Oleh: Dr Purwadi SS M.Hum.
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA. Hp 087864404347)
A. Membaca Tanda Tanda Jaman
Kali ilang kedhunge pasar ilang kumandhange. Begitu ramalan Prabu Joyoboyo dalam membaca owah gingsire jaman. Sang Prabu adalah raja Kraton Kediri yang waskitho ngerti sakdurunge winarah.
Prabu Joyoboyo memang narendro agung binathoro mbahu dhendho nyokrowati. Dalam memerintah kerajaan Kediri yang beribukota di Dahono Puro, Sang Prabu selalu menjunjung tinggi etika ber budi bowo laksono. Wilayah kerajaan Kediri sangat luas, maka diperlukan sikap konsekwen dan konsisten. Satunya kata dan perbuatan.
Pujangga kerajaan Kediri dijadikan pandam pandom panduming dumadi. Prabu Joyoboyo memperhatikan nasihat Empu Sedah, Empu Panuluh dan Empu Darmojo. Empu Sedah mengajarkan ilmu sangkan paraning dumadi. Empu Panuluh memberi kawruh joyo kawijayan guno kasantikan.
Empu Darmojo memberi wedharan tata praja. Wulangan wejangan wedharan sarjono winasis itu dihayati oleh Sri Baginda. Prabu Joyoboyo bisa tampil sebagai pemimpin yang ambeg adil poromarto.
Leluhur raja Kediri senantiasa amemangun karyenak tyasing sesama. Seperti eyangnya Prabu Joyoboyo yang bernama Sinuwun Prabu Kamesworo. Sang kakek memberi contoh diplomasi dengan negeri di Asia Selatan, Asia Barat dan Asia Timur. Bahkan pada tahun 1105 Prabu Kamesworo mendatangkan guru agama dari Negeri Mesir. Namanya Haji Syekh Syamsujen. Kelak menjadi guru spiritual Prabu Joyoboyo. Agomo ageming aji sebagai landasan ajaran memayu hayuning bawono.
Ramalan Prabu Joyoboyo terbukti. Umpamanya tanah Jawa sabukan wesi. Buktinya sekarang seluruh pangkal ujung pulau Jawa terdapat rel kereta api. Kebo bule mulih menyang kandhange. Bangsa Eropa lepas dari kepulauan nusantara.
Bangsa Nusa Tembini dadi raja saumure jagung. Tanda bahwa Jepang memerintah selama tiga setengah tahun. Begitulah ramalan Joyoboyo untuk membaca owah gingsiring jaman.
B. Berguru Pada Syekh Syamsujen.
Guru yang mbabar kawruh pada Prabu Joyoboyo bernama Syekh Syamsujen. Ilmu Iku Kelakone Kanthi Laku. Lekase lawan kas. Tegese kas nyantosani. Setya budya pangekesing dur angkara.
Prabu Joyoboyo raja Kediri yang terkenal memiliki doyo linuwih. Haji Syekh Syamsujen mengajari loro lopo topo broto. Sang Prabu biasa topo kungkum, topo pendhem, topo gantung, topo ngrowot, topo mutih. Kadang kadang juga menjalankan lelaku mirip sato kewan. Yakni topo ngalong, topo ngidang, topo ngiwak.
Pada bulan Suro Sri Baginda tak lupa lelaku nggenioro mbanyuoro. Pada bulan ruwah Prabu Joyoboyo melakukan topo ngrawe, yaitu berusaha menyenangkan orang banyak.
Kepribadian Prabu Joyoboyo sungguh paripurna. Kebijakan raja Kediri ini amat memikat sesama sahabat. Bebasan kang cerak manglung, kang tebih mantiyung.
Khalifah Bagdad mengirim delegasi untuk berkunjung ke Kraton Kediri. Tim dari Bani Umyyah Irak ini belajar sistem irigasi Kali Brantas. Keluhuran budi Prabu Joyoboyo membikin bangsa manca kayungyun marang pepoyane kautaman.
Tiap saat mereka pasok bulu bekti yang berupa glondhong pangareng areng. Sebagian lagi caos peni peni rojo peni, guru bakal guru dadi, emas picis rojobrono.
Kraton Kahuripan, Kraton Jenggolo, Kraton Singosari menjalin persahabatan lahir batin. Demi eratnya kekeluargaan, Retno Sedhah Mirah, putri Prabu Joyoboyo dijodohkan. Cucu Sekartaji yang cantik jelita ini dinikahkan dengan Prabu Ronggowuni raja Singosari. Kerajaan Kediri dan Singosari terikat oleh tali perkawinan. Usaha demikian dalam rangka untuk mewujudkan kumpule balung pisah.
Berkat didikan Haji Syekh Syamsujen itu pula, Prabu Joyoboyo menjadi raja yang putus ing reh saniskoro. Sang Prabu tahu unggah ungguhing boso, kasar alusing roso, jugar genturing topo. Poro kawulo yang tinggal di kutho ngakutho, deso ngadeso, gunung ngagunung sangat hormat dan berbakti.
C. Ramalan Joyoboyo.
Jongko jangkane jaman merupakan ramalan Prabu Joyoboyo. Kanjeng Sinuwun Prabu Joyoboyo memberi ramalan tentang jenis jenis jaman.
Ramalan Prabu Joyoboyo selalu tepat. Ada empat jaman, yaitu jaman Kartoyugo, jaman Partoyugo, jaman Kaliyugo, kali Sengoro.
1. Jaman Kartoyugo. Pada jaman Kartoyugo ini bumi nusantara adil makmur, murah sandang pangan papan. Sawah luas, sungai mengalir, hutan hijau, gunung biru.
Terjadi pada masa kerajaan Medang, Kahuripan, Singosari, Jenggolo, Doho, Kediri dan Majapahit. Pemimpin dan rakyat bersatu padu. Tanah Jawa bisa mewujudkan prinsip manunggaling kawulo Gusti.
