Persahabatan Dua Bapak Bangsa Presiden Ho Chi Minh dan Presiden Soekarno

Ho Chi Minh & Soekarno

Ho Chi Minh dan Soekarno sama-sama dipengaruhi paham kiri (marxisme). Ho Chi Minh berpaham komunis, Soekarno berpaham sosialis (Marhaenisme). Keduanya sama-sama anti kapitalis, kolonialisme dan imprealisme.

Ho Chi Minh mengunjungi Indonesia pada Februari 1958. Kunjungan ini memperkokoh hubungan Indonesia-Vietnam sebagai “Comrades in Arms”. Ho Chi Minh ikut meresmikan Institut Teknologi Bandung (ITB). Ho Chi Minh mendapat gelar Doctor Honaris Causa bidang Hukum dari Universitas Padjajaran (UNPAD) Bandung.

Soekarno membalas kunjungan Ho Chi Min pada 24-29 Juni 1959. Dalam kunjungan ini, Soekarno menekankan pentingnya tidak menggunakan istilah minoritas dan mayoritas dalam politik.

Soekarno mengagumi Strategi Pertahanan Nasional Vietnam. “Pertahanan terbaik itu adalah pertahanan yang mempergunakan pengetahuan dan pengalaman-pengalaman dari perjuangan rakyat bangsa itu sendiri”, ungkap Bung Karno.

Ada kisah menarik saat Bung Karno bertemu dengan Ho Chi Minh di Hanoi saat itu. Seperti diceritakan Bung Karno, saat itu ada delegasi dari golongan minoritas hendak bertatap muka dengan Bung Karno. Ho Chi Minh kemudian menyampaikannya kepada Bung Karno, “Bung Karno, ini adalah delegasi dari minoritas, ingin bertemu muka dengan Bung Karno”, dengan lantang Bung Karno menjawab, “sebetulnya di Indonesia kita tidak mengenal minoritas.”

Kepada Ho Chi Minh, Bung Karno menjelaskan, Indonesia tidak mengenal konsep minoritas. Yang ada hanya suku-suku. Dan, kata Bung Karno, tak satupun suku itu yang boleh disebut minoritas. Bahkan, Bung Karno menegaskan, peranakan Tionghoa pun bukanlah minoritas. “Engkau adalah bangsa Indonesia, kita semuanya adalah bangsa
lndonesia,” kata Bung Karno.

Bagi Bung Karno, ketika ada istilah minoritas, maka pasti ada mayoritas. Dengan sendirinya, pasti terjadi eksploitasi dari pihak mayoritas terhadap kalangan minoritas. Dan sebaliknya, karena dieksploitasi, pasti ada kebencian minoritas terhadap mayoritas.
Mendengar jawaban Bung Karno, Ho Chi Minh hanya berkata: “Ya, that is better.“

Pesan Paman Ho

Di Parlemen Indonesia, Ho Chi Minh menyampaikan dukungan Vietnam kepada Indonesia untuk mengambil kembali Papua dan Papua Barat dari Belanda. Di ITB, Ho Chi Minh menekankan pentingnya kesempatan yang sama antara anak laki-laki dan perempuan untuk mendapat pendidikan.

Di UNPAD, Ho Chi Minh menekankan pentingnya para orang terdidik (sarjana) untuk tidak meninggalkan rakyat. Pada saat diresmikan ITB memiliki 4000 mahasiswa (pelajar laki-laki) dan hanya 600 mahasiswa (pelajar perempuan). Ia mengatakan perbandingan jumlah mahasiswa dan mahasiswa di Vietnam Utara hampir setara (atau 50 persen).

Kisah Tertinggal: Sepatu Paman Ho

Ho Chi Minh adalah orang yang sangat bersahaja. Hidup sederhana, hanya memakai sendal karet dan tidak menikah seumur hidupnya. Saat mengunjungi Istana Negara, Ho Chi Minh tetap menggunakan sendal karet. Megawati Soekarno Putri bertanya kepada Soekarno, mengapa pejabat penting seperti Ho Chi Minh tidak memakai sepatu. “…Nanti kalau Vietnam sudah menang, kamu (Megawati) kirim sepatu buat saya ya”.

Ho Chi Minh meninggal dunia pada 2 September 1969. Dalam kematiannya, ada dua yang Ia tidak berhasil lihat: pertama, Unifikasi Vietnam Utara dan Vietnam Selatan. Secara resmi Vietnam Utara mengalahkan Vietnam Selatan yang didukung AS pada tahun 1973. Empat tahun setelah kematian Paman Ho. Kedua, Dia tidak sempat menerima kiriman sepatu dari Megawati Soekarnoputri.

(LM-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *