Kata widada yang bernilai estetis dan puitis latas digunakan untuk memberi nama anak laki-laki, misalnya Jatmika Widada, Budi Widada, Jaka Widada, Endar Widada, dan sebagainya. Semuanya bermaksud agar anaknya mendapatkan keselamatan dan kewibawaan.
Selain untuk nama orang, percakapan resmi dalam istana serta upacara, kata widada tidak digunakan dalam kehidupan sehari- hari. Untuk kata keseharian orang lebih biasa dengan istilah slamet yang merupakan tataran bahasa ngoko. Usaha untuk mewajibkan ketentraman masyarakat dengan mengusahakan stabilitas nasional yang kokoh.
B. Mewujudkan Ketentraman Masyarakat.
Wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Seorang pemimpin harus memahami konsep basuki. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur menggunakan semboyan “Jer Basuki Mawa Beya”. Artinya adalah cita-cita untuk memperoleh kesejahteraan pasti memerlukan biaya. Biaya di sini bisa berarti tenaga, semangat dan kemauan.
Beberapa penghargaan yang pernah diterima oleh Pak Jokowi. Tahun 2008 dari Majalah Tempo. Jokowi 10 Tokoh 2008. Delgosea : Kemitraan Pemerintahan Lokal Demokratis Asia Tenggara : relokasi PKL. 12 Agustus 2011 : Penghargaan Bintang Jasa Utama; 2013 : Walikota terbaik ke 3 Dunia Solo Sebagai Kota Seni Budaya Pariwisata; Marketer at the year 2012 oleh Marhphes Conference 2013, Marketing: Into Innovation and Technology; 2014 : Bintang RI Adipurna, Bintang Mahaputra Adipurna, Bintang Humanity, Bintang Democracy Upholder 1st Class, Bintang Culture Parama Dharma, Bintang Bhayangkara Utama, Bintang Sakti, Bintang Bharma, Bintang Yudha Dharma Utama.
Di samping menunjuk pada soal kesejahteraan, kata basuki juga mengandung makna keselamatan. Misalnya puji memuji: manggiha basuki, mugi kalis ing sambikala. Artinya saling mendoakan agar mendapat keselamatan terbebas dari segala gangguan. Basuki, lestari, widada, slamet, sugeng, yuwana, raharja, rahayu, semuanya mengandung makna harapan akan keselamatan. Nama anak yang menggunakan istilah basuki di Jawa juga sangat banyak.
Sinom
Ywa sira duwe pangira, Lamun wong dadi prajurit,
Karyane abot priyangga, Wruhanta sagung pakarti,
Kabeh dunya puniki,
Tan ana prabedanipun,
Kang dagang neng lautan, Miwah kang among tetani,
Sumawana kang suwita ing narendra.
Myang kang tapa jroning guwa,
Kang manusup ing asepi,Lakone padha kewala, Awit iku dadi margi, Mrih katekaning kapti,
Sapangkate pandumipun,
Nanging sarananira,
Mantep temen lan taberi, Samektane ingaranan laksitarja.
Tembang sinom di atas memberi gambaran tentang kerelaan prajurit untuk mewujudkan ketentraman masyarakat. Taburkanlah salam damai ke segala penjuru dunia. Seorang pemimpin harus memahami konsep rahayu. Setiap kali MC bahasa Jawa mau mengakhiri pembicaraan, senantiasa terdengar ungkapan: mugi rahayu ingkang sami pinanggih. Artinya semoga selalu bertemu dalam keselamatan. Rahayu di sini juga mengandung makna doa selamat.
Ayu-hayu-rahayu adalah kondisi yang memungkinkan adalah keselamatan. Wanita ayu adalah wanita yang bisa menghadirkan suasana keselamatan, kesejukan dan kedamaian. Demikian juga kata hayu-dirgahayu adalah ungkapan yang menghendaki datangnya keselamatan.
Untuk anak putri sering diberi nama rahayu. Misalnya Nanik Rahayu, Sulastri Rahayu, Prapti Rahayu dan Sulistya Rahayu. Harapannya agar si anak mendapat kecantikan fisik dan kecantikan batin, sehingga kehadirannya membawa keindahan dan kedamaian.
Suara gamelan menurut Pak Jokowi bisa digunakan untuk mewujudkan ketentraman masyarakat. Seorang pemimpin harus memahami konsep wilujeng. Salah satu gendhing yang terkenal dalam kerawitan yaitu gendhing ladrang wilujeng. Lagu ini memberi suasana damai, ayem, tentrem, dan tenang. Ladrang wilujeng ini cocok untuk mengisi suasana santai namun agung dan hikmat.
Kata wilujeng juga dapat digunakan untuk sapaan hangat bernada halus, “Kepripun Mas kabaripun?” Maka akan dijawab, “Pangestunipun, dhawah wilujeng.” Secara umum kata wilujeng bermakna selamat juga. Hanya saja kata ini jarang digunakan untuk memberi nama anak. Wilujengan berarti selamatan, yang sejajar maknanya dengan slametan.
Meskipun nguri -uri budaya Jawa, sikap keindonesiaan rakyat Jawa tidak perlu diragukan lagi. Aksi disintegrasi tidak pernah bersemi dalam dada rakyat Jawa Tengah. Lagu Santi Mulya karya Ki Nartosabdo menegaskan hal demikian :
Santi mulya, santi mulya
luhur mulyaning negara Indonesia mesthi jaya
tarlen saking golonging sedya tama
manunggal mrih santosa cipta rasa budi karsa
gumelare memayu hayuning bangsa
basuki yuwana sirna papa sangsaya
sampurnaning bebrayan gung Pancasila
mangambar gandanya rum
Indonesia langgeng mardika
Harapan untuk mewujudkan ketentraman sosial selalu diusahakan dengan sungguh- sungguh oleh Pak Jokowi. Debgan berkumandangnya gending santi mulya itu dapat ditafsir sebagai berikut : Puji mulia, puji mulia, luhur kemuliaan Negara, Indonesia pasti jaya, tiada lain dari tekad utama, manunggal biar sentosa, cipta rasa budi karsa, terhampar kesejahteraan bangsa, Selamat sirna kesengsaraan, kesempurnaan masyarakat Pancasila, semerbak wangi harum, Indonesia lestari merdeka.
Kelestarian, kejayaan dan kemakmuran Indonesia sebagai bangsa mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari rakyat Jawa. Meskipun demikian orang Jawa tidak begitu ekstrim memegang sifat kedaerahan. Terbukti bahasa Indonesaia bisa diterima oleh orang Jawa sebagai bahasa nasional kenegaraan.
Perwujudan sistem pertahanan dan keamanan nasional memang idealnya melibatkan sekalian warga. Sehingga tercipta rumangsa melu handarbeni, rumangsa wajib hangrungkebi, mulat sarira hangrasa wani. Ungkapan ini sesuai benar dengan sistem pertahanan rakyat semesta. Pelaksanaannya bersifat aktif dan partisipatif. Inilah wujud pertahanan keamanan yang cocok dengan suasana kepribadian negara Indonesia.
(LM-01)

