Riwayat Hidup Raja Keraton Surakarta

Oleh: Dr Purwadi M.Hum. 

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA. Hp 087864404347)

A. Pembangunan Karaton Surakarta.

Negari Surakarta
Kraton Surakarta dibangun di atas desa Sala yang masih berawa rawa. Tanah rawa ini dibeli dari Ki Gedhe Sala. Sinuwun Paku Buwana II membayar Satu Leksa Ringgit. Harga itu mahal sekali (Bratadiningrat, 1992 : 84). Kraton Surakarta Hadiningrat berdiri pada tahun 1745 pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwana II.

Paku Buwana II juga mendapat gelar Sinuwun Kumbul. Berdirinya kraton Surakarta mendapat dukungan penuh dari Ki Gedhe Sala. Saat ini kraton Surakarta merupakan pusat dan sumber budaya Jawa yang edi peni dan adi luhung.

1. Sunan Paku Buwana II

Lahir Selasa Pahing, 23 Sawal 1634 atau 8 Desember 1711 di Kartasura. Menjadi raja pada hari Kamis Legi, 16 Besar 1650 atau 15 Agustus 1726. Dan di Surakarta tahun 1745. Wafat tahun 1749.

2. Sunan Paku Buwana III

Lahir Sabtu Wage, 26 Ruwah 1656 atau 24 Februari 1732. Menjadi raja pada hari Senin Wage, 5 Sura 1675 atau 15 Desember 1749. Wafat Jum’at Wage, 25 Besar 1714, atau 26 September 1788.

3. Sunan Paku Buwana IV

Lahir Kamis Wage, 18 Rabi’ul Akhir 1694 atau 2 September 1768. Menjadi raja pada hari Senin Paing, 28 Besar 1714, atau 29 September 1788. Wafat Senin Paing, 25 Besar 1747, atau 2 Oktober 1820.

5. Sunan Paku Buwana V
Lahir Se¬lasa, 5 Rabi’ul Akhir 1711 atau 15 Februari 1785. Menjadi raja pada hari Selasa, 3 Muharam 1748, atau 10 Oktober 1820. Wafat Jum’at, 29 Besar 1750, atau 5 September 1823.

6. Sunan Paku Buwana VI

Lahir Ahad Wage, 18 Sapar 1734, atau 26 April 1807. Menjadi raja pada hari Senin, 10 Sura 1751, atau 15 September 1824. Wafat Ahad Pon, 12 Rejeb 1777 atau 2 Juni 1849 di Ambon.

7. Sunan Paku Buwana VII

Lahir Kamis Wage, 16 Muharam 1723 atau 28 Juli 1796. Menjadi raja pada hari Senin Wage, 22 Besar 1753 atau 14 Juni 1830. Wafat Senin Legi, 27 Siam 1786 atau 28 Juli 1858.

8. Sunan Paku Buwana VIII

Lahir pada hari Senin, 20 April 1789. Menjadi putra mahkota pada hari Kamis 15 Besar 1731 atau 1805.

9. Sunan Paku Buwana IX

Lahir Rabu, 7 Saban 1758 atau 22 Desember 1830. Menjadi raja pada tanggal 30 Desember 1861. Wafat Jum’at Legi, 28 Ruwah 1822 atau 16 Maret 1893.

10. Sunan Paku Buwana X

Lahir Kamis Legi, 21 Rejeb 1795 Jawa atau 29 November 1866. Menjadi raja pada tanggal 30 Maret 1839. Wafat pada tanggal 20 Februari 1939.

11. Sunan Paku Buwana XI

Lahir Senin, 25 Rabi’ul Akhir 1815, atau 1 Februari 1886. Menjadi raja pada hari Rabu Legi, 7 Mulud 1878, atau 26 April 1939. Wafat Sabtu, 21 Jumadilakir 1876 atau 2 Juni 1945.

12. Sunan Paku Buwana XII

Lahir Selasa Legi, 20 Ramelan 1855, atau 14 April 1925. Menjadi raja pada hari Jum’at Pahing, 19 Rejeb 1876, atau 29 Juni 1945. Wafat 11 Juni 2004.

13. Sunan Paku Buwana XIII

Lahir pada hari Senin, 28 Juni 1948 atau 21 Ruwah tahun Dal 1879. Menjadi raja, Jum’at Kliwon 10 September 2004 atau 25 Rejeb 1937.

B. Istana Karaton Surakarta

Deskripsi mengenai
lingkungan wilayah Surakarta cocok bila dihubungkan dengan janturan pedalangan. Diceritakanlah dalam setiap awal adegan pewayangan sebagai berikut : Negara ingkang panjang punjung pasir wukir, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.

Artinya suatu negara yang mempunyai sejarah panjang, luhur serta berwibawa, diapit samudra, bergunung-gunung, murah sandang, pangan, papan, teratur, ayem, tentrem, dan aman sentosa. Begitulah metafora yang digunakan untuk melukiskan Kraton Surakarta melalui seni pewayangan.
Wilayah Surakarta berbatasan dengan wilayah Yogyakarta, Kedu, Semarang dan Madiun. Di sebelah barat terdapat batas alam yang berwujud Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Dari kota Surakarta dua gunung ini seperti gunung kembar.

Kiri kanan tampak gapura yang menjulang tinggi. Menurut masyarakat Jawa Gunung Merbabu lambang wanita, gunung Merapi lambang pria. Dua gunung ini dianggap pasangan suami istri. Gunung Merbabu tampak pasif, sedang gunung Merapi aktif sekali. Kabupaten Klaten dan Boyolali dekat dengan kedua gunung ini.

Penduduk merupakan pendukung utama eksistensi Kraton Surakarta (Julianto Ibrahim, 2004: 32).
Pada bagian barat terdapat Kali Opak yang mengalir dari Gunung Merapi menuju laut selatan. Sungai Opak menjadi batas wilayah Surakarta dan Yogyakarta. Sebelah timur Kali Opak mengalir Kali Dengkeng yang alirannya bergabung dengan Bengawan Solo. Di sekitar sungai ini merupakan dataran yang sangat subur, karena banyak endapan sedimen vulkanis.

Kurang lebih 4 tahun sekali Gunung Merapi mengeluarkan abu vulkanik yang menyebabkan tanah menjadi subur.
Pegunungan Sewu berada di kawasan selatan Surakarta. Dari arah barat memasuki daerah Pajang dan dari arah timur laut menuju daerah Keduwang. Pegunungan Sewu membentang dari Gunung Lawu sampai Pacitan.

Dari daerah Keduwang ini terdapat Kali Keduwang yang bersambung dengan Bengawan Solo. Kali terpanjang ini melintasi daerah Wonogiri, Sukoharjo, Surakarta, Karanganyar, Sragen, Blora, Ngawi, Bojonegoro, Lamongan, Gresik dan Surabaya. Dahulu kala Bengawan Solo merupakan sarana transportasi (Rouffaer, 1931)

233). Babad Madura menceritakan perjalanan Paku Buwana IV yang melintasi Bengawan Solo menuju Pamekasan.

Perahu yang digunakan bernama Kyai Rajamala.
Bagian timur Surakarta terdapat Gunung Lawu. Di sekitar Gunung Lawu banyak ditanami kopi, sebelah barat terdapat Kali Samin, Kali Colo, Kali Wingko dan Kali Jenes. Semua sungai ini berguna bagi para petani di Kabupaten Karanganyar. Setiap bulan Suro raja Surakarta berziarah ke puncak Gunung Lawu. Daya spiritual dipercaya karena penunggunya bernama Sunan Lawu. Tempat spiritual disebut Hargo Dumilah. Konon ceritanya Prabu Brawijaya, raja Majapahit muksa di Gunung Lawu.

Oleh karena itu setiap upacara di Kraton Surakarta tidak lupa mendoakan Kanjeng Sunan Lawu.
Sebelah utara Surakarta merupakan deretan pegunungan Kendheng. Tanahnya tandus, gersang, berkapur dan berminyak. Hawanya panas dan kurang subur. Pegunungan Kendheng membujur dari daerah Grobogan, Pati, Blora, Tuban, Bojonegoro, Lamongan, Ngawi, Nganjuk, sampai Gresik. Kayu jati terbaik berasal dari Gunung Kendheng. Burung perkutut juga amat baik hidup di daerah Gunung Kendheng (Sajid, 1984 : 62). Orang Jawa percaya bahwa gunung Kendheng merupakan pengatur suhu, iklim dan hawa. Malah semua jenis hama tanaman bisa dikendalikan melalui gunung Kendheng.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *