Perbedaan Rapid Test Antigen dan Antibody

Jakarta, Liputan68.com – Angka kasus COVID-19 masih terus mengalami lonjakan hingga hari ini (16/12). Di Indonesia sendiri, kasus COVID-19 berada di angka 337.000 kasus. Kondisi ini membuat pemerintah terus mengingatkan masyarakat untuk tetap menjalankan protokol kesehatan, dengan selalu menjaga jarak, mencuci tangan, dan juga menggunakan masker jika diperlukan keluar rumah. Selain menjalankan protokol kesehatan, tidak ada salahnya dilakukan pemeriksaan untuk memastikan kondisi kesehatan terhindar dari virus corona.

Ada berbagai pemeriksaan yang bisa kamu jalankan untuk mendeteksi virus SARS-CoV-2 ini. Kamu bisa melakukan rapid test, TCM, hingga PCR. Bahkan, rapid test sendiri memiliki dua pemeriksaan yang berbeda, yaitu rapid test antigen dan rapid test antibodi. Sebaiknya ketahui lebih banyak mengenai kedua jenis rapid test ini agar tidak salah dalam melakukan pemeriksaan.

Untuk mendeteksi virus corona dalam tubuh, ada berbagai pilihan pemeriksaan yang bisa kamu lakukan. Mulai dari rapid test, TCM, hingga PCR. Namun, saat ini penggunaan rapid test meningkat saat aktivitas sebagian orang mulai kembali normal. Rapid test dinilai mampu mengeluarkan hasil pemeriksaan lebih cepat dibandingkan pemeriksaan lain. Selain itu, rapid test memiliki harga yang lebih terjangkau bagi sebagian masyarakat.

Namun, sebaiknya jangan salah kaprah dalam mengartikan rapid test. Pemeriksaan rapid test sendiri memiliki dua jenis yang berbeda, yaitu rapid test antigen dan juga rapid test antibodi. Tidak ada salahnya untuk mengenali perbedaan antara rapid test antigen dan rapid test antibodi.

1.Rapid Test Antibodi

Rapid test antibodi merupakan rapid test yang banyak digunakan belakangan ini. Keunggulan rapid test antibodi adalah cepatnya hasil yang didapat oleh pengguna. Dalam proses rapid test antibodi menggunakan metode untuk mendeteksi antibodi, yaitu IgM dan IgG yang dapat diproduksi oleh tubuh saat melawan virus corona. Antibodi hanya akan terlihat ketika tubuh mengalami paparan virus corona.

Namun, pembentukan antibodi dalam tubuh memerlukan waktu yang cukup panjang, mulai dari hitungan hari hingga minggu. Kondisi ini yang membuat rapid test antibodi dinilai tidak terlalu efektif dalam mendeteksi virus corona. Bahkan, WHO tidak menyarankan rapid test antibodi untuk mendeteksi virus corona pada masyarakat.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *