Pada musim penghujan jika curah hujannya sudah tinggi, Bengawan Solo selalu banjir. Banjir yang ditimbulkan sampai merendam desa-desa di sekitar bengawan. Sawah berhektar-hektar rusak karena diterjang banjir. Hewan-hewan peliharaan banyak yang mati, penduduknya harus mengungsi karena rumah-rumah banyak yang rusak. Kerugian yang ditimbulkan akibat banjir bisa mencapai jutaan rupiah. Di bawah ini beberapa daerah di sepanjang aliran Bengawan Solo yang dianggap keramat.
1. Kerek
Di sebelah utara Kota Ngawi, ada tempat yang dinamakan Kerek. Disebut Kerek, karena jika ada perahu yang mudik, perahunya harus dituntun memakai tali tambang dan ditarik oleh orang yang berjalan di pinggir bengawan. Sebab aliran airnya deras sekali dan posisi bengawan yang sangat miring.
2. Kedung Maya
Di sepanjang aliran Bengawan Solo ada lagi sebuah desa, namanya desa Kuwung. Pemimpinnya bernama Kyai Ageng Kuwung. Pada suatu hari Kyai Ageng sedang berjalan-jalan, melihat kalau di sungai Kurung ada anak laki-laki yang hanyut, tersangkut pada pepohonan. Oleh Kyai Ageng anak tersebut ditolong, ternyata masih hidup. Anak itu kemudian dijadikan penggembala di rumahnya, diberi tugas menggembala kerbau. Karena waktu ditemukan tersangkut (kesangsang, Jw) maka dia diberi nama Jaka Sangsang. Sebenarnya Jaka Sangsang adalah anak angkat mBok Randha dari Jambe, wajahnya tampan.
Hewan peliharaan Kyai Ageng banyak sekali, sehingga penggembalanya juga banyak. Karena jumlah kerbaunya banyak maka kalau sedang berendam bersama-sama akan terlihat seperti semut. Oleh karena itu bekas tempat yang dipakai untuk berendam menjadi sungai, dinamakan sungai Semut.
Diceritakan, pada suatu malam Jaka Sangsang dan teman-temannya tidur di pendapa Kyai Ageng. Di tengah malam Dewi Maya, putri Kyai Ageng Kuwung kebetulan keluar dan melihat jika dari tubuh Jaka Sangsang memancarkan cahaya terang. Sang Dewi lalu mendekatinya. Kain yang dipakai Jaka Sangsang kemudian diikat. Esok paginya Dewi bilang kepada Kyai Ageng, minta supaya dinikahkan dengan anak penggembala yang kainnya sudah diikat.
Kyai Ageng lalu memanggil seluruh penggembalanya. Setelah berkumpul, diteliti. Kain yang ada ikatannya, yaitu yang dipakai oleh Jaka Sangsang. Karena Jaka Sangsang sudah dewasa maka langsung dinikahkan dengan Dewi Maya. Tetapi Kyai Ageng merasa malu karena putrinya hanya mendapatkan seorang penggembala. Karena saking malunya Jaka Sangsang hendak dipisahkan dengan Dewi Maya. Kyai Ageng mendapat akal. Jaka Sangsang disuruh mengabdi di Kraton Pajang. Terlaksana, pada suatu hari Jaka Sangsang diberi surat oleh Kyai Ageng supaya diantarkan ke Pajang.
Ringkas cerita di Pajang pengabdian Jaka Sangsang diterima. Karena wajahnya yang tampan maka Jaka Sangsang diambil menjadi menantu, dinikahkan dengan sang putri yang cantik jelita. Oleh karena sudah lama berada di Pajang, Jaka Sangsang berpamitan dengan istrinya, untuk pulang ke kampung halamannya di desa Kuwung. Sang putri pun mengijinkan. Dewi Maya yang sudah lama ditinggal suaminya, pada suatu hari pergi dari rumah hendak menyusul ke Pajang.
Jalannya harus menyeberangi Bengawan Solo yang pada waktu itu airnya sedang surut, sehingga bisa diseberangi. Jalannya baru sampai di tengah Bengawan Dewi Maya terpeleset jatuh, hanyut dan tenggelam di bagian sungai yang dalam. Hal ini yang menjadi penyebab kematiannya. Pada saat itu perjalanan Jaka Sangsang sudah sampai di dekat kedhung, melihat ada kerumunan orang. Jaka Sangsang melongok ke kedhung, dan melihat Dewi Maya melambai-lambaikan tangannya minta pertolongan.
Jaka Sangsang pun langsung menceburkan diri ke dalam kedhung untuk menolong, tetapi tidak bisa bahkan ikut tenggelam dan meninggal. Putri Pajang yang sudah lama ditinggal suaminya, segera menyusul ke desa Kuwung. Ketika perjalanannya sampai di dekat kedhung ada yang bilang, jika Jaka Sangsang mati tercebur ke dalam kedhung. Mendengar laporan itu, Sang Putri pun langsung menceburkan dirinya ke dalam kedhung sehingga meninggal.
Dengan adanya kejadian ini, maka kedhung tersebut diberi nama Kedhung Maya dan menjadi tempat yang keramat. Jika ada perahu yang lewat di tempat itu, para penumpangnya harus diam, tidak boleh berbicara. Sebab jika ada yang berbicara apalagi berbicara sembarangan, perahunya pasti akan tenggelam.
3. Bengawan Guwa Sentana
Selain Kedhung Maya masih ada lagi tempat yang keramat, namanya Bengawan Guwa Sentana. Disebut begitu sebab aliran air bengawan membentur batu besar. Di atas batu ada guanya ; di atas gua ada kuburannya. Tempat tersebut merupakan petilasan Kanjeng Sunan Bonang. Jika ada perahu yang melewati tempat ini, para penumpangnya tidak boleh berbicara dengan keras. Jika dilanggar, perahunya pasti akan celaka yaitu tenggelam atau pecah.
Diceritakan, di puncak gunung Bonang ada seorang pimpinan perampok, namanya Blacak Ngilo. Blacak Ngilo terkenal akan kesaktiannya. Para penduduk Bonang dan sekitarnya merasa sedih, sebab selalu dicuri harta bendanya. Kanjeng Sunan Bonang mendengar keluh kesah masyarakat desa yang selalu diganggu dan dijarah harta bendanya oleh anak buah Blacak Ngilo.
Pada suatu hari Kanjeng Sunan Bonang menemui Blacak Ngilo. Memberi perintah padanya agar menghentikan tindakannya yang sudah merugikan penduduk desa. Blacak Ngilo tidak mau menuruti perintah Kanjeng Sunan, tetapi malah marah-marah dan mengajak adu kesaktian. Ajakan dari Blacak Ngilo pun dituruti oleh Sunan Bonang. Saat itu Blacak Ngilo memuja gandhen menjadi jago.
Kanjeng Sunan memuja palu menjadi jago. Kemudian diadu. Jago Blacak Ngilo kalah, dan berubah ke wujud aslinya. Bermacam-macam kesaktian yang dikeluarkannya, tetapi selalu kalah dengan kesaktian Kanjeng Sunan. Akhirnya keduanya mengadu kesaktian, Blacak Ngilo mengajak main petak umpet. Kanjeng Sunan disuruh mencari dirinya. Blacak Ngilo bersembunyi dengan ambles ke bumi, munculnya di pinggir Bengawan Solo.
Tempat munculnya Blacak Ngilo menjadi gua, yang kemudian dinamakan Gua Santana. Waktu Blacak Ngilo muncul, Kanjeng Sunan sudah berada di atas gua yang sekarang menjadi kuburan. Karena Blacak Ngilo sudah merasa kalah sakti dan kelelahan, akhirnya menyerah (sumendhe) dan mengikuti keinginan Kanjeng Sunan Bonang. Tempat itu sekarang dinamakan desa Mendhen.
4. Bengawan Pasar Sore
Di desa Jipang distrik Panolan, Kabupaten Blora, ada tempat bekas kraton Adipati Jipang bernama Arya Panangsang. Kratonnya terletak di pinggir Bengawan Solo. Di sebelah barat kraton, Bengawan Solo dibedah dan dibuat bengawan baru diberi nama Bengawan Pasar Sore.
Aliran air dari bengawan sampai ke sungai Kecing, kemudian menyatu lagi dengan Bengawan Solo. Sehingga kratonnya dikelilingi bengawan. Semasa hidupnya Arya Panangsang pernah membuat batu yang besar serupa gong. Batu tersebut diceburkan ke Bengawan Pasar Sore. Perahu-perahu yang lewat di tempat itu harus berhati-hati. Sebab jika sampai menyentuh batu gong, perahunya pasti pecah.
Adapun Arya Panangsang adalah putra dari Pangeran Seda Lepen (putra Raden Patah, Sultan Demak). Pangeran Seda Lepen wafat ketika masih menjadi Sultan di Demak, dibunuh oleh putra Pangeran Trenggono yaitu Pangeran Prawata. Karena sudah membunuh ayahandanya yaitu Pangeran Seda Lepen, maka Pangeran Prawata lalu dibunuh oleh Arya Panangsang.
Tetapi hati Arya Panangsang masih belum lega hatinya, dan terus memburu putra-putra Pangeran Trenggana. Tercapailah keinginannya dapat membunuh suami Ratu Kalinyamat. Selanjutnya ingin membunuh Sultan Pajang, tetapi tidak bisa. Ratu Kalinyamat dan istri Sultan Pajang adalah putri Sultan Trenggana. Sultan mengetahui niat jahat dari Arya Panangsang.
Oleh karena itu Jipang diserang oleh Pajang, dan terjadilah perang. Sebelum peperangan dimulai terdengar suara, siapa yang berani menyeberangi Bengawan Pasar Sore pasti akan kalah perang. Karena sifat dari Arya Panangsang yang berangasan, Bengawan Pasar Sore diseberanginya. Sampai di seberang Bengawan Arya Panangsang ditombak oleh Ki Ageng Pemanahan, mengenai perut sehingga ususnya terburai keluar.
Usus yang menjuntai disampirkan ke kerisnya, tetapi Arya Panangsang belum juga mati, malah mengamuk sejadi-jadinya membuat prajurit Pajang banyak yang mati. Namun karena kudanya melonjak-lonjak terus, maka kerisnya bergerak-gerak ke atas dan mengenai usus. Ususnya terpotong, akhirnya Arya Panangsang jatuh dan mati. Prajurit Pajang kemudian bersorak-sorai karena memenangkan pertempuran.
5. Tinggang
Di Bengawan Pasar Sore ada bagian yang dalam atau kedhung. Namanya kedhung Braja yang mendapat aliran air dari sungai Tinggang. Mata airnya berasal dari gunung Ngancik. Dinamakan Tinggang, menurut cerita pada jaman dahulu ada raksasa yang mati terkena panah Kyai Ageng Prange. Raksasa mati dengan kaki terentang. Luluhnya menjadi Tinggang. Di tempat tersebut masih terdapat tulang yang besar-besar, mungkin tulang raksasa.
6. Bengawan Getas
Setelah Bengawan Pasar Sore, ada tempat yang juga keramat. Yaitu di tengah-tengah Bengawan Solo, di situ terdapat dua buah pulau yang berjajar. Jika ada perahu lewat tidak hati-hati, dan menabrak pulau tersebut perahunya bisa pecah atau tenggelam. Sebab jika airnya pasang, pulau itu tidak kelihatan karena tertutup air.
7. Kedhung Wer Pitu
Di Bengawan Getas juga ada kedhungnya, namanya Kedhung Wer Pitu. Di situ ada pulaunya, kecil dan tidak terlihat karena tenggelam. Disebut kedhung Wer Pitu, karena pada jaman dahulu jika ada perahu yang lewat di situ, syaratnya harus berputar tujuh kali.
8. Sobrah Pengantin
Di pedukuhan Semanding desa Kemiri, ada dua batang pohon besar yang tumbuh berjajar di tengah-tengah Bengawan Solo. Tempat tersebut dinamakan Sobrah Pengantin. Menurut cerita, pada jaman dahulu ada sepasang pengantin yang menyeberang di tempat itu dan hanyut terbawa arus, akhirnya hilang.
Dengan hilangnya sepasang pengantin, tumbuhlah dua batang pohon yang berjajar. Ada yang mengira jika pohon tersebut terjadi dari pengantin yang hilang. Para tukang perahu jika sedang lewat di tempat itu, harus diam tidak boleh berbincang-bincang. Jika melanggar, perahunya pasti menemui celaka.
9. Kedhung Waliyan
Di dekat Bengawan Solo ada desa bernama Pethak. Di desa ini ada kedhungnya, namanya Kedhung Waliyan. Biasanya di kedhung ada penunggunya yang berwujud setan gundul bernama Kyai Singajaya. Tinggalnya di pohon asam besar di pinggir kedhung. Pohon asam tersebut menjadi tempat pemujaan bagi orang-orang yang ingin kaya. Selain di pohon asam.
Kyai Singajaya tinggal di pohon ingas yang tumbuh di pinggir bengawan di desa Majenon. Pohon tersebut juga dijadikan tempat pemujaan, yaitu pada saat orang mempunyai hajat dengan menabuh gamelan harus memberi sesaji tempat itu. Jika tidak memberi sesaji, orang yang punya hajat pasti mendapatkan celaka.
10. Kedhung Srungga
Bengawan Solo yang mengalir di dekat dusun Kampak desa Tanggir, ada kedhungnya disebut kedhung Srungga. Di kedhung ini ada seekor buaya yang besar. Buaya tersebut kejatuhan batu yang besar sehingga tidak bisa bergerak. Selanjutnya buaya ini menjadi penunggu kedhung. Jika musim tanam tiba dan terdengar suara gemuruh dari kedhung tersebut, menurut kepercayaan para petani di desa ini, maka hasil panennya akan berlimpah.
11. Makam Tulung
Di sebelah barat kota Bojonegoro, letaknya di pinggir Bengawan Solo, ada desa namanya Tulung. Di desa ini ada makam yang dikeramatkan. Adapun yang dimakamkan di tempat ini bergelar Gusti Raden. Yaitu putra Pajang yang kalah perang ketika melawan Mataram. Adapun pantangan bagi penduduk desa Tulung yaitu tidak boleh minum-minuman keras, semacam arak (ciu) jika dilanggar maka orang tersebut akan gila dan tidak lama kemudian akan meninggal dunia.
12. Makam Buyut Kencana
Sebelah timur laut dari kota Banjarnegara di pinggir Bengawan Solo bagian utara terdapat gunung kecil, termasuk dalam wilayah desa Banjarsari. Di tempat ini terdapat Makam Buyut Kencana disebut juga makam Buyut Sanga. Sebab di makam ini, terdapat sembilan makam yang berjajar-jajar. Menurut cerita, yang dimakamkan di tempat ini adalah putra Pajang yang pergi meninggalkan kerajaan. Perginya bersama dengan seluruh keluarganya dan tinggal di dusun Banjarsari sampai meninggalnya.
Makam ini setiap tahun selalu diziarahi oleh penduduk desa Banjarsari : untuk meminta sawab dan berkahnya, supaya selamat dan bahagia hidupnya. Adapun makam Buyut Hirapati diziarahi oleh orang-orang yang menjalankan perahu supaya tidak diganggu oleh buaya. Asal mula makam Buyut Hirapati diziarahi oleh orang yang menjalankan perahu, menurut cerita seperti tersebut di bawah ini.
Pada suatu hari Nyai Buyut Hirapati diantar oleh anaknya untuk mencuci beras di bengawan. Ketika sedang mencuci beras Nyai Buyut diterkam buaya, dan dibawa masuk ke kedhung Depis desa Sima. Jauhnya dari dusun Banjarsari kira-kira 6 km. Anaknya melihat jika ibunya dibawa buaya, lalu pulang dan memberitahu ayahnya yaitu Kyai Buyut Hirapati. Ki Buyut mendengar laporan anaknya, bergegas menuju ke bengawan dan terjun ke air.
Saat itu Ki Buyut melihat jika istrinya dibawa buaya. Kemana pun arahnya Ki Buyut selalu mengikutinya. Akhirnya buaya sampai di kedhung Depis. Tidak lama kemudian Ki Buyut juga sampai di kedhung. Melihat ada gua Ki Buyut langsung masuk. Baru menginjak mulut gua, Ki Buyut sudah merasa jika masuk ke dalam alam lain. Mulut gua berubah menjadi gapura keraton, Ki Buyut tetap meneruskan perjalanannya dan melihat jika gua berubah menjadi kraton yang sangat indah. Sedangkan buaya-buaya yang ada di situ berwujud manusia. Tetapi Nyai Buyut Hirapati berubah wujudnya menjadi ayam betina putih di dalam sangkar.
Cerita ini memiliki pesan filosofis yang luhur. Ki Buyut bertemu dengan ratu buaya. Ratu buaya melihat kesaktian Ki Buyut menjadi terkesima dan merasa kalah wibawa. Sehingga tidak berani macam-macam. Ki Buyut berkata, kedatangannya untuk mengambil miliknya yaitu ayam betina putih yang berada dalam sangkar. Dan meminta buaya yang sudah membawa istrinya, untuk dihukum. Sang ratu buaya pun mempersilahkan apa yang menjadi kehendak Ki Buyut. Sambil membawa ayam betina putih Ki Buyut pulang.
Sampai di rumah ayam betina putih berubah menjadi Nyai Hirapati. Setelah beristirahat sebentar, sambil membawa gembel dan tali tambang yang besar. Ki Buyut datang lagi ke kraton buaya. Setiba di sana buaya yang bersalah kemudian lehernya diikat dengan tali serta ditunggangi, diperintah untuk mengantar pulang ke Banjarsari.
Dalam perjalanan mulut buaya selalu dipukuli oleh Ki Buyut dengan gembel, sampai berlumuran darah. Sampai di pinggir bengawan di dekat rumah Ki Buyut, buaya kemudian di bawa naik ke daratan. Anak cucunya yang menjemput kedatangannya, diperintah untuk memukuli buaya yang baru saja dinaikinya. Mereka pun segera memukuli buaya tersebut. Karena si buaya sudah merasa bersalah dan kesakitan, maka segera minta ampun kepada Ki Buyut.
Hendaknya diperhatikan betul tentang seluk beluk aliran bengawan Solo. Tidak akan mengganggu anak cucunya. Dan berjanji, jika kelak kemudian hari buaya tersebut muncul, para anak cucu Ki Buyut jangan ada yang pergi ke bengawan. Sebab saat itu di bengawan ada buaya lain yang sedang mencari mangsa. Setelah berjanji, buaya diberi ampunan, dan segera pergi masuk ke bengawan. Selanjutnya buaya tersebut menjadi penunggu bengawan. Sehingga jika muncul buaya yang lehernya berkalung hitam, orang-orang desa Banjarsari tidak berani pergi ke bengawan.
Aliran bengawan Solo menempuh wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur sejak dulu kala sepanjang aliran bengawan Solo memiliki nilai ekonomis dan daya magis. Nilai ekonomis berhubungan dengan pekerjaan masyarakat. Daya magis berhubungan dengan sistem kepercayaan masyarakat Jawa.
(LM-01)

