Sejarah Kabupaten Grobogan

Tekad suci menjadi modal utama membangun rumah tangga. Orang menikah harus mempelajari seluk beluk kepribadian. Garwa berarti sigaraning nyawa, berarti belahan jiwa yang saling melengkapi. Nilai etis filosofis tata cara pernikahan Jawi baik kiranya sebagai bahan refleksi. Butir- butir kearifan lokal yang tak pernah lekang oleh segala perubahan jaman. Ajaran simbolis dalam Babad Ila-ila dapat digunakan sebagai kaca benggala buat para mempelai yang mengawali hidup baru.

Dhandhanggula

Pepaliku ajinen mbrekati, tur Selamet sarta kuwarasan,
pepali iku mangkene:
aja agawe angkuh,
aja ladak lan aja jail,
aja ati serakah,
lan aja celimut,
lan aja mburu aleman, aja lada wong ladak pan gelis mati, lan aja ati ngiwa.

Padha sira titirua kaki, jalma patrap iku kasihana, iku arahen sawabe, ambrekati wong iku, nora kena sira wadani, tiniru iku kena, pambegane alus, yen angucap ngarah- arah,
yen alungguh nora pegat ngati -ati,
nora gelem gumampang.

Sapa sapa wong kang gawe becik,
nora wurung mbenjang manggih arja, tekeng saturun- turune, yen sira dadi agung, amarintah marang wong cilik,
aja sedaya -daya,
mundhak ora tulus,
nggonmu dadi pangauban,
aja nacah, marentaha kang patitis, nganggoa tepa- tepa.

Terjemahan:

Pepaliku hargailah supaya memberkahi,
lagi pula selamat, serta sehat,
pepali itu seperti berikut.

jangan berbuat angkuh, jangan bengis dan jangan jahil jangan hati serakah, dan jangan panjang tangan, jangan memburu pujian, jangan mangku orang angkuh lekas mati, dan jangan cenderung kekiri.

Hendaklah meniru kaki, janma susila, itu sayangilah,
caharilah sawabnya !
memberi berkah orang itu,
tidak boleh kau mencelanya,
lebih baik menirunya,
pendiriannya halus,
jika mengucap hati -hati, jika duduk tiada putus -putusnya berhati- hati,
tidak suka serampangan

Barang siapa yang berbuat baik,
tiada urung kelak menemui bahagia,
sampai kepada keturunannya,
jika kamu menjadi orang besar, memerintah
orang kecil, jangan keras-keras,
nantinya tak akan tetap, kamu menjadi pelindung, jangan sembarangan perintahlah yang tepat, pakailah kira- kira, dengan menggunakan perasaan.

Ki Ageng Sela dianggap leluhur Kraton Mataram yang sakti mandraguna. Masyarakat Jawa percaya bahwa beliau dapat menangkap petir. Para petani merasa terlindungi dari bahaya petir manakala menyebut nama Ki Ageng Sela. Makamnya di Purwodadi Jawa Tengah. Salah satu warisan Ki Ageng Tarub adalah tradisi memasang tarub pada saat perhelatan pernikahan orang Jawa. Tarub dapat berarti atap yang tersusun dari bleketepe. Bleketepe berasal dari kata ketepe yang berarti anyaman daun kelapa satu tangkai. Ketepe ditata mengelilingi rumah secara penuh atau dalam bahasa Jawa di’blek’, kemudian disebut bleketepe. Jadi tarub adalah bleketepe yang ditata dan disusun secara beraturan utamanya dipakai sebagai atap, dan juga dipakai sebagai pagar maupun dinding pembatas.

Pada tanggal 12 Desember 2015, tepatnya pada hari Sab-tu Kliwon segenap mahasiswa Yogyakarta melakukan kunjungan di makam Ki Ageng Tarub dan Ki Ageng Selo di Purwodadi, Grobogan, Jawa Tengah. Mereka diasuh oleh dosen pembimbing yang diterima langsung oleh juru kunci KRT Hastono Hadipuro, abdi dalem Karaton Surakarta Hadiningrat. Dengan melakukan sarasehan mereka membahas sejarah dan warisan Ki Ageng Tarub dan Ki Ageng Selo. Kegiatan ini sekaligus membuktikan bahwa generasi muda tetap melestarikan sejarah leluhur nya. Eling marang bibit kawite.

D. Daftar Bupati Grobogan yang Menjaga Peradaban Agung Jawa.

1. Adipati Martapura 1725–1746.
Dilantik pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Amangkurat Jawi, raja Mataram Kartasura.

2. KRT Suryonegoro 1746-1761. Dilantik pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono II, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

3. KRT Kartodirjo 1761-1768. Dilantik pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono III, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

4. KRT Yudonegoro 1768-1775. Dilantik pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono III, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

5. KRT Surokerto 1775-1787. Dilantik pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono III, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

6. KRT Yudokerto 1787-1795. Dilantik pada masa pemerin-tahan Sri Susuhunan Paku Buwono IV, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

7. KRT Sutoyudo 1795-1801. Dilantik pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono IV, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

8. KRT Kartoyudo 1801-1815. Dilantik pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono IV, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

9. KRT Sosronagoro I 1815-1840. Dilantik pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono IV, raja kraton Sura-karta Hadiningrat.

10. KRT Sosronagoro II 1840-1864. Dilantik pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono VII, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

11. KRT Martonagoro 1864-1875. Dilantik pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono IX, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

12. KRT Yudohadinagoro 1875-1902. Dilantik pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono IX, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

13. KRT Haryo Kusumo 1902-1908. Dilantik pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono X, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

14. KRT Haryo Sunarto 1908-1933. Dilantik pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono X, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

15. KRT Sukarman Martonagoro 1933-1944. Dilantik pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono X, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

16. KRT Sugeng Hadinagoro 1944-1946. Dilantik pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono XI, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

17. Raden Kaseno 1946-1948. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

18. Raden Prawoto Sudibyo 1948-1949. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

19. R Subroto 1949-1950. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

20. R Sadono 1950-1954. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

21. Haji Andi Patokohi 1954-1957. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

22. H Abdul Hamid 1957-1958. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

23. R Upoyo Prawirodilogo 1958-1964. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

24. Supangat 1964-1967. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

25. R Marjaban 1967-1970. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

26. R Umar Khasan 1970-1974. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

27. Kolonel Soegiri 1974-1986. Dilantik pada masa pemerintah-an Presiden Soeharto.

28. Kolonel Mulyono 1986-1996. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

29. Kolonel Suwito 1996-2001. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

30. Agus Supriyanto, SE 2001-2011. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Megawati.

31. Bambang Pudjiyono, SH 2011-2016. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

32. Sri Sumarni 2016-2021. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Kabupaten Grobogan yang beribukota di Purwodadi sesungguhnya memiliki sejarah yang sangat panjang. Leluhur ma-syarakat Grobogan telah melakukan pembukaan atas peradaban tanah Jawa. Semua leluhur raja Jawa berasal dari kabupaten Grobogan, sebagai wilayah yang mendapat julukan panjang punjung pasir wukir. Panjang dawa pocapane, punjung dhuwur kawibawane, pasir samodra wukir gunung. Pratandha yen negara kang ngungkurake pegunungan, nengenaken pasabinan, ngiringaken benawi, mangku bandaran agung.

(LM-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *