Pusat kota terdapat Kraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran. Keduanya diapit sungai Bengawan Solo dan Kali Pepe. Penduduk meliputi orang Jawa, Cina, Arab dan Eropa. Orang Eropa dahulu tinggal di beteng Vestenburg dan kampung Loji Wetan. Orang Cinta tinggal di kampung Pecinan Pasar Gedhe. Pimpinan disebut Babah Mayor. Orang Arab tinggal di Pasar Kliwon dengan kepala pangkat kapten. Sedangkan orang Jawa bekerja menurut profesi. Maka tumbuh kampung Sayangan, Serengan, Undagen, Telukan, Carikan, Sraten, Klangan, Punggawan dan Gadhing (Darsiti Suratman, 2001 :
23). Proliferasi dan profesi diatur agar masyarakat mempunyai pekerjaan dan penghidupan yang layak demi kemanusiaan.
Istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat, terletak di ujung timur jalan utama yang membelah kota Sala. Apabila memasuki kompleks kraton dari arah utara, di sebelah kiri dan Kanan gapura, akan tampak satu pasang patung yang merupakan salah satu ciri khas, daerah ini disebut Gladak. Di belakang gapura tersebut akan tampak dua buah pohon beringin, dan setelah melewati kedua pohon tersebut, akan tampak satu tanah lapang yang luas dan di tengah lapangan tersebut juga akan terlihat sepasang pohon beringin. Daerah tersebut disebut Alun-alun Lor.
Ada tujuh pengertian makna kraton atau saptawedha:
Pertama, kraton berarti kerajaan. Kedua, kraton berarti kekuasaan raja yang mengandung dua aspek: kenegaraan atau staatsrechtelijk dan magischreligieus. Ketiga, kraton berarti penjelmaan wahyu nurbuwat dan oleh karena itu menjadi pepunden dalam kajawen. Keempat, kraton berarti istana, kedaton, atau dhatulaya. Kelima, bentuk bangunan kraton yang unik dan khas mengandung makna simbolik yang tinggi, yang menggambarkan perjalanan jiwa ke arah kesempurnaan. Keenam, kraton sebagai cultuur historische instelling atau lembaga sejarah kebudayaan yang menjadi sumber dan pemancar kebudayaan.
Ketujuh, Kraton sebagai badan juridische instellingen, artinya Kraton mempunyai barang-barang hak milik atau wilayah kekuasaan atau bezittingen sebagai sebuah dinasti. Adapun makna simbolik bangunan Kraton Surakarta diterangkan sebagai berikut:
1. Gladhag
Bangunan Gapura Gladhag mempunyai makna simbolik bahwa tahap pertama yang harus dilakukan seseorang adalah memulai usaha untuk memayu hayuning bawana agar mendapatkan kamulyan jati, kesempurnaan hidup; mengikat erat nafsu-nafsu hewaniah. Manusia harus bisa menguasai dan mengendalikan nafsu hewani. Untuk mencapai tujuan yang baik, harus dilandasi usaha dengan nilai etika yang baik dan benar. Keserakahan, kelicikan, kecurangan sebagai nilai-nilai negatif yang tidak mendapatkan pembenaran secara moral, harus ditinggalkan.
2. Pamurakan
Gapura kedua adalah Gapura Pamurakan. Pamurakan artinya penjagalan hewan. Di tempat inilah binatang-binatang buruan yang masih hidup, disembelih dalam keadaan terikat. Arti simboliknya adalah tempat ini merupakan penegasan dari niat untuk meninggalkan hawa nafsu hewani. Hewan yang sudah terikat itu masih meronta dan masih berusaha untuk melepaskan diri. Hawa nafsu hewan itu pada tahap kedua harus betul-betul mulai ditanggalkan.
3. Alun-alun
Alun-alun adalah tanah lapang yang luas, lebih dari dua lapangan sepak bola. Di tanah yang luas dan rata tersebut dihamparkan pasir. Jika siang hari yang terik orang yang lewat di alun-alun akan merasakan panas yang menyengat dari dua arah.
Yakni, panas langsung dari sorot matahari dan juga bias dari pantulan pasir yang menyerap panas. Sebaliknya, pada malam hari orang yang melewati alun-alun, akan merasa dingin dan nyaman karena semilir angin yang tidak terhalang pepohonan atau bangunan. Keadaan yang bertentangan itu adalah simbolisasi dari sifat-sifat fitrah alam maya. Sifat-sifat yang kutubnya saling bertentangan. Baik-jahat, enak-tidak enak, indah-jelek. Dikotomi yang saling bertolak belakang. Selalu ada pertentangan, selalu ada dinamisasi, tidak ada sesuatu yang abadi.
4. Ringin Kurung Kembar
Beringin itu dinamakan Kyai Dewandaru dan Kyai Jayandaru. Simbol dari pohon hayat atau pohon kehidupan. Simbol dari kesejukan, kebenaran. Nilai baik itu jelas adanya, demikian juga nilai buruk. Hitam itu jelas, putih itu jelas namun di antara keduanya ada abu-abu. Jayandaru dan Dewandaru adalah simbol dari kebenaran. Batas antara yang baik dan buruk.
5. Pagelaran-Sasana Sumewa
Inilah tempat para birokrat dan pejabat tinggi kraton berkantor. Pagelaran/Sasana Sumewa adalah simbol dari kekuasaan dan peraturan, serta undang-undang yang mengatur suatu negara.
Manusia perlu memahami peraturan hidup dalam bentuk-bentuk tatakrama dan etika. Dalam dimensi spiritual, untuk bisa mencapai kamulyan jati, seseorang harus menguasai tata cara dan syariat-syariat untuk dapat mencapainya.
6. Sitihinggil
Sitihinggil, dengan bangunan di dalamnya yang dinamakan manguntur tangkil.
Raja duduk di singgasananya. Dari sini terdengar orkestra gamelan lokananta yang mendayu-dayu. Di sini Raja mendapatkan perlakuan dengan segala kemegahan, kemewahan dan keagungannya. Banyak orang yang tersesat dalam mencari kejatiandirian. Sitihinggil yang serba menyenangkan itu bisa menyesatkan. Banyak yang merasa sudah menemukan jatidiri, sudah merasa sampai pada tujuan akhir, sudah menemukan Tuhan. Merasa kagum akan segala keindahan dan kenikmatan yang tak terhingga. Namun perlu diingat bahwa ini hanya sebuah terminal, bukan tujuan akhir. Itulah kenikmatan duniawi yang fenomenal, semu dan tidak kekal. Ibaratnya manusia hanya mampir ngombe, atau berhenti sejenak di fase ini.
7. Kori Mangu
Perjalanan itu lalu sampai pada bangunan sebelah selatan Sitihinggil. Nama bangunan sebelah selatan Sitihinggil. Nama bangunan itu Kori Mangu. Sampai di tahap kehidupan ini biasanya seseorang akan disergap oleh sikap ragu-ragu.
Segala apa yang sudah dilalui, diyakini, akan dipertanyakan kembali. Kepercayaan, keyakinan yang selama ini telah menjadi milik diri, seiring dengan pengalaman pengalaman kehidupan yang panjang, benturan benturan dengan nilai-nilai yang lain serta dengan semakin kayanya wawasan, maka keyakinan itu tiba pada titik di mana perlu diuji kembali.
8. Kori Brajanala
Braja artinya tajam, nala artinya pikir atau budi. Dengan ketajaman pikir dan budi keragu-raguan itu harus diurai. Keyakinan, sikap dan prinsip hidup pada tahap ini mengalami revitalisasi. Mengalami penajaman, yang kemudian mengantarkan kepada pencapaian pencerahan.
Dengan dicapainya pencerahan, diibaratkan seseorang menukik ke kedalaman tataran yang lebih tinggi dari kesadaran semula.
9. Kori Kamandungan
Berikut adalah Kori Kamandungan. Di sini terdapat cermin besar sebagai lambang introspeksi diri. Setelah mampu mencapai tahap tarekat maka yang harus dilakukan adalah pencapaian pengetahuan hakikat, pengetahuan rasa jati. Kepercayaan yang haqqul yakin. Kepercayaan yang benar.
10. Panggung Sangga Buwana
Tibalah pada fase perjalanan yang mendekati akhir. Hal ini digambarkan oleh bangunan terakhir yang menjadi lambang pertemuan antara makhluk dan Khalik. Simbolisasi pertemuan antara keduanya dilambangkan dengan bangunan Panggung Sangga Buwana yang menjulang sebagai simbolisasi dari unsur lingga yang berdekatan dengan kori Sri Manganti. Pertemuan antara lingga, unsur laki-laki, dan yoni, unsur perempuanlah yang menjadikan awal kehidupan purwaning dumadi.
11. Kori Sri Manganti
Kori Sri Manganti adalah jalan menuju ke Manunggaling kawula lan Gusti. Pencapaian itu disebut tataran makrifat. Di sini kepercayaan adalah mutlak. Sudah mencapai apa yang dinamakan isbatu’i yakin; kepercayaan yang tak tergoyahkan. Kehidupan duniawi berakhir.
12. Dalem Ageng Prabasuyasa
Kehidupan abadi adalah bertemunya makhluk dengan Sang Khalik.
Orang Jawa memandang pertemuan dengan Khalik itu adalah sesuatu yang sangat indah. Suatu keadaan yang serba baik dan indah.
Keadaan yang sarwa becik itu tidak bisa lagi digambarkan dan diangankan. Maka untuk menjangkaunya digunakan simbol pohon sawo kecik. Tanaman sawo kecik banyak ditanam di area itu. Sawo kecik atau sarwa becik; serba indah.
Sebelum menceritakan riwayat Sinuwun Paku Buwana IX, terlebih dahulu akan dijelaskan tentang hal-hal yang berkaitan dengan Sinuwun Paku Buwana VI.
Dikisahkan Sinuwun Paku Buwana VI dinobatkan menjadi raja pada hari Senin Kliwon tanggal 10 Muharam tahun Dal 1750 wuku Wuye, windu Kuntara dengan sengkalan: Janma Migati Sabda Nata atau 15 September 1824 dengan sengkalan: Dadi Padha Kasarira Nata. Kurang lebih 2 tahun yaitu pada bulan Besar tahun Be 1752 di Yogyakarta ada huru-hara yang dipimpin oleh KPH Diponegoro (perang Diponegoro) dan Surakarta memberikan bantuan.
Para abdi dalem dibagi-bagi menjadi beberapa pasukan di Yogyakarta, Kedu (Magelang), Bagelen, Banyumas serta di daerah Surakarta seperti di Boyolali, Klaten, Picis dan lain-lainnya yang dipimpin oleh para Pangeran. Jalannya penyerangan bergiliran, apalagi Sinuwun Paku Buwana VI bersedia meninjau pasukan yang berada di wilayah Surakarta. Beliau sendiri juga sering meninjau pasukan yang berada di Manang, Kedawung serta Magelang.
Setiap akan berangkat para abdi dalem prajurit serta abdi dalem kaparak dan yang lainnya dari Kraton selalu diberi hajat tumpeng keselamatan bagi para abdi dalem yang akan pergi berperang serta sering diberi nasi timbul yang diberikan oleh beliau sendiri seorang satu kepal.
Idealisme Paku Buwana VI memang kokoh. Pendirian beliau terlalu keras dalam memegang prinsip. Beliau rela berkorban dengan istri dan anak.
Selama dalam pembuangan di Ambon, Sinuwun Paku Buwana VI mengarang Babad Joko Tingkir.
Paku Buwana VI sudah mempunyai seorang Permaisuri bernama Kanjeng Ratu Mas, putri dari KPA Hangabei, tetapi belum sampai memiliki putra sudah dipulangkan ke Pangabean. Diberi gelar Kanjeng Ratu Bendoro. Setelah KPA Hangabei menjadi Raja, Kanjeng Ratu Bendoro diberi gelar Kanjeng Ratu Kadaton.
Tidak lama kemudian Sinuwun Paku Buwana VI mengangkat ketiga garwa ampeyan menjadi permaisuri:
1. R.Aj. Anem diberi gelar K.Rt. Kencono. Beliau putri KPH Hadinagoro I, putra Sinuwun Paku Buwana III.
2. R.Aj. Sepuh diberi gelar K.Rt. Mas. Beliau putri KGPH Mangkubumi I, putra Sinuwun Paku Buwana III. Setelah Sinuwun Paku Buwana IX bertahta K.Rt. Mas diangkat menjadi Kanjeng Ratu Ageng.
3. R.Aj. Pujaningrum diberi gelar K.Rt. Anom.
Beliau adalah putri dari RMH Hadipamenang. RMH Hadipamenang adalah putra dari KPH Balitar II. KPH Balitar II putra dari KPH Balitar I, KPH Balitar I putra dari Sinuwun Paku Buwana II.
Ketiga garwa ampeyan yang diangkat menjadi Permaisuri yang dua belum memiliki putra.
Sedangkan K.Rt Anom sebelum diangkat menjadi Permaisuri sudah memiliki seorang putri bernama BR.Aj. Saparinten, meninggal ketika masih kecil. Setelah diangkat menjadi Permaisuri mempunyai putra lagi lahir perempuan diberi nama BR.Aj. Saparijah, dewasanya bernama Kanjeng Ratu Timur, menikah dengan KPH Notobroto III (cucu Sinuwun Paku Buwana V).
Permaisuri Paku Buwana VI merasakan pahit getirnya kehidupan. Dalam keadaan mengandung, beliau berpisah dengan Sinuwun Paku Buwana VI yang dibuang di kota Ambon.
Diceritakan Kanjeng Ratu Anom ingin memiliki putra laki-laki, setiap malam selalu merayu Sinuwun supaya mau memberinya putera.
Karena bujuk rayu dari K.Rt. Anom sehingga Sinuwun sendiri juga ingin memiliki putra laki-laki, karena putra laki-laki lah yang bisa menggantikan kedudukan ayahandanya menjadi raja secara turun-temurun. Sehingga Sinuwun berusaha dengan keras dan berdoa memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa supaya bisa memiliki putra laki-laki. Selain berdoa Sinuwun juga sering pergi menyepi ke gunung, gua serta berziarah ke Gunung Merapi, Merbabu, Sungkuh, pasarean Bayat dan lain-lainnya.
Pada hari Minggu tanggal 5 Rabiul Akhir tahun Jimawal 1757 Sinuwun berkunjung ke hutan Krenda Wahana. Beliau bersama dengan Tuan Asisten Dieden, diiringi oleh seorang Belanda yaitu Tuan Tieman, para Pangeran, para prajurit Tamtama dan lain sebagainya dengan membawa tambur terompet Hurdenas manca , Hurdenas Jawa serta abdi dalem.
Selain berburu binatang tetapi juga ingin bertemu dengan Sang Hyang Batari Durga untuk minta pertolongan, yaitu bagaimana caranya supaya bisa memiliki putra laki-laki. Adat istiadat harus lestari.
(LM-01)
