Liputan KOLOM

Ramalan Prabu Jayabaya

Ditulis oleh Liputan68 pada 9 April 2021 ⏱️ 2 Menit Baca

Oleh: Dr Purwadi SS M.Hum. 

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA. Hp 087864404347)

A. Membaca Tanda Tanda Jaman

Kali ilang kedhunge pasar ilang kumandhange. Begitu ramalan Prabu Joyoboyo dalam membaca owah gingsire jaman. Sang Prabu adalah raja Kraton Kediri yang waskitho ngerti sakdurunge winarah.

Prabu Joyoboyo memang narendro agung binathoro mbahu dhendho nyokrowati. Dalam memerintah kerajaan Kediri yang beribukota di Dahono Puro, Sang Prabu selalu menjunjung tinggi etika ber budi bowo laksono. Wilayah kerajaan Kediri sangat luas, maka diperlukan sikap konsekwen dan konsisten. Satunya kata dan perbuatan.

Pujangga kerajaan Kediri dijadikan pandam pandom panduming dumadi. Prabu Joyoboyo memperhatikan nasihat Empu Sedah, Empu Panuluh dan Empu Darmojo. Empu Sedah mengajarkan ilmu sangkan paraning dumadi. Empu Panuluh memberi kawruh joyo kawijayan guno kasantikan.

Empu Darmojo memberi wedharan tata praja. Wulangan wejangan wedharan sarjono winasis itu dihayati oleh Sri Baginda. Prabu Joyoboyo bisa tampil sebagai pemimpin yang ambeg adil poromarto.

Leluhur raja Kediri senantiasa amemangun karyenak tyasing sesama. Seperti eyangnya Prabu Joyoboyo yang bernama Sinuwun Prabu Kamesworo. Sang kakek memberi contoh diplomasi dengan negeri di Asia Selatan, Asia Barat dan Asia Timur. Bahkan pada tahun 1105 Prabu Kamesworo mendatangkan guru agama dari Negeri Mesir. Namanya Haji Syekh Syamsujen. Kelak menjadi guru spiritual Prabu Joyoboyo. Agomo ageming aji sebagai landasan ajaran memayu hayuning bawono.

Ramalan Prabu Joyoboyo terbukti. Umpamanya tanah Jawa sabukan wesi. Buktinya sekarang seluruh pangkal ujung pulau Jawa terdapat rel kereta api. Kebo bule mulih menyang kandhange. Bangsa Eropa lepas dari kepulauan nusantara.

Bangsa Nusa Tembini dadi raja saumure jagung. Tanda bahwa Jepang memerintah selama tiga setengah tahun. Begitulah ramalan Joyoboyo untuk membaca owah gingsiring jaman.

B. Berguru Pada Syekh Syamsujen.

Guru yang mbabar kawruh pada Prabu Joyoboyo bernama Syekh Syamsujen. Ilmu Iku Kelakone Kanthi Laku. Lekase lawan kas. Tegese kas nyantosani. Setya budya pangekesing dur angkara.

Prabu Joyoboyo raja Kediri yang terkenal memiliki doyo linuwih. Haji Syekh Syamsujen mengajari loro lopo topo broto. Sang Prabu biasa topo kungkum, topo pendhem, topo gantung, topo ngrowot, topo mutih. Kadang kadang juga menjalankan lelaku mirip sato kewan. Yakni topo ngalong, topo ngidang, topo ngiwak.

Pada bulan Suro Sri Baginda tak lupa lelaku nggenioro mbanyuoro. Pada bulan ruwah Prabu Joyoboyo melakukan topo ngrawe, yaitu berusaha menyenangkan orang banyak.

Kepribadian Prabu Joyoboyo sungguh paripurna. Kebijakan raja Kediri ini amat memikat sesama sahabat. Bebasan kang cerak manglung, kang tebih mantiyung.

Khalifah Bagdad mengirim delegasi untuk berkunjung ke Kraton Kediri. Tim dari Bani Umyyah Irak ini belajar sistem irigasi Kali Brantas. Keluhuran budi Prabu Joyoboyo membikin bangsa manca kayungyun marang pepoyane kautaman.

Tiap saat mereka pasok bulu bekti yang berupa glondhong pangareng areng. Sebagian lagi caos peni peni rojo peni, guru bakal guru dadi, emas picis rojobrono.

Kraton Kahuripan, Kraton Jenggolo, Kraton Singosari menjalin persahabatan lahir batin. Demi eratnya kekeluargaan, Retno Sedhah Mirah, putri Prabu Joyoboyo dijodohkan. Cucu Sekartaji yang cantik jelita ini dinikahkan dengan Prabu Ronggowuni raja Singosari. Kerajaan Kediri dan Singosari terikat oleh tali perkawinan. Usaha demikian dalam rangka untuk mewujudkan kumpule balung pisah.

Berkat didikan Haji Syekh Syamsujen itu pula, Prabu Joyoboyo menjadi raja yang putus ing reh saniskoro. Sang Prabu tahu unggah ungguhing boso, kasar alusing roso, jugar genturing topo. Poro kawulo yang tinggal di kutho ngakutho, deso ngadeso, gunung ngagunung sangat hormat dan berbakti.

C. Ramalan Joyoboyo.

Jongko jangkane jaman merupakan ramalan Prabu Joyoboyo. Kanjeng Sinuwun Prabu Joyoboyo memberi ramalan tentang jenis jenis jaman.

Ramalan Prabu Joyoboyo selalu tepat. Ada empat jaman, yaitu jaman Kartoyugo, jaman Partoyugo, jaman Kaliyugo, kali Sengoro.

1. Jaman Kartoyugo. Pada jaman Kartoyugo ini bumi nusantara adil makmur, murah sandang pangan papan. Sawah luas, sungai mengalir, hutan hijau, gunung biru.

Terjadi pada masa kerajaan Medang, Kahuripan, Singosari, Jenggolo, Doho, Kediri dan Majapahit. Pemimpin dan rakyat bersatu padu. Tanah Jawa bisa mewujudkan prinsip manunggaling kawulo Gusti.

2. Jaman Partoyugo. Pada jaman Partoyugo ini tanah Jawa semakin moncer. Terjadi pada masa kerajaan Demak, Pajang, Mataram, Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran dan Paku Alaman.

Tanah Jawa memiliki budaya adi luhung, seni edi peni. Budaya adi luhung berhubungan dengan nilai filosofis atau pemikiran. Seni edi peni berhubungan dengan nilai estetis atau keindahan.

Tokohnya Kyai Yosodipuro, Ronggowarsito, Paku Buwono dan Mangkunagoro. Mereka adalah pujangga besar yang mewariskan peradaban. Rum kuncaraning bongso, dumunung ing luhuring budoyo.

3. Jaman Kaliyugo. Pada jaman ini bumi nusantara diganggu oleh pemimpin palsu. Tiap menjelang pemilihan umum, mereka mendekati rakyat. Ngalor ngidul mau membela rakyat. Sekolah akan gratis, berobat akan gratis.

Demi ambisi kekuasaan, tak segan segan sogok sana sini. Setelah berhasil menjabat, mereka lupa laut darat.

Kerap sekali pada jaman pemimpin gadungan ini biasa omong mencla mencle. Esuk omong dhele, sore dadi tempe. Jaman Kaliyugo orang suka melanggar tata krama.

4. Jaman Kalisengoro. Pada jaman Kalisengoro ini banyak sekali berita hoax seliweran. Orang berbohong dengan media sosial. Informasi dan teknologi jadi alat tipu tipu. Hp, Internet, email, radio, televisi digunakan untuk saling serang. Ujung ujungnya banyak korban. Apalagi saat ada bencana dunia. Wabah penyakit menular. Lantas diolah untuk membuat gaduh dan kisruh. Ketika masyarakat panik, para penipu ini mengambil keuntungan. Pembohong ini mengail di air keruh.

Oleh karena itu, Prabu Joyoboyo bersabda dengan bijaksana. Sing bener ketenger, sing salah seleh. Becik ketitik, olo ketoro. Sapa kang mbibiti olo, wahyune bakal sirno. Inilah ajaran Prabu Joyoboyo. Agar kita selalu eling lan waspodo.

D. Pewaris Ilmu Prabu Joyoboyo.

Jongko Joyoboyo menjadi pedoman bagi masyarakat Jawa. Untuk membaca tanda tanda jaman. Owah gingsiring jaman dibaca susuai dengan perlambang alam.

Cakra manggilingan, bahwa roda dunia selalu berputar. Siang malam pagi sore, bungah susah silih berganti. Maka orang jangan adigang adigung adiguna. Nasib orang sewaktu waktu bisa berubah. Giri lusi janma tan kena ingina.

Para murid Sri Aji Joyoboyo setia melestarikan ajaran utama. Mereka adalah Prabu Anglingdarna, Empu Tantular, Adipati Sri Makurung Handayaningrat, Ki Ageng Ngerang, Syekh Siti Jenar dan Ranggawarsita. Jalma limpat seprapat tamat.

Murid Prabu Joyoboyo pada umumnya bisa kontak batin. Perasaan mereka halus lembut laksana sutra. Bisa membaca tanda tanda jaman. Pandangan Prabu Joyoboyo menerabas lintas batas. Angelangut bebasan tanpa tepi.

Sembah kalbu yen lumintu dadi laku. Manggih hayu ayem tentrem kang tinemu. Dalam bermeditasi telah mencapai derajat rasa jati, sari rasa jati, sarira sajati.

Dengan penuh konsentrasi spiritual, murid Prabu Joyoboyo memang handal. Rasa tunggal, sari rasa tunggal, sarira satunggal. Inilah puncak manunggaling kawula Gusti.

Kawruh sangkan paraning dumadi telah dikuasai. Hakikat kehidupan benar benar direnungkan dalam hati sanubari.

Prabu Joyoboyo mewariskan ngelmu kasampurnan. Sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, sembah rasa. Selaras dengan tingkatan kama arta darma muksa. Syekh Syamsujen memberi wejangan kepada Prabu Joyoboyo tentang syariat tarikat hakikat makrifat.

Ilmu iku kelakone kanthi laku. Kematangan kawruh batin Prabu Joyoboyo diperoleh dari Syekh Syamsujen. Ulama besar dari Mesir ini datang khusus ke Kerajaan Kediri sebagai guru spiritual.

Dalam sejarahnya Syekh Syamsujen masih keturunan Syekh Subakir. Guru besar spiritual ini punya padepokan di Gunung Tidar. Menjadi pengajar ngelmu kasampurnan pada masa kerajaan Mataram.

Murid murid Prabu Joyoboyo tergabung dalam Paguyuban Honggodento. Tiap bulan Sura mengadakan tata cara di Goa Sela Mangleng, Mamenang Kediri. Lantas dilanjutkan dengan acara labuhan di Parangkusumo.

Jawa jiwa kang kajawi. Kejawen bagi penghayat yang tergabung dalam Paguyuban Honggowongso selalu melestarikan ajaran Sri Aji Joyoboyo. Demi keselarasan jagad gumelar dan jagad gumulung.

(JM-01)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian