oleh

Berburu Budaya ke Negeri India

Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara
Hp : 0878 6440 4347)

1. Menelusuri Jejak Peradaban

Berguru tentang kebudayaan ke negeri India pada tanggal 25 – 28 April 2018. Acaranya yaitu “3 Day International Conference India 8 Southeast Asia: One Indie Belt Share Culture & Common Destiny.” Bertempat di Centre for Chinese & Southeast Asian Studies, School of Language, Literature & Culture Studies, Jawaharlal Nehru University, New Delhi.

Persiapan yang dilakukan yaitu mengurus di Kedubes India Jl. Rasuna Said Kav. S/1 Kuningan, RT 8 RW 3 Jakarta Selatan. Suasana Kedubes pada hari Selasa, 17 April 2018 tampak hikmad, berwibawa dan beraura. Tas, benda elektronik, buku catatan, Hp diminta untuk dititipkan pada petugas. Sejak dari pintu gerbang pengamanan cukup ketat.

Keberangkatan ke India didukung oleh para handai taulan. Mereka memberi sumbangan, dukungan dan saran. Pak Ir. H. Soekirman, Bupati Serdang Bedagai meyakinkan sejak awal dengan urunan. Pak Drs. Joni Walker Manik, MM mengirimkan sumbangan material spiritual. Bahkan Pak Joni yang menjabat sebagai Kadis Pendidikan Sergai bersedia wawancara di PPG Jl. Kaliurang Yogyakarta 20 April 2018. Dengan segala keramahan-nya beliau memandang konferensi ilmiah di India sebagai kegiatan penting.

Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Mas Anies Rasyid Baswedan, Gubernur DKI Jakarta. Mulai dari tahun 1992, saat beliau menjadi ketua Senat UGM, selalu saja mendorong pihak lain untuk maju, berkembang dan produktif. Aktivitas konferensi di India ini juga mendapat dukungan dari Mas Anies Baswedan. Sepanjang masa gerak langkahnya untuk memperoleh kebajikan dan memperjuangkan terangnya jagad raya. Mas Muhammad Chouzin Amirullah membantu Mas Anies dalam hal pekerjaan. Lewat Chouzin ini segala tugas menjadi lancar. Maklum Chouzin menjadi aktivis kemahasiswaan UGM sejak tahun 1996. Menjabat Ketua Umum PB HMI dengan semangat tinggi.

Kemurahan juga datang dari Gusti Mung atau GKR Wandansari beserta KP Wirobumi. Beliau berdua begitu tertarik dengan makalah yang berjudul “Local Wisdom According Ramayana Story that Written by Kyai Yasadipura.” Makalah ini mengulas kearifan lokal yang diwariskan oleh para pujangga Kraton Surakarta. Karya pujangga Jawa menjadi kajian peneliti dunia. Merka menemukan keagungan dan keanggunan yang dapat digunakan untuk membangun peradaban.

Kawan karib yang mendukung penuh kunjungan ke India yakni Among Kurnia Ebo. Aktivis jurnalistik alumni UGM terkenal pemurah, ramah, lincah. Sumbangan untuk kegiatan budaya telah turun berlimpah ruah. Putra dari Lamongan ini setiap hari menjadi aktivis agrobis yang berhasil. Geraknya amat membanggakan, dengan menjadi Trainer pertanian. Berbagai acara pelatihan telah didatangi. Lewat SMS Ebo memberi saran dan pesan tentang suasana negeri India.

Berangkat dari Yogyakarta bertemu dengan Pak Ir. Purwo Jatmiko, M.Eng. Ahli Sosioteknik ini tetap gesit, lancar dan mengagumkan. Analisa tentang perubahan teknologi diulas dengan cermat. Beliau menyarankan agar tak perlu ribut soal persaingan. Cukup cari saja bidang yang tidak digarap orang lain. Terkait dengan konferensi kali ini, Pak Purwo Jatmiko telah dua kali datang ke India. Pada prinsipnya suasana India hampir sama dengan Indonesia. Pagi tanggal 25 April 2018 Pak Purwo kelihatan cerah. Putrinya yang bernama Mbak Ima sedang mendapat anugerah besar. Sebentar lagi Pak Purwo akan menjadi Eyang kakung. Perhelatan tanggal 14 Januari 2018 telah bikin kebahagiaan bersama.

25 April 2018 antara pukul 10.00 – 14.00 berada di Cengkareng Jakarta. Makan siang bersama Prof. Dr. Suwardi, telah tersedia dua bungkus nasi gudeg yang dibeli dari Yogya. Lahap sekali. Lauk krupuk dan tahu. Pengalaman naik kereta sambung yang menghubungkan antar terminal Cengkareng. Sempat pula berbincang dengan pelaku bisnis dari Malaysia. Sebagian bertukar pikiran dengan TKW dan TKI. Mereka bekerja di Malaysia. TKI dari Lampung dan Cirebon merasa kerasan di Malaysia. Lantas perjalanan berlanjut ke India pukul 18.00. Banyak warga India yang pulang kampung. Rupa-rupanya Malaysia sedang menjadi tujuan kerja orang India.

Amat beruntung ada teman baru di deretan kursi. Namanya Alam Muhammad Syafii. Dia bekerja di sebuah company Malaysia. Umurnya 25 tahun. Masih perjaka. Dia mau pulang untuk menikah. Pembawaannya ramah. Mau bercerita banyak tentang negeri India. Makan malam 2 nasi kotak. Gudeg yang dipersiapkan dari kota asal. Enak sekali. Daripada beli di pesawat, harganya mahal dan kurang sedap. Manajemen perjalanan yang terkait dengan makanan dan minuman perlu dilakukan dengan teliti.

2. Suasana Negeri India

Tiba di New Delhi pukul 22.00, kalau di Indonesia bagian Medan barangkali sudah pukul 24.00 WIB. Orang India tampak gagah, cantik dan bersemangat. Lampu bercahaya warna warni seperti siang hari. Suara klakson berbunyi nyaring, bersaing dan bersahut-sahutan. Itulah ciri khas transportasi dan lalu lintas di India. Mobil selalu padat dan tampak bersahaja. Orang India terbiasa dengan kendaraan yang sederhana.

Pada hari Kamis, 26 April 2018 segera mengikuti konferensi di Jawaharlal Nehru University (JNU). Bersama dengan Prof. Dr. Suwardi, masuk JNU kampus ini besar dan luas. Di sela-sela gedung tumbuh tanaman hutan. Putar-putar kampus JNU akan dijumpai hutan yang tumbuh berbagai tanaman. Suara burung berkicau, beterbangan menghiasi suasana perguruan tinggi. Mirip pertapan Saptaharga.

Liputan JUGA  Ir H Soekirman Pelaksana Kepemimpinan Kultural Dengan Dukungan Masyarakat Bawah

Bangunan terbuat dari bahan batu bata. Tampak gedung klasik. Penjagaan keamanan di JNU relatif ketat. Kami berdua sudah datang di kampus kira-kira jam 6 pagi. Terlalu dini, padahal acara konferensi mulai pukul 10.30, sambil menunggu kantin buka, kami melihat JNU dan membayangkan kampus di Indonesia. Jalan kaki pada pagi hari menjadi sarana olahraga. Hawa agak panas, sumuk. Tapi badan tidak berkeringat karena hawa tidak lembab.

Kampus Universitas Jawaharlal Nehru berada di tengah hutan. Cuma tanahnya tandus, gersang dan bebatuan. Kalau ingin jalan-jalan baiknya dilaksanakan pada hari pagi. Supaya tidak terasa panas. International Conference India & Southeast Asia: One Indie Belt, Jawaharlal Nehru University, berlangsung pada tanggal 26-28 April 2018. Demikian pukul 10.00, sebelumnya tim universitas Indrapastha Jakarta memberi suguhan lagu mat-matan, dengan iringan gamelan laras pelog. Pimpinannya priyayi Drajidan Musuk Boyolali. Beliau masih saudara Ki Joko Suwani dan Mbak Suyoto. Mereka adalah penghayat dan pelestari kebudayaan Surakarta. Sajian mereka cukup menggembirakan peserta konferensi di Auditorium, Convention Centre, JNU.

Huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta sebagai identitas
Koordinator konferensi adalah Dr. Gautam Kr. Jha, Dr. Saumyajid Ray, Dr. Sheetal Sharma. Bertindak sebagai keynote speaker Gen (Dr) VK Singh (Ritd), Minister of State, MEA dan Vinay Sahasra Buddhis, Presiden KCR. Pertemuan ilmiah kali ini memberi makna yang cukup dalam. Begitu pentingnya maka hadir pula HE Sidharto Reza Suryadipuro, Ambasador of the Republic of Indonesia in India. Sejak dulu kala hubungan Indonesia dengan India memang erat. Hinduisme dan Budhisme cukup berkembang di kawasan Nusantara. Budaya India kini menyebar ke dunia lewat film. Generasi muda yang aktif diantaranya Geeta Meena Fakultas Bahasa Sansekerta S3 di Sanskerta Jawaharlal Nehru New Delhi; geetacssjnu@gmail.com. Meenu Chanda; Meenuchandra31@gmail.com. Neha Kumari Gupta; M.chanda@google.com.
Bersama dengan para narasumber

Kita perlu memberi rasa hormat. Anak-anak muda ini belajar di Indonesia. Mereka bekerja di perusahaan informasi semacam google. Di balik hiruk pikuk kegiatan yang mendunia ternyata itu pengaruh dari tangan anak muda yang kreatif dan dinamis. Pemikiran mereka sungguh maju, terhormat dan mencerahkan. Kemajuan bangsa ditandai oleh semaraknya semangat ilmu pengetahuan. Mudah-mudahan gerak langkah mereka berbuah pada masa depan. Anak muda ini sungguh mengagumkan. Mereka lincah, gesit dan terbuka. Melihat sinar matanya, mereka tetap optimis. Misalnya pemuda ini, Raveesh Rajanya 8587891761, raveeshrajanya@gmail.com.

Dalam konferensi ini mereka kelihatan bersemangat. Masa depan diperjuangkan dengan ilmu dan budaya. Saat istirahat mereka bangga memberi suguhan padi India. Hasil pertanian ini cukup terkenal di Eropa dan Asia Barat. Beras India bentuknya panjang. Kira-kira empat kali panjangnya beras Jawa. Makanan India berasa pedas. Sedangkan manisan berbentuk bulat seperti buah rambutan. Ternyata manusia ini terbuat dari susu. Rasanya gurih manis. Kalau dikunyah seperti tepung. Rasanya manis mirip geplak. Suguhan ini cocok buat acara resmi.

Arpita Dixit, COP, School & Languages, JNU; arpitadixit09 @gmail.com, 9717380585; Ponart Filsafat ’92 Universitas Almuslim, Kab. Bireuen, Aceh; ponubitt@gmail.com, . Mereka kelompok pecinta alam. Materi yang disampaikan oleh pembicara diperhatikan secara sungguh-sungguh. Narasumber dari berbagai daerah dan negara duduk bersama. Tema yang dibicarakan beragam tema, dengan sudut pandang budaya. Ada yang bicara tentang ekonomi, pekerjaan, perubahan sosial, kearifan lokal, linguistik, peradaban, seni, modernitas, kebangsaan, moralitas dan toleransi. Dengan harapan dunia semakin damai dan tertata.

Pemaparan lagu, tembang dolanan, macapat, cerita, moralitas, sejarah disampaikan lewat peragaan wayang. Sambil menyampaikan materi wayang yang terdiri dari Rama, Sinta, Anoman dan Rahwana ditampilkan. Cukup diberi keterangan that is Rama dan that is Sinta, that is Anoman dan that is Rahwana. Para hadirin sudah mengerti apa maknanya. Dengan membawa alat peraga, maka hadirin sudah tertarik dengan sendirinya.

Pada umumnya para narasumber bercerita dengan amat serius. Materi yang dipersiapkan hendak disampaikan semua. Mereka amat bersemangat. Jauh-jauh telah dipersiapkan. Harapannya segala idealisme bisa ditumpahkan total. Itu normal. Itu baik sekali. Cuma di mana-mana pasti dibatasi waktu. Supaya waktu efektif perlu strategi. Siapkan saja narasi pendek. Ambil keterangan singkat. Mulai dari pendahuluan, isi dan kesimpulan bisa disampaikan dengan tempo sebentar. Para hadirin pun kelihatan capai. Dengan diberi lagu, ternyata mereka terhibur dan terasa memperoleh tenaga baru.
Halaman Convention Centre JNU

Contohnya lagu Sepur Kluthuk yang memberi suasana riang gembira. Meskipun mungkin mereka yang tak mengerti, tetapi senyum renyah mereka terpancar terang.

Sepur Kluthuk

Numpak sepur kluthuk, Wiwit bangun esuk

Nganti wayah sore, Durung tekan nggone

Adhuh lae adhuh lae, E bola bali mandheg greg greg greg

Saben warung dilereni, Neng ati seneng

Suwe suwe suwe suwe suwe, mudhun gerbong pikir susah dadi bungah

kruk krug greg greg kruk krug jenggleng
kruk krug greg greg kruk krug jenggleng

Liputan JUGA  Sejarah Busana Pengantin Jawa

Malam harinya 26 April 2018, Kedutaan Besar Indonesia di India memberi jamuan makan malam. Dari kampus JNU dengan kantor Ambasady jaraknya sekitar 7 km. Kota New Delhi ramai sekali. Jalan-jalan padat dan macet. Ditambah bunyi klakson yang bising. Ciri khas pengemudi India adalah suka membunyikan klakson keras-keras. Suasana jalan seperti barisan trompet. Tepat pukul 19.00 acara di Ambasady dimulai. Seremonial kecil dari Pak Kedubes, nyanyi dan ramah tamah. Menu khas India dihidangkan. Ada sate, roti, pohong goreng dan manisan. Aneka minuman pun tersedia. Pelayan mengedarkan. Para hadirin tinggal ambil. Suasana konferensi pindah dari JNU ke Kedubes.

3. Mengalirkan Sumber Ilmu

Pagi harinya, Jumat 27 April 2018 ada student. Her name: Meenakshi Padav, 9810289642. Memakshiyadaweng3011 @gmail.com. She is very beautiful. Begitulah mahasiswa yang cantik dan hatinya baik. Dia naik sepeda. Terus berhenti ketika kami sibuk cari kendaraan lewat. Sebaiknya cari bus umum di halte. Memang bus berhentinya ditentukan.

Pohon-pohon yang tumbuh di Kampus JNU umumnya sebangsa pohon klampis. Cocoknya tumbuh di daerah panas, gersang, tandus, dan berbatu-batu. Burung-burung beterbangan. Kebanyakan burung gagak, koko beluk atau burung hantu. Suaranya kaok-kaok. Suasana bisa berubah menjadi magis, angker, wingit seperti kayangan Dhandhang Mangore. Tempat tinggal Bathari Durga yang membawahi makhluk halus, jim peri, prayangan, ilu-ilu, banaspati, engklek-engklek, waru dhoyong, wedhon, dan gendruwo.

Saat makan pagi bertemu dengan petugas Kedutaan Besar Vietnam, Ms. Ho Thi Van, 20 Kautilya Marg Chanakyapuri New Delhi India, email: Hovan80@gmail.com, 08130274281; Priyanka Bharti, email: Payal20031997@gmail.com.

Rata-rata mereka bisa berbahasa Indonesia. Ternyata bahasa Indonesia banyak dipelajari oleh warga India. Peng-hormatan bangsa India buat tamu kehormatan dengan diberi kalung serban. Terlebih dahulu ditabur bunga dan didekati bau wangi-wangian. Untuk upacara memang perlu simbol-simbol yang magis, hormat serta membanggakan. Diperkirakan hubungan Indonesia – India akan semakin akrab. Mengulangi hubungan erat yang terjadi pada abad 5. Hindu Budha ber-kembang pesat. Sementara Jawa tumbuh dengan kegemilangan. Warisan nyata adanya candi Borobudur, Prambanan, Pawon, Mendut, Rara Jonggrang. Kini teknologi informasi di India berkembang dengan amat mengagumkan.

Harus diakui bahwa India terlalu berpengaruh pada kehidupan masyarakat Indonesia, terutama budaya Jawa. Pengaruh Hinduisme hingga kini terasa. Konsep kama, arta, dharma, muksa diadopsi oleh masyarakat Jawa dengan istilah sembah raga, sembah cipta, sembah rasa. Jenjang penghayatan hidup dilakukan dalam kehidupan sehari-hari dengan proses yang lebih kreatif. Siklus kehidupan manusia. Mulai dengan proses kelahiran dimulai dengan upacara mitoni. Sebelum lahir para manusia Jawa mendapat penghormatan.

Masa dewasa dan perkawinan mendapat perhatian yang begitu prima. Begitu perhatian maka segala sumber daya dikerahkan dengan sekuat tenaga. Begitu pula setelah meninggal dunia perlu adanya peringatan yang terdiri dari telung dinan, pitung dinan, patang puluh, nyatus, nyewu. Tahapan-tahapan hidup itu dilewati dengan penuh penghayatan, dengan maksud mendapat kebahagiaan lahir batin. Demikian pula konsep Budhisme kamadhatu, rupadhatu, arupadhatu, nirwana dijalankan oleh orang Jawa dengan istilah urip mung mampir ngombe.

Kontemplasi hidup pengaruh Budhisme itu menyebabkan orang Jawa berpikir bahwa dunia itu bersifat sementara. Urip mung mampir ngombe bermakna kesementaraan. Oleh karena tak perlu dibela mati-matian. Jangan hidup sementara ini mengalahkan jaman kalanggengan atau hidup yang kekal abadi. Karena mung mampir ngombe, maka perjalanan masih dianggap sangat jauh. Bekal, tenaga, pikiran harus dihemat dan hati-hati. Contohnya ini, Geetasri Boruah, M.A 1st Year Student, JNU, New Delhi, geetasrib28@gmail.com; 8486949818.

Komentar dia tentang India masa kini. Kehidupan kota didominasi oleh kapitalisme global. Mall-mall, hotel berbintang, bank internasional, apartment menjadi gaya hidup kelas atas. Sementara lapisan bawah hidup dengan keadaan seadanya. Kadang-kadang kumuh, kotor, tidak sehat, pengap, padat, berjejal-jejal. Mereka dipaksa untuk menerima keadaan yang menyiksa. Supaya adil dan berimbang sebaiknya pemerintah mau berpihak pada yang lemah. Keadaan ini sebetulnya tak jauh dengan situasi yang ada di Indonesia.

Misalnya tentang pasar Munirka yang tetap bertahan sebagai pusat belanja tradisional. Keadaannya mirip dengan pasar di Sragen. Tersedia kios yang menjual bahan, makanan, parfum, minuman, gorengan, hiasan, alat dapur, perkakas rumah tangga. Pasar Munirka menyediakan oleh-oleh khas India. Karena ramai sudah barang tentu macet jalannya. Angkot, bajaj, bus kota lalu lalang tiap saat. Untuk angkutan kota keadaannya relatif lebih baik. Berbagai macam angkutan mudah dijumpai. Suara bising, klakson keras, sepeda, motor, mobil amat ramai. Sedangkan proyek jalan dan bangunan banyak yang kelihatan sedang dikerjakan. Kondisi tak jauh beda dengan tanah air.

Soal sistem transportasi di area kampus Jawaharlal Nehru University sudah tertata. Colt kampus, bus kampus, dan bajaj lewat setiap saat. Jarak antara fakultas berjauhan. Juga kantor-kantor administrasi, olahraga, laboratorium, perpus-takaan. Pusat studi jaraknya relatif jauh. Maka perlu sarana transportasi penunjang. Sepeda onthel banyak dijumpai. Barangkali sistem transportasi di kampus tanah air perlu dibenahi. Di kampus Indonesia ada masalah besar karena jumlah kendaraan tak terkendali. Semua area parkir penuh kendaraan.

Liputan JUGA  Sejarah Kedaton Pamase Sebagai Penghormatan Kadipaten Banyumas

Perlu diketahui jumlah mahasiswa di JNU sekitar 10.000. Sebagian besar menempati asrama total 7000. Mahasiswa hidup dan tinggal di asrama kampus. Mereka mudah diatur dikontrol dan diarahkan. Asrama mahasiswa berfungsi untuk meng-arahkan cara hidup mahasiswa. Diharapkan mereka mau berinteraksi. Mereka bisa bergaul, berorganisasi, dan bermasyarakat. Dengan demikian para pemuda ini bisa diajak untuk memikirkan masa depan.

Jalan kaki bagi kebanyakan mahasiswa JNU adalah pemandangan sehari-hari. Barangkali disamakan dengan situasi mahasiswa Indonesia tahun 80 – 90an. Tiap pagi dan sore terlihat mahasiswa UGM dan UNY jalan kaki. Sepanjang Boulevard UGM jalur kanan kiri penuh dengan mahasiswa berjalan. Dampyak-dampyak lir sela brekithi, sama halnya semut berjalan urut di atas batu. Modernitas tidak identik dengan jalan macet, parkir penuh dan lalu lintas crocdid. Berjalan kaki dengan tenang dan tertib merupakan prestasi juga.

Hari kedua, Jum’at 27 April 2018 sampai pukul 16.00 peserta konferensi semakin bersemangat sidang dibagi menjadi 3 kelas. Masing-masing asyik dengan topik menarik. Intinya mereka bersemangat membahas interaksi budaya klasik, kini dan masa depan. Salah satunya membahas film Mahabharata, Ramayana dan Jodha Akbar telah membuat publik Indonesia terkagum-kagum dengan tokoh artis India. Pagi, sore, malam mereka menonton film India di depan televisi. Emosi, perasaan, dan pikiran masyarakat Indonesia dibuat decak kagum.

Cerita Ramayana di Indonesia digarap sejak jaman Raja Syailendra dan Wangsa Sanjaya. Dalam relief Prambanan kisah Prambanan tak bisa dipisahkan dengan ephos Ramayana. Pada jaman Kraton Kartasura – Surakarta banyak dikarang kisah Ramayana secara berseri atau per episode. Contoh pujangga Kyai Yasadipura menulis Serat Rama. Karya sastra ini begitu indah, menarik, berbobot dan melegenda. Sampai sekarang para wiyaga melagukan petikan Serat Rama. Bahasanya bagus, bermutu dan mudah dihafal.

Ephos Mahabharata selalu menjadi acuan para dalang wayang purwa. Namun diolah dengan bentuk cerita carangan. Untuk cerita individu yang punya hajad sebetulnya cerita carangan lebih disukai. Karena kreativitas cerita tersebut di-anggap sebagai cerita dan harapan. Penampilan dalang dianggap doa yang manjur. Maka nanggap wayang purwa dianggap kewajiban kultural dan spiritual. Sedangkan kisah Mahabharata yang sedih dan tragis dihindari. Malah dianggap terlalu sakral. Untuk cerita carangan KGPAA Mangkunegara VII membuat serial lebih dari 360 lakon. Beliau adalah penguasa Pura Mangkune-garan yang berpendidikan modern. Pernah mengenyam pendidikan modern di Universitas Leiden. Lakon carangan karya Mangkunegara VII ini memudahkan pelajaran tentang pedalangan.

Dalam konferensi di India kali ini disajikan pula heroisme Anoman. Dilacak sejak jaman kuna hingga jaman sekarang. Barangkali kutipan Serat Rama berikut ini masih relevan.

Kinanthi

Anoman malumpat sampun
prapteng witing nagasari
mulat mangandhap katingal
wanodya yu kuru aking
gelung lukar wor lan kisma
kang ega-ega kaeksi

Petikan Serat Rama Yasadipura ini banyak dihafal dan populer. Malam harinya, Jum’at 17 April 2018 pukul 9.30 digelar wayang purwa. Lakonnya Ramayana. Dalangnya bernama Pramariza Fadlansyah. Penonton lumayan bersemangat. Iringannya dengan gamelan laras pelog. Dimulai dengan lancaran gambuh pelog nem. Gendhing ini memang mengundang rasa semangat dan gerak yang dinamis. Sebagian wiyaganya berasal dari Musuk Boyolali. Bernama Dono dan Suyono. Kebetulan dia sepupu Ki Dalang Joko Suwani yang terkenal dari Nganjuk. Tokoh dari Musuk yakni RT Yatadipura, abdi dalem Kraton Surakarta. Malam pentas seni ini boleh dibilang sukses. Mahasiswa dan mahasiswi murid Dr. Gautam bersemangat nonton pagelaran wayang. Sekali tempo mereka bertepuk tangan bergemuruh.

4. Kampus Di Tengah Alam

Hari ketiga, 28 April 2018 di sekitar penginapan Arawali Guest House disambut hujan gerimis kecil. Tidak sampai membasahi tanah. Tapi cukuplah dianggap sebagai embun yang menyejukkan. Sementara suara burung gagak tetap saja memberi nuansa magis. Tetaplah bagi orang Jawa, burung gagak dianggap wingit dan mengganggu perasaan. Ada burung gagak berarti ada kematian. Hebat benar daya cium manuk gagak. Sambil jalan pagi terlihat orang sama semedi di atas bebatuan. Kegiatan yoga ini dianggap sebagai aktivitas spiritual demi memperoleh kedamaian. Gerimis kecil berlangsung kira-kira 2 menit. Lantas duduk membayangkan kampus JNU di tengah hutan. Kampus JNU tak ubahnya kumpulan kaum brahmana. Kasta ini mendapat tempat terhormat.
Tempat untuk kontemplasi dan meditasi

Sarapan pagi dibuka pukul 9.30. Kalau di Indonesia sudah pukul 13.00. Rasanya lapar sekali. Untung ke mana-mana bawa camilan, klethikan dan makanan kecil. Tak lupa bawa air mineral. Suguhan beras India, semangka, apel, telur, roti kentang, teh, air putih, manisan yang amat manis. Hari terakhir ini pun dibagi menjadi 2 kelas. Diskusi panel berlangsung seru. Wajah berseri-seri tampak sumringah. Baju berwarna-warni. Salah satu panelis membahas tentang Javanese concept of power. Dalam prakteknya para penguasa Jawa berprinsip narendra gung binathara mbahu dhendha nyakrawati ambeg adil para marta, memayu hayuning bawana. Pemimpin Jawa diharapkan untuk tampil murah, ramah, adil, beradap dan turut serta membangun perdamaian dunia kekal abadi.
Jalan pagi di sports complex JNU

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.