Kebiasaan unik lain Kanjeng Sunan Kudus dalam berdakwah adalah acara bedug dandang, berupa kegiatan menunggu datangnya bulan Rama-dhan. Untuk mengundang para jamaah ke masjid, Kanjeng Sunan Kudus menabuh beduk bertalu talu. Setelah jamaah berkumpul di masjid, Kanjeng Sunan Kudus mengumumkan kapan persisnya hari pertama puasa. Perayaan yang diselenggarakan oleh Sunan Kudus selalu berjalan meriah. Para santri berdatangan dari seluruh pelosok negeri. Umyung gumuruh suara mbata rubuh yang hadir.
Sekarang ini, acara dandangan masih berlangsung. Rit klampit brungkat kumpul. Menjelang Ramadhan, banyak orang datang ke areal masjid. Kanjeng Sunan Kudus menciptakan karya sastra dan budaya: Tembang Maskumambang, Tembang Mijil, Masjid Menara Kudus. Pada tahun 1569 Pangeran Timur, Bupati Madiun sowan ke Kudus.
Beliau membawa tim kuliner yang masak nasi pecel. Reuni di Kabupaten Kudus juga sebagai ajang promosi produk lokal. Nama Kanjeng Sunan Kudus di kalangan masyarakat setempat, dipercaya sebagai seorang tokoh yang kawentar dengan seribu satu kesaktian. Kanjeng Sunan Kudus dikatakannya sebagai seorang wali yang sakti, yang dapat ber-buat sesuatu di luar kesanggupan otak dan tenaga manusia biasa.
Pada jaman dahulu pernah Kanjeng Sunan Kudus pergi haji serta bermukim di sana. Kemudian beliau menderita penyakit kudis, sehingga oleh kawan-kawan beliau Kanjeng Sunan Kudus dihina. Maka disebabkan karena kesaktiannya, timbullah malapetaka yang menimpa negeri Arab dengan berjangkitnya wabah penyakit. Pageblug mayangkara membuat cemas.
Segala daya upaya telah diusahakan untuk mengatasi ba-haya tersebut namun kiranya semua itu sia-sia belaka. Akhirnya dimintalah bantuan beliau untuk memberikan jasa-jasa baiknya. Karena kesaktian beliau, pageblug mayangkara tersebut menjadi reda kembali. Atas jasa beliau tersebut, amir dari Negeri Arab itu pun berkenan untuk memberikan hadiah kepada beliau sebagai pembalas jasa. Sunan Kudus memang sakti mandraguna.
Masjid yang terletak di Desa Nganguk di Kudus itu adalah masjidnya Kanjeng Sunan Kudus yang pertama kali. Jauh sebelum Kanjeng Sunan Kudus memegang tampuk pimpinan di Kudus, maka seorang tokoh terkemuka di sana ialah Kyai Demang Telingsing. Pada suatu hari Kyai Demang Telingsing berdiri sambil menengok ke kanan dan ke kiri seperti ada yang dicarinya, tiba-tiba Kanjeng Sunan Kudus pun muncullah dari selatan, dan masjidpun segera dibinanya di dalam waktu yang amat singkat, masjid itu tiba-tiba muncul dengan sendirinya atau mesjid tiban, berhubung dengan itu desa tersebut kemudian diberi nama: Nganguk.
Sedangkan masjidnya dinamakan Masjid Nganguk Wali. Nama kecil Kanjeng Sunan Kudus ialah Raden Ngudung. Kanjeng Sunan Kudus wafat tahun 1550 M atau 960 Hijrah dan dimakamkan di Kudus. Di pintu bangunan makam Kanjeng Sunan Kudus terukir kalimat asmaul husna yang berangka tahun 1296 H atau 1878 M. Ini tanda ada pemugaran makam wali.
Bangunan magis ini berhubungan dengan proses kepemimpinan. Maka penguasa Jawa gemar Anelasak wana wasa, tumuruning jurang terbis.
D. Turunnya Ndaru Kekuasaan.
Orang Jawa percaya bahwa kekuasaan itu bersifat magis supra natural. Mereka naik puncak gunung untuk menyambut kedatangan ndaru kekuasaan.
Misalnya naik ke puncak Ngatas Angin, Songolikur, Argowiloso, Abiyoso, Argojembangan. Puncak puncak ini berada di lingkungan Gunung Murya yang berketinggian 1594.
Para raja, bangsawan dan pemimpin menjalankan lelaku. Wahyu Cakraningrat digarap manjing dalam diri pribadi. Dengan bimbingan guru sakti, cita cita dapat kasembadan.
Posisi Kabupaten Kudus memang penting dalam perjalanan sejarah Kraton Demak dan Pajang. Semua raja yang memerintah berguru kepada Sunan Kudus. Di kota Kudus selain mendirikan masjid raya dari batu dengan menaranya, beliau membangun pula sebuah tempat kediaman yang megah bagi dirinya dan keluarganya. Iebih dulu telah diberitakan bahwa kraton ini mempunyai masjid yang lebih kecil, yang kini bernama Masjid Suranata. Dapat diterima bahwa memiliki masjid sendiri dekat kraton pada abad ke 16 dan sesudahnya dipandang sebagai hak istimewa dan lambang kebesaran dan kewibawaan raja.
Dalam karya tulis Melayu dan Jawa terdapat beberapa ungkapan yang menunjukkan bahwa di luar Jawa pun Kudus masyhur sebagai pusat agama Islam. Kudus mencapai kejayaannya berkat jasa-jasa sunan pertama, penyebar agama Islam yang gagah berani, dan berkat jasa jasa ayahnya, seorang yang alim. Sunan pertama meninggal pada 1550.
Silsilah trah raja-raja Mataram Hadiningrat, menyebutkan tiga pejabat di Kudus, seorang sunan, seorang Kanjeng Panembahan, dan seorang pangeran. Gelar yang kurang tinggi bagi yang kedua dan ketiga itu merupakan bukti berkurangnya kekuasaan pemerintahan, sesudah meninggalnya sunan pertama. Kehidupan mereka semakin ngrembaka.
Seorang pejabat di Kudus telah memperistri putri dari Giri. Hubungan dengan trah sunan-sunan dari Giri Gresik, yang pada paruh kedua abad ke-16 masa jayanya, mengandung kebenaran juga. Hal itu mewujudkan hubungan antara dua pusat keagamaan Islam yang penting di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di bawah kekuasaan raja-raja Mataram Hadiningrat pada abad-abad ke-16, 17, dan 18 ada hubungan pemerintahan antara Demak Bintara dan Kudus. Keduanya berada di bawah kekuasaan para pejabat Mataram Hadiningrat.
Kabupaten Kudus berturut-turut juga dilibatkan dalam pembinaan Kraton Pajang, Kraton Mataram dan Kraton Surakar-ta Hadiningrat. Kawasan Kudus menjadi daerah yang memiliki tradisi santri, priyayi dan produksi. Dari sinilah muncul kaum profesional yang bermoral dan handal. Nayaka praja kang sembada wiratama ing sabarang karya. Daftar Bupati Kudus ini selalu berdarma bakti kepada nusa bangsa.
1. Kanjeng R Adipati Ario Padmonegoro 1713-1724
Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwono I, raja Mataram Kartasura.
2. Kanjeng RT Tjokrohadinegoro I 1724-1736
Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Amangkurat Jawi, raja Mataram Kartasura.
3. Kanjeng RT Tjokrohadinegoro II 1736-1759
Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwono II, raja Mataram Kartasura.
4. Kanjeng RT Tjokrohadinegoro III 1759-1790
Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwono III, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
5. Kanjeng RT Tjokrohadinegoro IV 1790-1821
Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwono IV, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
6. Kanjeng Kyai Adipati Ario Tjondronegoro I 1821-1837
Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwono V, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
7. Kanjeng Kyai Adipati Ario Tjondronegoro II 1837-1862
Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwono VII, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
8. Kanjeng Pangeran Ario Tjondronegoro III 1862-1875
Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwono IX, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
9. Kanjeng R Mas AA Tjokronegoro IV 1875-1898
Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwono IX, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
10. Kanjeng R Mas AA Tjokronegoro V 1898-1915
Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwono X, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
11. Kanjeng Adipati Ario Tjokronegoro VI 1915-1925
Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwono X, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
12. Kanjeng Adipati Ario Tjokronegoro VI 1925-1940
Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwono X, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
13. R Tumenggung Adipati Ario Hadinoto 1940-1943
Dilantik pada masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun Paku Buwono XI, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
14. R Subiyanto 1943-1945.
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
15. R Soebarkah 1945-1946
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
16. R Achmad Joyosudarmo 1946-1950
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
17. R Agus Kusumodiharjo 1950-1952
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
18. Siswadi Joyosurono 1952-1954
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
19. Sukarjo Reksoprojo 1954-1959
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
20. R Salim Harjo Hantoro 1959-1960
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
21. Suroto Harjo Huboyo 1960-1961
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
22. Drs. Sunarto Noto Widagdo 1961-1967
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
23. Soebari, SH 1967-1972
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
24. Soerawi 1971-1972
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
25. Marwoto Suko 1972-1976
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
26. Kol. Wimpie Hardono 1976-1983
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
27. Kol. Soehartono 1983-1988
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
28. Kol. H Soedarsono 1988-1998. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
29. Kol Amin munajad 1998-2003. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
30. Ir. HM Tamzil MT 2003-2008. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
31. H Musthofa 2008-2018. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
32. HM Hartopo ST 2018. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bam-bang Yudhoyono.
Masyarakat Kabupaten Kudus mempunyai perjalanan sejarah yang agung dan anggun. Mereka menunjukkan diri sebagai warga yang memiliki identitas santri-santri, priyayi dan produksi. Masa depan selalu dipandang dengan tatapan cerah. Urip mulya wibawa ing dina sakmangke sarta tembe buri.
Kasultanan Demak Bintoro menjadikan puncak Sapto Argo sebagai sarana meditasi spiritual. Sunan Muria bertindak sebagai pembimbing rohani. Raden Patah, Adipati Unus, Sultan Trenggono, Sunan Prawoto, adalah penguasa Kasultanan Demak Bintoro yang gemar lelaku.
Kanjeng Ratu Kalinyamat mengembangkan ajaran spiritual ini dengan bertapa di Gunung Donorojo. Setelah kekuasaan Demak pindah ke Kasultanan Pajang, para penguasa Jawa tetap melakukan kegiatan spiritual di puncak Sapto Argo. Lingkungan Gunung Muria ini selalu berhubungan dengan desa Rahtawu, Gebog, Kudus.
Bangsawan Jawa dan para pelaku politik manjadikan puncak Sapto Argo untuk mendapat ndaru kekuasaan. Yakni wahyu Cakraningrat sebagai sarana untuk menjalankan kepemimpinan.
(LM-01)
