sebagaimana samudra raya yang siap menampung apa saja yang hanyut dari daratan. Jiwa samudra mencerminkan pendukung pluralisme dalam hidup bermasyarakat yang berkharakter majemuk. Istilah lain samudra yaitu tasik, pasir, segara, jalanidhi, jaladri.
6) Laku Hambeging Surya.
Laku hambeging surya berhubungan dengan sifat matahari. Maknanya seorang pemimpin harus memberi inspirasi pada bawahannya ibarat matahari yang selalu menyinari bumi dan memberi energi pada setiap makhluk. Istilah lain surya yaitu aditya, bagaskara, pratangga pati, srengenge, tengsu, baskara.
7) Laku Hambeging Candra.
Laku hambeging candra berhubungan dengan sifat bulan. Maknanya seorang pemimpin harus memberi penerangan yang menyejukkan seperti bulan bersinar terang benderang namun tidak panas. Bahkan terang bulan tampak indah sekali. Orang Jawa menyebutnya purnama sidi. Istilah lain bulan yaitu sasi, rembulan, sitaresmi, sasadara.
8) Laku Hambeging Kartika.
Laku hambeging kartika berhubungan dengan sifat bintang. Maknanya seorang pemimpin harus tetap percaya diri meskipun dalam dirinya ada kekurangan. Ibarat bintang-bintang di angkasa, walaupun ia sangat kecil tapi dengan optimis memancarkan cahayanya, sebagai sumbangan buat kehidupan. Istilah lain bintang yaitu taranggana, lintang.
Ajaran astabrata memberikan kesadaran kosmis bahwa dunia dengan segala isinya mengandung pelajaran bagi manusia yang mau merenung dan menelitinya. Norma kepemimpinan desa dikenal dengan ungkapan sabda pandita ratu tan kena wola- wali.
Sabda brahmana raja amat populer. Maksudnya seorang pemimpin hartus konsekwen untuk melaksanakan dan mewujudkan apa yang telah dikatakan. masyarakat Jawa menyebutnya sebagai orang yang bersifat berbudi bawa laksana yaitu teguh berpegang pada janji. Sebaimana tokoh Bisma yang agung.
Wejangan para luhur menjadi pegangan hidup sehari-hari. Keluarga Pak Jokowi nak tumanak, run tumurun berusaha melaksanakan wejangan para leluhur. Pengabdian pada negara adalah budi pekerti yang utama. Berbekal kearifan lokal, tenaga dan pikiran digunakan untuk mengabdi kepada bangsa dan negara.
(M-01)
