Sejarah Bengawan Solo

Oleh: Dr Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp 087864404347)

A. Umbul Cokro Pengging Kali Larangan Mata Air Bengawan Solo

Lagu Bengawan Solo

Bengawan Solo, riwayatmu kini. Sedari dulu jadi perhatian insani. Musim kemarau tak seberapa airmu. Di musim hujan air meluap sampai jauh. Mata airmu dari Solo. Terkurung gunung seribu. Air meluap sampai jauh. Dan akhirnya ke laut. Itu perahu riwayatnya dulu. Kaum pedagang selalu. Naik itu perahu.

Komponis Gesang dengan tepat menggambarkan keadaan bengawan Solo. Lagu langgam keroncong ini telah mendunia. Di negeri Jepang, Korea, taiwan lagu ciptaan Gesang amat populer sejak pertengahan abad 20. Liriknya sederhana, tapi maknanya mengena. Karya asli anak bangsa yang menghadirkan rasa hormat dan bangga. Bisa digunakan sebagai kaca benggala buat generasi muda. Agar mau berusaha, bekerja dan berkarya.

Gumrojog banyu bening. Tuking gunung Umbul Cokro Pengging. Mili ngetan tumuju Kali Larangan. Kartasura Surakarta. Sakbanjure mili neng Bengawan Gedhe.

Pada tahun 1547 Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya raja Pajang membangun Umbul Cokro dan Umbul Pengging. Kawasan ini merupakan mata air yang sangat baik. Airnya jernih mengalir sepanjang masa. Berguna untuk pengairan sawah yang subur. Daerah Klaten, Boyolali, Karanganyar, Sukoharjo ini mendapat limpahan air dari Cokro Pengging. Maka sejak dulu daerah ini menjadi lumbung padi.

Air umbul Cokro Pengging mengalir ke arah timur. Bertemu di Kartasura. Aliran disambung di Kali Larangan menuju kota Solo. Dulu aliran sepanjang 20 KM ini dijaga ketat oleh petugas. Kordinatornya KRT Tirtonagoro, pejabat Karaton Surakarta Hadiningrat yang mengurus irigasi.

Kebersihan kali Larangan terjaga betul. Orang bisa langsung minum di kali. Malah minum di kali larangan dipercaya sebagai obat. Mencari jodoh dan ingin punya anak pun, orang mau minum langsung di Kali Larangan.
Kali Larangan yang legendaris ini airnya bertumpah di bengawan Solo. Dikatakan kali Larangan berarti kemewahan. Larang dalam bahasa Jawa berarti mahal, mewah, elit, lux, bagus, hebat, istimewa. Betapa tidak. Mewahnya kali larangan, terbukti dipelihara, dirawat, dan digunakan untuk keperluan Karaton Surakarta Hadiningrat dan pura Mangkunegaran. Maka tiap 500 M dijaga dan diawasi. Mirip dengan merawat tirta perwita sari dalam lakon Dewaruci.

Panembahan Senapati raja Mataram tapa kungkum di Umbul Pasiraman Pengging tahun 1586. Hulu bengawan Solo sungguh mengagumkan. Di sekitar umbul cokro Pengging ini hidup tokoh besar dalam sejarah Jawa. Sebut saja Sri Makurung Handayaningrat, Ki Ageng Pengging, Joko Tingkir, Syekh Siti Jenar, Ratu Pembayun, Kyai Yasadipura, Tumenggung Padmanagara dan Ranggawarsita. Semua raja Mataram menjalankan laku ritual siram jamas di Umbul Cokro Pengging. Tempat ini pusat sarjana dan bangsawan utama.

Sumber mata air yang tak kalah pentingnya adalah Kaliworo Kemalang Klaten di kaki Gunung Merapi. Airnya menampung dari daerah Kemalang, Manisrenggo, Karangnongko, Prambanan, Gantiwarno. Berubah aliran menjadi sungai Dengkeng. Mengalir sepanjang kaki bukit gunung ijo, ke arah timur. Meliputi daerah Wedhi, Bayat, cawas, Juwiring, Karangdowo dan bergabung di Sukoharjo dengan bengawan Solo. Kanan kiri aliran ini banyak insan yang suwita kepada Karaton Surakarta Hadiningrat sebagai abdi dalem.

Pendidikan cipta rasa karsa dikembangkan oleh Sinuwun Amangkurat Tegal Arum tahun 1652. Sejak dulu sampai sekarang peradaban tumbuh subur di daerah ini. Kuliner, batik, gerabah, gamelan, industri, kerajinan bisa tampil di tingkat dunia. Bangsa manca banyak yang belajar beragam ketrampilan.

Kesenian pedalangan, kerawitan, kesusasteraan, gendhing, tari berkembang pesat. Gambaran tentang kebajikan dan keindahan mudah ditemukan. Jagad gumelar dan jagad gumulung berjalan dengan baik. Mereka bisa menunjukkan keagungan dan keanggunan. Inilah konsep seni edi peni budaya adi luhung.

Pada jaman dahulu sebelum ada kereta api, para pedagang dan orang-orang yang akan bepergian melewati Bengawan Solo, naik perahu. Saat itu perahu-perahu yang beraktivitas di Bengawan Solo jumlahnya sampai ratusan. Beroperasi hanya pada saat musim penghujan, sebab airnya besar. Jika musim kemarau tidak dapat dilewati perahu. Jika air bengawan sedang pasang, banyak perahu yang hilir mudik membawa dagangan dari Ngawi menuju ke Cepu, Bojonegoro, Babat, Sedayu dan Gresik.

Bengawan Solo menjadi ramai. Tempat yang digunakan untuk berlabuh perahu dagang menjadi tempat yang ramai. Para pemborong Cina yang membeli kayu jati, cara membawanya cukup dengan menceburkan kayu ke bengawan kemudian kayu-kayu tersebut digandeng-gandeng dijadikan gethek. Dengan cara seperti itu kayu-kayu akan cepat terkirim.

Tanah di pinggir Bengawan Solo bersifat gembur, hal itu disebabkan karena tanahnya bercampur dengan pasir lembut dan biasa disebut wedheg. Para warga yang tinggal di dekat Bengawan banyak yang mengambil wedheg tersebut, digunakan untuk mengurug halaman supaya terlihat bersih. Ada lagi tanah yang terbawa banjir, berhenti di pinggir yang dinamakan waled. Waled dapat dijadikan pupuk untuk menyuburkan tanaman.

Di setren pinggir Bengawan tanaman dapat tumbuh dengan subur. Misalnya tembakau, jagung, terung, krai, semangka, cabe, kacang dan lain-lain. Mata pencaharian penduduk di sekitar bengawan adalah mencari pasir dan kerikil. Keduanya biasa dijual sampai ke luar daerah. Selain mencari pasir dan kerikil ada pula yang mencari ikan sebab di Bengawan Solo, ikannya beraneka macam, misalnya ikan badher, wagal, lempuk rengkik, kakap, wader pacal, trumpah, udang, senggaringan dan sebagainya. Alat yang dipakai untuk mencari ikan adalah jala, samber, jaring, pancing, bandhang, cundhit, sisir, ayap, benco, waring, cempuling dan lain-lain.

B. Kahyangan Dlepih Kali Keduwang

Tirta perwira sari merupakan banyu panguripan kang ngemu surasa kawruh sejati. Kitab Dewauci yang diciptakan Pujangga Kyai Yasadipura tahun 1743 ini memuat ngelmu kasampurnan. Sebagaimana jernihnya Umbul Cakra Pengging. Sumber mata air lainnya juga memuat nilai sakral Kejawen. Perjalanan sejarah menyertai aliran Bengawan Solo dari hulu hingga hilir.

Kini sumber air sakral berasal Gunung Sewu. Mata air yang mengalir ke bengawan Solo berasal dari sumber kahyangan Dlepih Tirtomoyo Wonogiri. Tempat ini menjadi pesanggrahan Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul. Maka kerap dijadikan untuk lelaku. Orang percaya bahwa doa di sini akan terkabul. Calon Lurah, Bupati, Gubernur dan Presiden melakukan ritual di kahyangan Dlepih. Orang Jawa merasa lebih mantab menggunakan cara nenuwun.

Air di pegunungan sewu punya khasiat prima. Semua wanita yang terkena percikan banyu gunung sewu, pasti mukanya berseri dan bersinar. Mata air bengawan Solo ini terlebih dulu melewati kali Keduwang. Sinuwun Paku Buwono lX raja Surakarta tahun 1861 sampai 1893 sering tapa ngeli di kali keduwang. Kali keduwang menjadi sarana angkutan kayu jati dari Alas Donoloyo. Kayu jati Donoloyo ini bahan utama bangunan Karaton Surakarta Hadiningrat dan Pura Mangkunegaran. Pangeran Sambernyawa atau Sri Mangkunegara I tahun 1758 melekukan tapa kungkum di Kali Keduwang Wonogiri.

Kayu hayu hayat lambang urip urup. Cara menebang kayu jati Alas Donoloyo menggunakan sesaji dan ritual khusus. Sesaji dari Kraton Surakarta Hadiningrat dipersiapkan oleh abdi dalem Purwo kinanthi. Lantas diselenggarakan wilujengan yang dipimpin ulama Kraton. Semua peserta harus berbusana kejawen jangkep.

Nyamping, beskap, blangkon, samir, keris, sabuk wala, sabuk timang untuk pria. Sanggulan, kebaya hitam dan nyampingan untuk putri. Khusus abdi dalem Purwo kinanthi berbusana kemben. Wilujengan selesai lalu kayu jati boleh ditebang. Dilakukan dengan hati hati. Jangan sampai sembrono. Bisa kuwalat. Ini pekerjaan yang diawasi oleh para leluhur.

Penebangan kayu jati selesai. Ada ritual baku. Sebelum diangkut lewat kali keduwang, harus tayuban. Tayub, ditata supaya guyub. Ledhek terpilih diundang untuk unjuk kebolehan. Mereka ledhek terpilih yang terampil nembang dan njoged. Hadirin mendapat kesempatan ngibing. Lagunya diawali dengan gendhing talu. Ayak srepeg sampak laras slendro pathet manyura berkumandang. Dilanjutkan dengan lagu ganda mastuti. Ketua panitia membawa sapu dan obor. Pengiring membawa sesaji makanan sambil berjoged. Diiringi gendhing kalaganjur. Satu per satu hadirin mendapat sampur kehormatan. Suasana regeng seneng nggayeng.

Kayu kentir atau hanyut di kali keduwang. Terus bersambung ke bengawan Solo. Tiba di Langenharjo Sukoharjo. Abdi dalem siap menjemput. Kayu diambil dan ditumpuk di Pelataran pesanggrahan Langenharjo yang megah indah dan mewah. Diselenggarakan rual kesenian dengan nanggap wayang. Lakonnya Babad Wonomarto. Dalang, wiyaga dan waranggana diberi atribut mastis, yakni sumping gajah oling. Atribut ini berfungsi untuk menolak balak dan gangguan makhluk halus yang tidak kasat mripat. Pagelaran wayang kulit semalam suntuk ini berlangsung meriah. Baru kayu diangkut dengan gerobak. Kusir gerobak didampingi tukang gerong yang pintar ura ura dan rengeng rengeng.

Bengawan Solo memiliki ritual yang menarik. Pada tahun 1839 Adipati Yudodiningrat, bupati Ngawi melakukan ritual tapa Ngeli di aliran Bengawan Solo. Beliau ndherek Sinuwun Surakarta. Karena berkaitan dengan eksistensi pusat kekuasaan Jawa. Raja Paku Buwono, berarti penguat dan pengikat jagad raya. Keberadaan air bengawan Solo juga dipasok dari Grojogan sewu bawah gunung Lawu. Air ini selalu digunakan untuk sesuci oleh Sinuwun Prabu Brawijaya, raja Majapahit kang sekti mandraguna,wicaksana alus ing budi.

Adipati Puwodiprojo Bupati Ngawi tahun 1887 sampai 1902 selalu menjalankan tapa kungkum. Tepi Bengawan Solo dijaga kebersihan. Jumlah air yang ditampung bengawan Solo berasal dari berbagai Kabupaten. Sukoharjo, Boyolali, Surakarta, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, Klaten atau SUBOSUKO WONOSRATEN. Di luar Solo raya menampung air dari Kabupaten Grobogan dan Blora. Lantas sebagian karesidenan Madiun, Ngawi, Ponorogo, Magetan. Masuk wilayah Kabupaten Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik dan Surabaya. Terakhir bengawan Solo bermuara ke selat Madura.

Sebelah kiri aliran bengawan Solo terdapat jajaran pegunungan Kendheng. Gunung ini kaya dengan tambang semen, kayu jati, minyak tanah, padi gogo dan burung perkutut. Serat Centhini karya Sinuwun Paku Buwono V raja Surakarta tahun 1820 sampai 1823. Kitab Jawa klasik membahas dengan rinci kekayaan gunung Kendheng. Sebelah kanan aliran bengawan Solo adalah jajaran pegunungan Renteng.

Lelagon gendhing menjadi sarana pembelajaran. Ada lagu anak anak yang bersuasana gembira terkenal pada tahun 1950. Cepu Bojonegoro, lor Rembang kidul Blora. Mengetan Tuban. Babad lan Lamongan, Gresik Surabaya.

Lagu ini menggambarkan geografi lokal. Cocok sebagai bahan ajar untuk siswa SD. Cocok untuk pengenalan lingkungan dan geografi. Penyajian bahan ajar cocok dengan jiwa anak yang memerlukan nuansa estetis. Learning by playing, belajar sambil bermain. Konsep makarya sinambi ura ura.

Ternyata bengawan Solo menjadi penyangga kehidupan, kekayaan, kebudayaan dan kebajikan. Inilah ganjaran dari Tuhan. Semoga membuahkan kebagian bagi sekalian umat manusia. Tanah Jawa mulya ngejayeng jagad raya. Matur nuwun.

Mata air Bengawan Solo berasal dari wilayah Karesidenan Surakarta, letaknya di sisi tenggara Pegunungan Seribu. Dari mata air alirannya menuju ke barat daya, menjadi tapal batas bagi Kabupaten Pacitan dan Kabupaten Wonogiri. Selanjutnya belok ke barat, masuk ke wilayah Wonogiri. Sampai di Kakap belok ke utara. Di sebelah selatan kota Wonogiri Bengawan Solo dialiri sungai Keduwang, yang mata airnya berasal dari Gunung Lawu.

Setelah melewati kota Wonogiri alirannya berbelok ke barat laut, di wilayah ini mendapat aliran dari sungai Dengkeng, mata airnya berasal dari Gunung Merapi. Dari sini aliran sungai mengarah ke timur laut, setelah sampai di kota Sala mendapat aliran dari sungai Pepe, dengan mata air berasal dari Gunung Merbabu. Aliran Bengawan Solo masih terus ke arah timur laut.

Di sini aliran sungai bertemu dengan aliran sungai Kedhungbang, dengan sumber mata air berasal dari Gunung Lawu. Begitu aliran sungai sampai di desa Sokawati sebelah utara kota Sragen, Bengawan Solo mengarah ke timur sampai di perbatasan Kabupaten Ngawi dengan Sragen, di situ mendapat aliran air dari sungai Kedungbanteng, dengan mata air dari Gunung Lawu.

Dari tempat inilah aliran Bengawan Solo masuk ke wilayah Kabupaten Ngawi. Aliran airnya lurus ke arah timur. Sampai di kota Ngawi bertemu dengan Bengawan Madiun yang juga dinamakan sungai Gentong. Dari pertemuan kedua aliran sungai ini, Bengawan Solo menjadi sungai yang besar sehingga bisa dilewati perahu sampai di muaranya yaitu laut selatan.

Sungai Gentong disebut juga Bengawan Madiun sebab melewati kota Madiun. Bengawan Madiun (sungai Gentong) airnya besar, karena mendapatkan aliran beberapa sungai dari wilayah Ponorogo, Magetan, Madiun dan Ngawi. Dari kota Ngawi Bengawan Solo belok ke utara masuk ke wilayah Karesidenan Rembang. Sungai ini menjadi tapal batas bagi Kabupaten Blora dengan Kabupaten Bojonegoro.

Aliran Bengawan Solo masih terus ke utara sampai di Cepu menjadi muara dari sungai Bathokan yang mata airnya berasal dari Gunung Gamping. Dari sini aliran sungai masuk ke Kabupaten Bojonegoro, sampai di sebelah timur kedistrikan Padangan menjadi muara bagi sungai Gandhongan yang mendapatkan mata air dari Gunung Pandan. Aliran Bengawan Solo masih terus ke timur dan menjadi muara dari sungai Tidu, mata airnya juga dari Gunung Pandan. Mulai dari kecamatan Malo, aliran air Bengawan Solo terus saja ke timur melewati Kabupaten Tuban, Gresik dan masih terus ke arah timur sampai di kota Sedayu aliran Bengawan Solo masuk ke samudra, di sebelah utara teluk Madura.

Sejak tanggal 17 Maret 2020 masyarakat dunia dihebohkan dengan adanya wabah corona. Pemerintah Indonesia menjalankan kegiatan yang bertujuan untuk mencegah menyebarnya wabah corona. Caranya dengan melakukan pengetatan interaksi sosial. Kerumunan yang mendatangkan masa besar dicegah.

Untuk membantu program pemerintah ini para seniman yang sedang menempuh pendidikan di Institut Seni Surakarta melakukan kegiatan ritual estetis. Misalnya mbak Sasinta Dewi Saraya menjalankan Tari Persembahan. Bentuknya berupa beksan gambyong magis. Mbak Sasinta Dewi Saraya menari di pinggir aliran bengawan Solo. Tujuannya supaya alam lelembut dan pedanyangan yang menguasai aliran bengawan Solo bisa turut serta meredakan wabah dunia.

Kegiatan seni ritual yang dilakukan mbak Sasinta Dewi Saraya mahasiswi jurusan Tari Insistitut Seni Surakarta ini selaras dengan program pemerintah yang mencegah bahayanya covid 19. Dukungan atas kegiatan seni budaya ini mendapat perhatian dari kalangan penghayat kejawen.

C. Tempat Wingit Angker Sepanjang Aliran Bengawan

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *