Sejarah Seni Karawitan Sebagai Iringan Upacara Kerajaan

Ilmu iku kelakone kanthi laku. Pewarisan ketrampilan diturunkan dengan belajar. Seni karawitan perlu dikenalkan kepada peserta didik, supaya warisan luhur nenek moyang tetap lestari. Pengenalan karawitan bisa melalui sekolah, sanggar, paguyuban, media cetak, media elektronik. Terlebih dulu para peserta didik mendapatkan informasi tentang dasar dasar kesenian.

Gamelan atau instrumen Jawa yang kerap dilihat hendaknya dikenalkan nama, kegunaan serta jenis jenisnya. Kendang, bonang, kenong, kempul, kethuk, gong, peking, saron, demung, slenthem, gender, rebab, gambang, suling, siter barangkali sudah amat populer. Gambar, foto, rekaman video, siaran televisi biasa sekali menayangkan jenis-jenis instrumen gamelan.

Aktivitas pengenalan karawitan sekaligus bentuk apresiasi. Alat musik tradisional kerap digunakan sebagai pelengkap kegiatan ritual, kesenian, dan hiburan masyarakat Jawa. Ruang karawitan biasanya lumayan luas. Jumlah ricikan gamelan yang banyak memang memerlukan tempat longgar. Kenyamanan tempat gamelan sangat dianjurkan. Sebetulnya seni karawitan terkait dengan keindahan, kemegahan, kemewahan.

Definisi rawit sendiri bermakna halus, njlimet, bermutu, anggun, agung. Ungkapan bahwa seni karawitan itu begitu kompleks, sempurna, lengkap itu ada benarnya. Misalnya untuk iringan wayang purwa perlu notasi khusus. Kualitas instrumen gamelan bertingkat tingkat, sesuai dengan jenis bahannya. Tentu saja berbeda juga harga, mutu, dan daya pikatnya.

Gamelan dari bahan besi, kuningan, baja, perunggu dapat dijumpai di daerah Bekonang Sukoharjo Jawa Tengah. Di sana menjadi tempat sentra industri gamelan yang produksinya sudah menyebar di berbagai belahan dunia. Industri gamelan ini mampu menembus pasar global. Contoh tradisi pengajaran gamelan dapat dijumpai di Grogol Mojorembun Rejoso Nganjuk Jawa Timur.

Tahun 1980 bertempat di pendapa carik diselenggarakan latihan karawitan. Jadwalnya seminggu empat kali. Terdiri dari dua kelompok, yaitu kelompok ibu ibu dan kelompok bapak bapak. Dalam konteks sistem pembelajaran ini perlu dikenalkan teknik sindhenan cengkok srambahan lan abon abon. Pelatih ternama waktu itu Bapak Tarimin. Punya nama kebesaran Ki Hardjo Soekondho.

Beliau pelatih seni tradisi kerawitan yang ahli, pintar, trampil dan betul betul mumpuni. Semua indra dapat menguasai suara gamelan. Bunyi bunyi setiap instrumen diberi tanda. Para muridnya dengan mudah mengikuti materi pengajaran. Tiap mengajar gendhing karawitan, beliau tidak lupa membawa kertas, pena, kapur dan penghapus. Papan tulis sudah tersedia permanen.

Tiap hari Pak Tarimin atau Ki Hardjo Soekondho mencatat lagu, notasi dan petunjuk nabuh gamelan. Tulisannya rapi, tertata, bersih, urut dan ilmiah. Ketertiban membuat dokumentasi gendhing gendhing karawitan mendatangkan rasa hormat di kalangan seniman. Kolega kolega waranggana, wiyaga, penari, dalang berhubungan dengan Ki Hardjo Soekondo untuk bertukar pikiran dan meminjam buku catatan gendhing. Seolah olah beliau seni yang selalu memberi pencerahan. Gamelan menjadi sarana untuk melestarikan budaya adi luhung.

Ada jaman bahagia. Paguyuban PKK Sinar Remaja Grogol Mojorembun Rejoso Nganjuk berlatih seni karawitan tahun 1982. Ki Hardjo Soekondo juga terkenal sebagai dalang. Pocapan, janturan, sabet, suluk dan teknik-teknik pedalangan kerap diajarkan pada murid muridnya. Sebagai pelaku seni Jawa kemampuannya boleh dibilang lengkap. Di mata siswanya, Pak Tarimin atau Ki Hardjo Soekondo memiliki rasa tanggung jawab dan disiplin amat tinggi. Jika mengajar, mimiknya terlalu serius.

Tahun 1984 siswa SMP Rejoso Nganjuk Jawa Timur latihan seni karawitan. Ada lagi metode pengajaran gamelan tradisi. Tempatnya di pendapa desa Talang Rejoso Nganjuk Jawa Timur. Pengajarnya bernama Bapak Djianto. Beliau pengrawit ulung dan seorang dalang. Keistimewaannya dalam memberi pelajaran kerawitan lebih menekankan notasi buku. Beliau menyusun buku yang berisi materi pengajaran seni kerawitan. Notasi dan cakepan disusun dengan rapi.

Siswa yang belajar diberi buku catatan sesuai dengan instrumen yang ditabuh. Sampul tertera tulisan buku kempul, kenong, bonang, saron, demung, peking, slenthem. Wilahan gamelan diberi tanda urut angka. Siswa tinggal mengikuti petunjuk nabuh gamelan. Beliau selalu menganjurkan untuk tidak menatap fisik instrumen gamelan.

Saat nabuh diharapkan mata berkonsentrasi membaca notasi buku. Terus menerus belajar begitu, sehingga tangan siswa hafal jarak wilahan instrumen. Sedang matanya terbiasa membaca notasi dengan tepat dan cepat. Ricikan atau jenis-jenis instrumen gamelan yang perlu dikenal.

Berbahagia sekali pada tanggal 24 Maret 2004 diadakan pengenalan instrumen gamelan. Diselenggarakan oleh Paguyuban Seni kentrung Jenggala Manik, Jl Kakap Raya 36 Minomartani Yogyakarta. Sebagai narasumber Dra Triyanti alumni IKIP Surabaya.

1. Bonang barung
2. Bonang penerus
3. Bonang panembung
4. Gender barung
5. Gender penerus
6. Gender panembung
7. Eneng-eneng
8. Reyog
9. Saron barung
10. Saron penerus
11. Saron panembung
12. Saron panacah
13. Curing
14. Salukat
15. Dhempling
16. Centhe
17. Gambang gangsa
18. Gambang kayu
19. Salangsang
20. Galunggung petung
21. Salundhing
22. Senggani
23. Kethuk pelog
24. Kethuk barang
25. Kethuk kungkang

26. Kethuk wayang
27. Kenong
28. Kenong japan
29. Kemanak
30. Kempyang
31. Kendhang sabet
32. Kendhang sabet wayangan
33. Kendhang kosek
34. Kendhang bem
35. Kendhang ciblon
36. Kendhang ketipung
37. Kendhang carabalen
38. Suling
39. Dremen
40. Bangsi
41. Sangkakala
42. Gong suwukan
43. Gong barang
44. Gong ageng
45. Gong kemodhong
46. Gong bumbung
47. Jes
48. Lesung
49. Kothak
50. Lumpang

51. Gambyong
52. Klenong
53. Klemit
54. Jedhor
55. Alu
56. Thimplungan
57. Demung
58. Peking
59. Lumpang
60. Gurnang
61. Puksur
62. Tambur
63. Pandhen
64. Daludag
65. Bendha
66. Bindhi
67. Pluntus
68. Klanthe
69. Krimpring
70. Kepyek
71. Trethek
72. Bumbungan
73. semprit
74. Oprak.
75. Teplek.

Masing piranti gamelan itu memiliki sejarah tersendiri. Pak Dasah di Bekonang Sukoharjo pada tanggal 20 Juli 2010 menerima pesanan gamelan dari Sanggar Seni Pustaka Laras Yogyakarta.

D. Tata Krama Nabuh Gamelan.

Betul betul mengharukan. Pengajaran seni karawitan di SMA Sei Rampah Serdang Bedagai Sumatra Utara tanggal 16 Agustus 2026. Drs Joni Walker Manik MM Kepala Dinas Pendidikan dan Ir H Soekirman Bupati Sergai turut memberi dukungan.

Cara pelatihan itu ditujukan warga transmigrasi. Nabuh
Bidang apa saja akan mulia bila disertai dengan aspek etika. Nabuh gamelan pun akan berwibawa bila tetap memegang teguh tata krama. Dalam lingkungan pengrawit ada nilai dasar yang dijunjung tinggi. Misalnya saja pantang untuk melangkahi instrumen gamelan. Jalan harus lewat celah ruang yang disediakan.

Tatanan gamelan dibuat serasi, sesuai dengan tradisi yang sudah berlaku dan disepakati. Tertib menciptakan keanggunan. Mengubah posisi asal asalan bisa membikin perasaan yang normal menjadi terganggu. Di situ terjadi bibit-bibit sengketa yang tidak harmonis. Sebaiknya tradisi, adat dan pengalaman kolektif tidak diabaikan, hanya demi sebuah kreasi. Ini bentuk penghormatan pada senior dan sejarah. Pengajarannya bisa disesuaikan dengan kebutuhan.

Kenyataannya bila terjadi paham tradisi dan kreasi. Penganut aliran tradisi meyakini bahwa pengalaman dan praktek seni yang sudah berlaku jangan diubah ubah.

Perubahan dianggap sebagai pelanggaran. Sebaliknya penganut paham kreasi menghendaki penciptaan seni baru. Dunia berjalan dinamis. Perubahan adalah keniscayaan. Jangan halang halangi segala bentuk kreativitas seni. Keyakinan ini banyak diyakini oleh kalangan generasi muda. Jalan tengah masing-masing pihak perlu mengendalikan diri. Harus belajar untuk saling menghormati. Untunglah tokoh Ki Nartosabdo mendapat banyak apresiasi.

Pada tanggal 1 Mei 2018 dilakukan kursus gamelan di SMP Pegajahan Serdang Bedagai Sumatra Utara. Pengajar karawitan hendaknya mengetahui, memahami dan menyadari arti penting pengajaran seni.

Siswa belajar itu meningkatkan kemampuan diri dalam bidang kesenian. Mereka diharapkan trampil berkesenian.
Harapan terbuka lebar. Pada masa depan mereka mampu berkesenian secara mandiri. Lebih lagi menggembirakan para siswa dapat melakukan pengembangan dan pelestarian. Jadi proses belajar mengajar itu bukan untuk kepentingan pengajar. Pelajar seni harus lebih diutamakan kepentingannya.

Kegiatan pengajaran seni merupakan aktivitas pewarisan peradaban. Posisi pengajar merupakan bagian dari mediator budaya. Transformasi nilai estetis kerawitan melalui para pengajar. Alangkah mulianya tugas itu. Disadari bahwa pengajar kerawitan adalah pelestarian seni adi luhung. Pada masa jaman Jawa kuna sudah mengenal jenis jenis instrumen.

Materi pengajaran seni karawitan untuk warga Sergai pada tanggal 28 Pebruari 2020 perlu selektif, mudah dan menyenangkan. Jangan sampai kerawitan menjadi beban yang amat menakutkan. Biarlah mereka nabuh jenis lagu yang termudah. Misalnya gangsaran loro. Semua siswa disuruh nabuh secara serempak. Notasi notasi loro ditabuh bareng. Siswa pasti tidak mengalami kesulitan apa pun. Tidak usah memerlukan daya penalaran. Mereka diajak nabuh notasi loro atau dua sampai sepuas puasnya. Ada baiknya jika para pemuda mau membaca berbagai buku gerong.

Nabuh notasi loro selama empat kali. Kemudian diajak nabuh notasi telu empat kali. Lantas nabuh notasi siji empat kali. Jadilah tabuhan selama dua belas kali. Mereka senang dan puas. Berilah keterangan bahwa jajaran notasi yang ditabuh itu disebut gendhing srepeg manyura. Gendhing manyura menjadi bagian penting pertunjukan wayang.

Wirama wiraga dan wirasa. Dalam satu kali pertemuan siswa sudah berpengalaman diajak nabuh gendhing gangsaran dan srepeg. Ternyata tidak sulit bermain gamelan. Pertemuan awal saja sudah berhasil nabuh gamelan. Mereka akan semakin bersemangat. Masih ada esok. Dalam seni karawitan diharapkan timbul suasana riang gembira.

Edi peni adi luhung terdapat dalam pentas seni karawitan. Sepanjang sejarah telah mewarnai budaya Jawa yang cukup memberi rasa bangga kagum. Sebagai sarana memperkokoh jatidiri.

(LM-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *