Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp. 087864404347)
A. Menjaga Kedaulatan Wilayah Indonesia.
Kedaulatan wilayah negara Indonesia harus dijaga dengan cermat. Keselamatan rakyat merupakan cita-cita proklamasi yang harus diutamakan. Mulai dari Sabang sampai Merauke adalah wilayah Indonesia.
Sistem pertahanan dan keamanan sudah disadari sejak dari masyarakat desa. Misalnya adanya tradisi ronda kampung. Setiap warga desa mendapat giliran untuk menjaga keamanan di wilayah masing- masing. Kesadaran sistem keamanan tradisional ini sudah dikenal Pak Jokowi melalui siaran RRI Surakarta.
Rondha Kampung
Kenthongan iku tandha rondha kampung, aja wegah yo ayo kanca,
mbok aja padha lembon, sing tanggon kampunge aman, nyata adoh durjana, saiki wancine nglilir,
sing padha turu wancine nglilir.
Perlu tafsir penjelasan makna. Ketentraman masyarakat tercapai apabila kampung halamannya terasa aman. Ki Nartosabdo membuat lagu dengan judul Rondha Kampung. Sadar keamanan lingkungan dengan rondha kampung itu biasanya dilakukan secara bergilir. Di situ akan tercipta solidaritas di antara pendukungnya. Kebersamaan yang dijiwai rasa sepenanggungan akan menggugah untuk menyelesaikan problem bersama. Masalah berat akan terasa ringan, apabila ditangani dengan gotong royong.
Untuk mewujudkan keselamatan masyarakat, perlu adanya kesadaran tiap warga negara. Seorang pemimpin harus memahami konsep slamet. Kata slamet di tengah- tengah pergaulan orang Jawa sangat populer. Pengertian slamet adalah selamat dan terbebas dari segala aral rintangan.
Begitu populernya sehingga banyak orang Jawa memberi nama anaknya dengan kata slamet. Misalnya Slamet Sutrisno, Slamet Raharja, Slamet Riyadi, dan sebagainya. Maksud utama pemberian nama demikian adalah agar anaknya mendapat keselamatan dan kedamaian hidup. Dalam pergaulan sehari-hari sering terdengar, “Piye kabare? Rak pada slamet ta?”
Nilai tradisional ternyata bisa digunakan untuk mewujudkan ketentraman. Secara umum kata slamet digunakan untuk melukiskan keadaan, pemberian nama anak, menanyakan kabar seseorang dan menyebut suatu jenis upacara. Karena keselamatan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi manusia baik di dunia apalagi di akhirat.
Taburan salam damai menciptakan suasana sejuk. Seorang pemimpin harus memahami konsep sugeng. Apabila ada sebuah resepsi pada keluarga Jawa, dengan mudah di sana ditemukan jajaran kata “Sugeng Rawuh”, yang berarti selamat datang yang ditujukan kepada para tamu. Kata sugeng itu merupakan bentuk krama dari akat slamet sehingga terkesan lebih halus.
Durma
Dipun sami ambanting sariranira,
cegah dhahar lan guling, darapon sudaa, nepsu kang ngambra- ambra,
lerema ing tyas-ireki,
dadi sabarang,
karsanira lastari.
Ing pangawruh lahir batin aja mamang,
yen sira wus udani,
ing sariranira,
yen ana kang amurba, misesa ing alam kabir, dadi sabarang,
pakaryanira dadi.
Bener luput ala becik lawan begja,
cilaka apan saking,
ing badan priyangga,
dudu saka wong liya,
pramila den ngati-ati,
sakeh dirgama,
singgahana den eling.
Sikap untuk mewujudkan keamanan masyarakat itu didapat dalam lelagon gendhing Durma. Maka perlu adanya tafsir dan makna ajarannya : Perjuangan hidup memang tiada henti. Tembang di atas memberi pelajaran terhadap seseorang, agar selalu kerja keras. Tak boleh patah semangat. Kita harus selalu optimis.
Untuk sapaan hangat dan hormat, kata sugeng digunakan demikian, “Sugeng rawuhipun, Pak.” Dan pihak yang disapa akan menjawab singkat, “Injih, pengestunipun.” Kata sugeng memang dapat menciptakan suasana hangat, hormat dan hikmat. Kata sugeng untuk memberi nama orang misalnya Sugeng Santosa, Sugeng Hartono, Sugeng Pamungkas, dan lain-lain.
Perlu disadari tentang arti penting keselamatan masyarakat. Seorang pemimpin harus memahami konsep widada. Widada juga mengandung makna selamat. Hanya saja kata widada digunakan dalam suasana yang formal keistanaan serta lebih estetis dan puitis (bahasa Kawi). Bumi kelahiran, tanah tumpah darah, dan rasa kebangsaan mendapat apresiasi positif di mata rakyat Jawa. Ki Nartosabdo mengungkapkan rasa cinta tanah air itu dalam bentuk lagu Ketawang Ibu Pertiwi demikian:
Ibu pertiwi
Paring boga lan sandhang kang murakabi,
paring rejeki manungsa kang bekti, ibu pertiwi, ibu pertiwi, sih sutresna mring sesami,
ibu pertiwi kang adil luhuring budi, ayo sungkem mring ibu pertiwi.
Secara umum tembang di atas dapat ditafsir sebagai berikut. Ibu Pertiwi, memberi kecukupan sandang pangan, kasih rejeki pada insan berbakti, ibu pertiwi, ibu pertiwi, kasih sayang pada sesame, ibu pertiwi yang adil luhur budi, mari berbakti pada ibu pertiwi. Lagu Ibu Pertiwi sering digunakan untuk mengiringi langen tayub, sebagai lagu kehormatan, karena sifatnya yang khidmat, tenang, berwibawa, dan kontemplatif. Ibu Pertiwi atau tanah air harus dijunjung, dihargai dan dicintai agar jiwa nasionalisme kita tetap lekat. Rasa nasionalisme itu perlu dipupuk supaya kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara selama ini tetap terjamin dan lestari.
