Paku Buwana V Bapak Ilmu Pengetahuan Dunia

Oleh: Dr Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA. hp.087864404347)

1. Paku Buwana V Sebagai Raja Pujangga.

Tanggal 28 Maret 2021 diselenggarakan upacara nyadran di Pajimatan Imogiri. Kaswargan Sinuwun Paku Buwana III, Paku Buwana IV dan Paku Buwana V dalam satu tempat. Ketiga narendra sebagai raja pujangga

GKR Dra Koes Moertiyah Wandansari M.Pd memimpin tata cara adat. Dengan didampingi pangageng pasiten, GKR Retno Dumilah SH M.H. Para pendherek terdiri dari sentana dan abdi dalem.

Warga Pakasa Nganjuk mendukung penuh. Dipimpin oleh KRT Sukoco Madunagoro, KMT Ida Madusari, Nyi Behi Indarti Puspodiprojo, Nyi Behi Sunarmi Sekar Rukmi. Bersama dengan Pakasa lain, tata cara ini berusaha untuk ngalap berkah.

Kanjeng Sinuwun Paku Buwana III menciptakan serat Wiwaha Jarwa. Sinuwun Paku Buwana IV menciptakan Serat Wulangreh. Sinuwun Paku Buwana V menciptakan Serat Centhini. Karya lestari sepanjang jaman.

Bagi abdi dalem Karaton Surakarta Hadiningrat, sastra piwulang merupakan sarana untuk memahami pandam pandom panduming dumadi.

Keagungan serat Centhini adalah contoh hasil reriptan Paku Buwana V. Karya Sinuwun Paku Buwana V yang terkenal adalah Serat Centhini. Pandangan hidup Jawa dalam Serat Centhini adalah saripati perjalanan hidup orang Jawa sepanjang waktu.

Demikian rupa sehingga orang Jawa men­jadi Jawa. Jadi identitas Kejawaan tadi adalah hasil suatu proses yang panjang, melalui seleksi kualitatif. Centhini memang karya unggul.

Umpamanya becik katitik ala katara, berhubung dengan nilai-nilai kehidupan.
Kesemuanya itu dapat kita temukan dalam berbagai wulang­ wulang kajawen, yaitu berbagai kepustakaan Jawa.

Ajaran tentang kearifan hidup menurut orang Jawa, misalnya serat Jati Suara, Centhini sastra gending, Pangracutan, Hidayat jati, Wulangreh, Wedhatama, ajaran Ki Ageng Suryomataram, ajaran Sosrokartanan, Jati Murti, Kacawirangi, Madurasa, Wewa­dining Rasa. Terbukti yang sampai dengan saat sekarang ternyata masih menjadi bahan bacaan. Walaupun identitas kejawaan tersebut juga masih terus menerus ikut berproses. Nuting jaman kelakone.

Misalnya dalam rangka memahami ungkapan wong Jawa kari saparo. Ajaran tentang kearifan hidup tadi juga terungkap pada tata­ bangunan, tata kota, adat istiadat, berbagai upacara, kesenian terutama Wayang Kulit, sopan santun, tata bangsa, pemberian nama.

Lambang sasmitaning ngaurip, salah satu hasil karya dalam kesusasteraan Jawa yang amat terkenal adalah serat Centhini. Naskah ini sudah terlalu banyak dibicarakan orang dan ditulis beritanya di dalam surat-surat kabar. Padahal di dalam masyarakat tidak beredar buku itu. Begitu pentingnya karya jarwan.

Serat Centhini adalah sebuah pustaka Jawa yang ditulis pada tahun 1814 M oleh sebuah team pengarang yang disusun oleh Putra Mahkota Kerajaan Surakarta bergelar Adipati Anom Amengkunegara. Kelak jumeneng narendra menjadi Sinuwun Paku Buwono V tahun 1820-1823 Masehi. Team itu terdiri dari beliau sendiri sebagai pemimpin koordinator.

Demi sukses kerja dengan para anggota anggotanya Ki Ngabehi Rangga Sutrasna, Ki Ngabehi Yasadipura II dan Ki Ngabehi Sastradipura yang sesudah haji berganti nama Kyai Haji Muhammad Ilhar. Tim ahli yang amat mumpuni.

Pustaka tersebut terkenal sangat banyak sekali isinya, bermacam ragam, mengandung berbagai ilmu pengetahuan, kebudayaan, kesusasteraan, kesenian, falsafah, keagamaan, mistik, ramalan, pralampita, adat tatacara, sifat tabiat manusia dan hewan hewan, obat obatan dan lain-lainnya. Masih terlalu banyak untuk disebutkan semuanya, bahkan soal soal sanggama yang porno pun terdapat di dalam naskah. Kombinasi alternatif itu akan masih dapat berkembang. Isi Centhini jangkep genep.

Namun bukan maksudnya untuk begitu saja othak-athik mathuk yang hanya akan mengundang orang untuk memperkaya. Sebagaimana yang justru terjadi dalam kehidupan nyata, yaitu meleceh­kan seksualitas, salah tetes, Kama salah, sehingga oleh karenanya kala lalu merajalela, mencari pihak pihak yang montang manting, diancam sengat Kalabang, Kala jengking, atau kena jerat Kala laso lilitan sihiran konsumtivisme di era mutakhir.

Warah becik selalu menarik. Hal menarik dari beberapa kombinasi tersebut di atas ialah kata bathara, khususnya Kama Bathara. Dari situ kits lain menang­kap tanda tanda zaman, bermula dari sosok Kamajaya, yang menjadi pandam pandom panduming dumadinya. Kita merasa sangat berbahagia bahwa jerih payah beliau berdasarkan filsafat hidup. Syukur ketika berkelapangan dan sabar ketika berkesempitan. Lain kata atau Polah mawi pasrah, pasrah mawi polah, telah terselesaikan dengan sukses, yaitu transkripsi ensiklopedia budaya Jawa. Serat Centhini sebagai dokumen peradaban.

Oleh karena itu serat Centhini terkenal pula disebut sebuah ensiklopedi. Adapun tentang segala ilmu yang terdapat di permukaan bumi pulau Jawa. Bukan yang terdapat di lain lain benua. Perhatian masyarakat, bahkan perhatian bangsa bangsa asing kepada serat Centhini makin meningkat, terutama sesudah tim peneliti menerjemahkan karya besar itu ke dalam bahasa Indonesia di bawah pimpinan Prof Dr Notonagoro. Beliau menantu Sinuwunp Paku Buwana X raja Karaton Surakarta Hadiningrat tahun 1893 – 1939.

Lepas dari usaha mulia yang ilmiah itu, masyarakat luas amat memerlukan dan ingin sekali mengenal Centhini dan segala sesuatu di sekitar pustaka yang mashur itu, terutama sekali isinya. Padahal Serat Centhini sangat besar.

Karya Paku Buwana V juga disebut Suluk Tambangraras, oleh karena sebagian besar dari isinya mengandung ilmu filsafat dari Agama Islam yang diwejangkan oleh Syekh Amongrogo ialah putra Wali Sunan Giri Perapen kepada istrinya bernama Ken Tambangraras, ialah putri sulung Kepala Perdikan Wonomarto, Kabupaten Mojokerto ketika habis dinikahkan, selama 40 empat puluh hari siang dan malam terus menerus secara urut sistematis mulai dari syariat, tarikat, hakikat lengkap sampai makrifat.

Abdi dalem pelayan Ken Tambangraras bernama Ken Centhini selalu mengikuti dengan penuh perhatian. Segala wejangan Syekh Amongrogo kepada Ken Tambangraras. Maka dari itu pustaka ini diberi nama Serat Centhini. Perlu diterangkan, bahwa nama Centhini, itu lebih mudah diucapkan dan lebih populer dari pada nama Tambangraras.

Adapun riwayatnya demikian Pada 1735 dengan sengkalan Tata Guna Swareng Nata tahun 1808 M.p Sinuwun Paku Buwono IV Surakarta selesai menggubah Serat Wulangreh, yang berisikan kaidah kaidah ketuhanan , kesusilaan dan kesosialan. Pustaka ini diberikan kepada Putra Mahkotanya untuk ditelaah seperlunya.
Menurut pandangan Sang Putra Mahkota, Serat Wulangreh itu baik sekali.

Sinuwun Paku Buwana V ingin mengarang suatu pustaka Jawa yang berisikan segala ilmu ilmu, pengetahuan pengetahuan, ceritera ceritera, dongen dongeng, sejarah sejarah, primbon primbon, kepercayaan kepercayaan, tatacara tatacara, upacara upacara, aliran aliran kebatinan, perguruan perguruan kerohanian, keadaan, keadaan tanah, gunung, sungai, hutan, telaga, sumber, laut, kehidupan dan penghidupan penduduk, dengan pendek: segala sesuatu yang pada masa itu ada di permukaan dan di dalam bumi Jawa mulai dari Anyer sampai Banyuwangi.

Karaton Surakarta Hadiningrat merupakan istana kapujanggan. Literasi berguna untuk membuat kecerahan dunia.

2. Paku Buwana V Mengangkat Abdi dalem Kapujanggan.

Karaton Kapujanggan sebutan yang tepat.
Penyusunan Pustaka demi kemajuan ilmu pengetahuan. Terlebih dahulu harus dipersiapkan bahan bahan segala macam guna menyusun pustaka itu. Untuk keperluan tersebut Sang Putra Mahkota memberi tugas kepada 3 orang pegawai kedhaton urusan tulis menulis kepujanggaan.

Kyai Ngabehi Rangga Sutrasna, ahli bahasa Jawa dan kepustakaan Jawa, harus menjelajah separuh Tanah Jawa sebelah Timur, mulai dari Surakarta sampai Banyuwangi­. Adapun berangkatnya melalui Jawa, Tengah sebelah Utara, kembalinya melalui Jawa Timur sebelah selatan. Kyai Rangga Sutrasna diberi bekal dan perlengkapan lebih dari cukup guna menjalankan tugasnya, yakni melihat, mendengarkan, menyelidiki segala sesuatu yang dijum­pai dan mencatat dan mengingat ingatnya, jangan sam­pai lupa.

Bangun kepribadian atau tipe kejiwaan seperti itulah yang gemar bertapa, dianugerahi senjata yang ampuh oleh Dewa, pe­mangku wahyu, serta diikuti oleh panakawan. Di samping berbagai pemaparan tentang hal hal yang korelatif tadi, wayang atau lebih tepatnya pergelaran wayang kulit, juga menyangkut sosok jejer serta lakon.
Di dalamnya terjabar pola­pola permasalahan yang tetap, akumulasi problematikanya, lalu munculnya cahaya bulan titik terang sekaligus titik balik dari berbagai krisis tadi gara gara, yaitu penyelesaian permasalahan­nya.

Pada bagian akhir dari pertunjukkan tadi, dimainkanlah oleh dalang pertunjukkan golek kayu artinya: mencari makna pergelaran kehidupan siap menyongsong kehidupan, menjelang momentum byar, sementara pemirsa di dalam dari balik kelir lalu keluar. Inilah momentum recalcitrant.
Dalam wayang tergambar juga soal soal kesadaran dimensional. Wayang itu sendiri sendiri melambangkan berbagai situasi struktural. Unggah ungguhing basa, kasar alusing rasa, jugar genturing tapa.

Wayang di tangan Dalang melukiskan hubungan fungsional, sedang hubungan kesemuanya itu di tangan Dalang terhadap kepada tuan rumah penanggap adalah soal soal esensial. Pola hubungan seperti itu mirip dengan ajaran melalui kereta raja dan permaisuri. Tali rasa rasa tali atau madurasa, antara raja dan kusir. Madu basa, antara kusir dan kuda, dihubungkan oleh tali yang lentur; antara kuda dan kereta, oleh kayu, antara kereta dan tanah oleh roda. Cakra manggilingan.

Pokok pokok Filsafat Jawa atau pandangan, Sikap dan cara hidup Jawa itu tercermin dalam kata kata kunci wulang wulang Kejawen. Berdasarkan paugeraning dumadi pandam pandom­ panduming dumadi, serta sangkan paraning dumadi.

Pujangga istana mendapat tugas mulia. Kyai Ngabehi Yasadipura II, putra Kyai Ngabehi Yasadipura tahun 1729-1801 Masehi diberi tugas menjelajah separuh Tanah Jawa sebelah barat. Mulai dari Surakarta sampai Anyer. Berangkatnya melalui Jawa Tengah sebelah utara. Kembalinya melalui Jawa Barat sebelah selatan.

Abdi kapujanggan mendapat tugas istimewa. Kyai Yasadipura II diberi bekal dan perlengkapan penuh guna melakukan tugasnya seperti Kyai Rangga Sutrasna. Adapun tugasnya juga sama dengan tugas Kyai Rangga Sutrasna.

Orang yang diberi tugas ikut menyusun buku ensiklopedi tersebut ialah Kyai Ngabehi Sastradipura. Beliau seorang pencinta bahasa Arab dan ilmu ilmu keagamaan terutama keislaman. Pegawai ini ditugaskan naik haji ke Mekkah dan kemudian tinggal di sana untuk memperdalam pengetahuan tentang agama Islam. Ketika selanjutnya kembali di Jawa ia ganti nama dan sebutan menjadi Kyai Haji Muhammad Ilhar.

Pangeran Pati bekerja teliti. Tiga orang petugas tersebut di atas kumpul kembali di Kedhaton Kadipaten tempat kediaman Putra Mahkota Surakarta lengkap dengan segala bahan bahannya, lalu dibentuk semacam team terdiri atas Putra Mahkota sendiri sebagai pemimpin koordinator dan tiga orang petugas tadi sebagai anggota anggotanya.

Adapun tugas tersebut ialah merencanakan isi buku ensiklopedi, menentukan bentuknya dan kemudian menjalankan rencana itu menjadi kenyataan. Sesuai dengan watak danp sifat Sang Putra Mahkota segala sesuatu dapat berjalan dengan cepat dan lancar. Dapat dimengerti bahwa team tersebut memerlukan pembantu banyak sekali ketika menulis tema tema yang bersifat khusus tentang sesuatu kejuruan, misalnya tema tentang wesi aji, primbon, seni tari, ilmu kanuragan.

Team ensiklopedi Jawa berpendapat bahwa cara menghidangkan segala macam ilmu ilmu, ceritera ceritera dan agama agama kepada khalayak ramai tidak secara urut dan sistematis seperti buku ilmu pengetahuan biasa yang sifatnya kering gersang menjemukan pembacanya, melainkan berwujud ceritera ceritera tentang pengembaraan, dalam bahasa asing.

Agar agar buku ciptaan baru itu dapat menarik dan memikat perhatian para pembacanya, maka team pembuat buku mengambil ketetapan. Paheman minulya.

Pustaka baru itu ditulis dalam bentuk puisi tembang dalam bentuk puisi tembang dengan sekar macapat dan tengahan. Berwujud pustaka ceritera ceritera tentang pengembaraan. Berisikan segala macam ilmu ilmu dan pengetahuan pengetahuan lahir batin, kasar halus, awam gaib, biasa dakik yang ada di permukaan bumi Jawa pada tahun 1814 M yang mengesankan.

Khusus atas kehendak Sang Putral Mahkota ceritera ceritera, dongengl dongeng, peristiwa peristiwa, wejangan wejangan, wedaran wedaran dan lain lain harus diselingi dengan lakon asmara yang mantap dan mengesankan bagi para pembaca. Pustaka yang bernafas kepornoan, kanan digubah oleh Sinuwun Paku Buwana V selaku Ketua Team sendiri.

Namanya ditetapkan Serat Centhini. Pekerjaan besar tersebut mulai dikerjakan pada hari Sabtu Pahing, tanggal 26 Muharam tahun Je, Mangsa VII, angka tahun Jawa 1742 dengan sengkalan : Paksa Suci Sabda Aji atau bulan Januari 1814l M. Pada saat itu telah berkembang pemikiran maju.

Hubungan Jawa dengan Madura lewat jalur genetis. Pernikahan Raja Mataram dengan putri Pamekasan. Yakni GKR Handayawati dan GKR Kencono Wungu.

KGPH Mangkubumi begitu pintar bicara warisan leluhur. Karaton Surakarta punya ragam benda kuna.

3. Paku Buwana V Pencipta Tari Bedhaya Ludira Madu.

Tari Ludira Madu diciptakan oleh Sinuwun Paku Buwana V. Sebagai persembahan buat Ibunda, GKR Handayawati. Garwa prameswari Sinuwun Paku Buwana IV inil berasal dari Pamekasan Madura.

Radya pustaka tempat kitab kuna. Paku Buwana V memberi warisan efigrafi. Halaman folio tulisan tangan huruf Jawa. Di antara naskah naskah dalam kepustakaan Indonesia boleh kiranya dituturkan bahwa Serat Centhini itulah yang terbesar, dan juga yang terlengkap isinya dan pula terunik wujudnya.

Konsep harmonisasi sosial dalam budaya Jawa, adalah bagian dari honsep harmonitas total menurut pandangan Hidup Jawa. Pandangan hiduu, sesuai sari pati jalanan hidup rang Jawa sepanjang masa, sedemikian rupa sehingga Orang Jawa menjadi Jawa
Jadi identitas kejawaan tadi adalah hasil suatu proses yang panjang, melalui seleksi kualitatif, berhubung dengan nilai­n lai kehidupan.

Kesemuanya itu dapat kita temukan dalam berba­gai wulang wulung Kajawen. Yaitu berbagai kepustakaan Jawa, yang berisi ajaran tentang kearifan Jawa kearifan hidup menurut orang Jawa, misalnya Serat Jatiswara, Centhini, Sastra Gendhing, Pangracutan, Hidayat Jati, Wulangreh, Wedha Tama, Ajaran Ki Ageng Suryomataram.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *