Liputan KOLOM

Pak Jokowi Dan Sistem Pertahanan Dan Keamanan

Ditulis oleh Liputan68 pada 13 November 2020 ⏱️ 2 Menit Baca

Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp. 087864404347)

A. Menjaga Kedaulatan Wilayah Indonesia.

Kedaulatan wilayah negara Indonesia harus dijaga dengan cermat. Keselamatan rakyat merupakan cita-cita proklamasi yang harus diutamakan. Mulai dari Sabang sampai Merauke adalah wilayah Indonesia.

Sistem pertahanan dan keamanan sudah disadari sejak dari masyarakat desa. Misalnya adanya tradisi ronda kampung. Setiap warga desa mendapat giliran untuk menjaga keamanan di wilayah masing- masing. Kesadaran sistem keamanan tradisional ini sudah dikenal Pak Jokowi melalui siaran RRI Surakarta.

Rondha Kampung

Kenthongan iku tandha rondha kampung, aja wegah yo ayo kanca,

mbok aja padha lembon, sing tanggon kampunge aman, nyata adoh durjana, saiki wancine nglilir,

sing padha turu wancine nglilir.

Perlu tafsir penjelasan makna. Ketentraman masyarakat tercapai apabila kampung halamannya terasa aman. Ki Nartosabdo membuat lagu dengan judul Rondha Kampung. Sadar keamanan lingkungan dengan rondha kampung itu biasanya dilakukan secara bergilir. Di situ akan tercipta solidaritas di antara pendukungnya. Kebersamaan yang dijiwai rasa sepenanggungan akan menggugah untuk menyelesaikan problem bersama. Masalah berat akan terasa ringan, apabila ditangani dengan gotong royong.

Untuk mewujudkan keselamatan masyarakat, perlu adanya kesadaran tiap warga negara. Seorang pemimpin harus memahami konsep slamet. Kata slamet di tengah- tengah pergaulan orang Jawa sangat populer. Pengertian slamet adalah selamat dan terbebas dari segala aral rintangan.

Begitu populernya sehingga banyak orang Jawa memberi nama anaknya dengan kata slamet. Misalnya Slamet Sutrisno, Slamet Raharja, Slamet Riyadi, dan sebagainya. Maksud utama pemberian nama demikian adalah agar anaknya mendapat keselamatan dan kedamaian hidup. Dalam pergaulan sehari-hari sering terdengar, “Piye kabare? Rak pada slamet ta?”

Nilai tradisional ternyata bisa digunakan untuk mewujudkan ketentraman. Secara umum kata slamet digunakan untuk melukiskan keadaan, pemberian nama anak, menanyakan kabar seseorang dan menyebut suatu jenis upacara. Karena keselamatan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi manusia baik di dunia apalagi di akhirat.

Taburan salam damai menciptakan suasana sejuk. Seorang pemimpin harus memahami konsep sugeng. Apabila ada sebuah resepsi pada keluarga Jawa, dengan mudah di sana ditemukan jajaran kata “Sugeng Rawuh”, yang berarti selamat datang yang ditujukan kepada para tamu. Kata sugeng itu merupakan bentuk krama dari akat slamet sehingga terkesan lebih halus.

Durma

Dipun sami ambanting sariranira,

cegah dhahar lan guling, darapon sudaa, nepsu kang ngambra- ambra,

lerema ing tyas-ireki,

dadi sabarang,

karsanira lastari.

Ing pangawruh lahir batin aja mamang,

yen sira wus udani,

ing sariranira,

yen ana kang amurba, misesa ing alam kabir, dadi sabarang,

pakaryanira dadi.

Bener luput ala becik lawan begja,

cilaka apan saking,

ing badan priyangga,

dudu saka wong liya,

pramila den ngati-ati,

sakeh dirgama,

singgahana den eling.

Sikap untuk mewujudkan keamanan masyarakat itu didapat dalam lelagon gendhing Durma. Maka perlu adanya tafsir dan makna ajarannya : Perjuangan hidup memang tiada henti. Tembang di atas memberi pelajaran terhadap seseorang, agar selalu kerja keras. Tak boleh patah semangat. Kita harus selalu optimis.

Untuk sapaan hangat dan hormat, kata sugeng digunakan demikian, “Sugeng rawuhipun, Pak.” Dan pihak yang disapa akan menjawab singkat, “Injih, pengestunipun.” Kata sugeng memang dapat menciptakan suasana hangat, hormat dan hikmat. Kata sugeng untuk memberi nama orang misalnya Sugeng Santosa, Sugeng Hartono, Sugeng Pamungkas, dan lain-lain.

Perlu disadari tentang arti penting keselamatan masyarakat. Seorang pemimpin harus memahami konsep widada. Widada juga mengandung makna selamat. Hanya saja kata widada digunakan dalam suasana yang formal keistanaan serta lebih estetis dan puitis (bahasa Kawi). Bumi kelahiran, tanah tumpah darah, dan rasa kebangsaan mendapat apresiasi positif di mata rakyat Jawa. Ki Nartosabdo mengungkapkan rasa cinta tanah air itu dalam bentuk lagu Ketawang Ibu Pertiwi demikian:

Ibu pertiwi

Paring boga lan sandhang kang murakabi,

paring rejeki manungsa kang bekti, ibu pertiwi, ibu pertiwi, sih sutresna mring sesami,

ibu pertiwi kang adil luhuring budi, ayo sungkem mring ibu pertiwi.

Secara umum tembang di atas dapat ditafsir sebagai berikut. Ibu Pertiwi, memberi kecukupan sandang pangan, kasih rejeki pada insan berbakti, ibu pertiwi, ibu pertiwi, kasih sayang pada sesame, ibu pertiwi yang adil luhur budi, mari berbakti pada ibu pertiwi. Lagu Ibu Pertiwi sering digunakan untuk mengiringi langen tayub, sebagai lagu kehormatan, karena sifatnya yang khidmat, tenang, berwibawa, dan kontemplatif. Ibu Pertiwi atau tanah air harus dijunjung, dihargai dan dicintai agar jiwa nasionalisme kita tetap lekat. Rasa nasionalisme itu perlu dipupuk supaya kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara selama ini tetap terjamin dan lestari.

Kata widada yang bernilai estetis dan puitis latas digunakan untuk memberi nama anak laki-laki, misalnya Jatmika Widada, Budi Widada, Jaka Widada, Endar Widada, dan sebagainya. Semuanya bermaksud agar anaknya mendapatkan keselamatan dan kewibawaan.

Selain untuk nama orang, percakapan resmi dalam istana serta upacara, kata widada tidak digunakan dalam kehidupan sehari- hari. Untuk kata keseharian orang lebih biasa dengan istilah slamet yang merupakan tataran bahasa ngoko. Usaha untuk mewajibkan ketentraman masyarakat dengan mengusahakan stabilitas nasional yang kokoh.

B. Mewujudkan Ketentraman Masyarakat.

Wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Seorang pemimpin harus memahami konsep basuki. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur menggunakan semboyan “Jer Basuki Mawa Beya”. Artinya adalah cita-cita untuk memperoleh kesejahteraan pasti memerlukan biaya. Biaya di sini bisa berarti tenaga, semangat dan kemauan.

Beberapa penghargaan yang pernah diterima oleh Pak Jokowi. Tahun 2008 dari Majalah Tempo. Jokowi 10 Tokoh 2008. Delgosea : Kemitraan Pemerintahan Lokal Demokratis Asia Tenggara : relokasi PKL. 12 Agustus 2011 : Penghargaan Bintang Jasa Utama; 2013 : Walikota terbaik ke 3 Dunia Solo Sebagai Kota Seni Budaya Pariwisata; Marketer at the year 2012 oleh Marhphes Conference 2013, Marketing: Into Innovation and Technology; 2014 : Bintang RI Adipurna, Bintang Mahaputra Adipurna, Bintang Humanity, Bintang Democracy Upholder 1st Class, Bintang Culture Parama Dharma, Bintang Bhayangkara Utama, Bintang Sakti, Bintang Bharma, Bintang Yudha Dharma Utama.

Di samping menunjuk pada soal kesejahteraan, kata basuki juga mengandung makna keselamatan. Misalnya puji memuji: manggiha basuki, mugi kalis ing sambikala. Artinya saling mendoakan agar mendapat keselamatan terbebas dari segala gangguan. Basuki, lestari, widada, slamet, sugeng, yuwana, raharja, rahayu, semuanya mengandung makna harapan akan keselamatan. Nama anak yang menggunakan istilah basuki di Jawa juga sangat banyak.

BACA JUGABABAD BLORA

Sinom

Ywa sira duwe pangira, Lamun wong dadi prajurit,

Karyane abot priyangga, Wruhanta sagung pakarti,

Kabeh dunya puniki,

Tan ana prabedanipun,

Kang dagang neng lautan, Miwah kang among tetani,

Sumawana kang suwita ing narendra.

 

Myang kang tapa jroning guwa,

Kang manusup ing asepi,Lakone padha kewala, Awit iku dadi margi, Mrih katekaning kapti,

Sapangkate pandumipun,

Nanging sarananira,

Mantep temen lan taberi, Samektane ingaranan laksitarja.

Tembang sinom di atas memberi gambaran tentang kerelaan prajurit untuk mewujudkan ketentraman masyarakat. Taburkanlah salam damai ke segala penjuru dunia. Seorang pemimpin harus memahami konsep rahayu. Setiap kali MC bahasa Jawa mau mengakhiri pembicaraan, senantiasa terdengar ungkapan: mugi rahayu ingkang sami pinanggih. Artinya semoga selalu bertemu dalam keselamatan. Rahayu di sini juga mengandung makna doa selamat.

Ayu-hayu-rahayu adalah kondisi yang memungkinkan adalah keselamatan. Wanita ayu adalah wanita yang bisa menghadirkan suasana keselamatan, kesejukan dan kedamaian. Demikian juga kata hayu-dirgahayu adalah ungkapan yang menghendaki datangnya keselamatan.

Untuk anak putri sering diberi nama rahayu. Misalnya Nanik Rahayu, Sulastri Rahayu, Prapti Rahayu dan Sulistya Rahayu. Harapannya agar si anak mendapat kecantikan fisik dan kecantikan batin, sehingga kehadirannya membawa keindahan dan kedamaian.

Suara gamelan menurut Pak Jokowi bisa digunakan untuk mewujudkan ketentraman masyarakat. Seorang pemimpin harus memahami konsep wilujeng. Salah satu gendhing yang terkenal dalam kerawitan yaitu gendhing ladrang wilujeng. Lagu ini memberi suasana damai, ayem, tentrem, dan tenang. Ladrang wilujeng ini cocok untuk mengisi suasana santai namun agung dan hikmat.

Kata wilujeng juga dapat digunakan untuk sapaan hangat bernada halus, “Kepripun Mas kabaripun?” Maka akan dijawab, “Pangestunipun, dhawah wilujeng.” Secara umum kata wilujeng bermakna selamat juga. Hanya saja kata ini jarang digunakan untuk memberi nama anak. Wilujengan berarti selamatan, yang sejajar maknanya dengan slametan.

Meskipun nguri -uri budaya Jawa, sikap keindonesiaan rakyat Jawa tidak perlu diragukan lagi. Aksi disintegrasi tidak pernah bersemi dalam dada rakyat Jawa Tengah. Lagu Santi Mulya karya Ki Nartosabdo menegaskan hal demikian :

Santi mulya, santi mulya

luhur mulyaning negara Indonesia mesthi jaya

tarlen saking golonging sedya tama

manunggal mrih santosa cipta rasa budi karsa

gumelare memayu hayuning bangsa

basuki yuwana sirna papa sangsaya

sampurnaning bebrayan gung Pancasila

mangambar gandanya rum

Indonesia langgeng mardika

Harapan untuk mewujudkan ketentraman sosial selalu diusahakan dengan sungguh- sungguh oleh Pak Jokowi. Debgan berkumandangnya gending santi mulya itu dapat ditafsir sebagai berikut : Puji mulia, puji mulia, luhur kemuliaan Negara, Indonesia pasti jaya, tiada lain dari tekad utama, manunggal biar sentosa, cipta rasa budi karsa, terhampar kesejahteraan bangsa, Selamat sirna kesengsaraan, kesempurnaan masyarakat Pancasila, semerbak wangi harum, Indonesia lestari merdeka.

Kelestarian, kejayaan dan kemakmuran Indonesia sebagai bangsa mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari rakyat Jawa. Meskipun demikian orang Jawa tidak begitu ekstrim memegang sifat kedaerahan. Terbukti bahasa Indonesaia bisa diterima oleh orang Jawa sebagai bahasa nasional kenegaraan.

Perwujudan sistem pertahanan dan keamanan nasional memang idealnya melibatkan sekalian warga. Sehingga tercipta rumangsa melu handarbeni, rumangsa wajib hangrungkebi, mulat sarira hangrasa wani. Ungkapan ini sesuai benar dengan sistem pertahanan rakyat semesta. Pelaksanaannya bersifat aktif dan partisipatif. Inilah wujud pertahanan keamanan yang cocok dengan suasana kepribadian negara Indonesia.

(LM-01)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian