Oleh: Dr Purwadi M.Hum.
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA. Hp 087864404347)
A. Tata Cara Adat Jawi.
Pesanggrahan Langenharjo merupakan sarana untuk melakukan tata cara. Paguyuban abdi dalem Karaton Surakarta Hadiningrat atau Pakasa cabang Kabupaten Sidoarjo berkunjung di Pesanggrahan Langenharjo pada hari Sabtu, 19 Juni 2021. Nalika nira ing dalu, wong agung mangsah semedi.
Bersama dengan Kanjeng KPH Joni Sosrodiningrat segenap warga Pakasa Sidoarjo megeng napas mbendung swara. Mengheningkan cipta demi ketenangan hati. KMT Rizki selaku ketua sanggar tari dan Pakasa Sidoarjo sedhakep saluku tunggal, amepet hawa sanga, sajuga kang sinidhikara. Dunia diharapkan selalu ayem tentrem subur makmur.
Kehadiran Pakasa Sidoarjo ini mengenakan busana kejawen jangkep. Nyamping, kebaya hitam, setagen, sanggul, samir, radya laksana. Aktivitas ritual ini sesuai dengan paugeran yang diwariskan secara turun-temurun.
Pembacaan dhandhanggula kidung rumeksa ing wengi mengawali tata cara. Jalannya laku spiritual di malam hari yang hening sungguh cocok untuk renungan. Dilanjutkan dengan dhandhanggula pamedhare wasitaning ati berkumandang. Kutip serat Wulangreh reriptan Sinuwun Paku Buwana IV cukup reflektif. Raja Surakarta tahun 1788 – 1820 ini berhasil menyusun panduan hidup yang ideal.
Pakasa Sidoarjo naik ke panggung Junggring Salaka. Tempat ritual terletak di tepi bangunan utama Pesanggrahan Langenharjo. Air gemericik yang mengalir dari Bengawan Solo menambah heningnya sanggar palanggatan. Kukusing dupa kumelun, ngeningken tyas sang apekik. Berlangsung sampai menjelang dini hari.
Dhedhep tidhem sabawaning ratri, sasadara wus manjer kawuryan. Heningnya malam tanda panyuwunan terkabul. Warga Pakasa Sidoarjo berhati lapang bahagia.
Pagi harinya, Minggu 20 Juni 2021 jam 06.00 duduk merenung di atas tanggul bengawan Solo. Tepat di depan Pesanggrahan Langenharjo. Bengawan Solo mengalir dari Kabupaten Sukoharjo, Karangayar, Surakarta, Sragen, Ngawi, Bojonegoro, Blora, Tuban, Lamongan, Gresik, Surabaya. Berakhir di Selat Madura. Kanjeng Ratu Handoyowati dan Kanjeng Ratu Sukaptinah adalah putri Adipati Cakraningrat Bupati Pamekasan yang menjadi garwa prameswari raja Surakarta.
Kyai Rajamala yang terletak di pendopo Pesanggrahan Langenharjo berdiri ngengreng wingit mrebawani. Sesaji di depannya dengan kawalan harimau Kyai Simakirti. Sungguh anggun dan agung suasana Pesanggrahan Langenharjo hari itu. Warga Pakasa betul betul berbahagia.
Acara dilanjutkan dengan Pahargyan di Ndalem Kayonan pukul 10. KPH Wirobhumi dan GKR Wandansari berkenan memberi sabda pangandika. Lantas sambutan pengantar dari ketua Pakasa Sidoarjo KMT Rizki. Tari gambyong pangkur tampil pertama. Pentas pula tari bedaya ciptaan sanggar Rizki. Terakhir dengan pasugatan tari bondan. Persembahan Pakasa Sidoarjo ini mendapat sambutan hangat.
Tuan rumah menyajikan bedaya yang diciptakan oleh GKR Wandansari. Penampilan abdi dalem bedhaya disertai dengan harumnya sesekaran yang semerbak wangi. Seolah olah menyambut dunia dengan penuh semangat harapan. Seperti sabda Sinuwun Paku Buwana X, raja Surakarta tahun 1893 – 1939. Rum kuncaraning bangsa dumunung ing luhuring budaya.
B. Pembangunan Pesanggrahan Karaton Surakarta.
Pada tahun 1870 sedang ada pembangunan Terusan Suez di Laut Tengah. Dengan adanya Terusan Suez jarak Eropa dan Jawa menjadi semakin dekat. Terusan Suez berasal dari bahasa Arab Qana al-Suways, berada di sebelah barat Semenanjung Sinai yang berjarak 163 km.
Bangunan megah di Mesir ini atas jasa Insinyur Perancis yang bernama Ferdinand Vicomte de Lesseps. Peluang gemilang ini menguntungkan bisnis Kraton Surakarta (Krisnina Maharani, 2015 : 73). Susuhunan Paku Buwana IX sering pergi berpesiar, kemudian ia ingin mendirikan pesanggrahan untuk beristirahat.
Selain itu ia selalu teringat suara gaib yang ia dengar ketika duduk di tepi danau tepat di atas Kedhung Nglawu. Oleh karena itu sinuwun memerintahkan untuk membuka dusun Klareyan kemudian akan dijadikan pasanggrahan yang bagus. Awal mula pembangunannya pada tahun Be 1800, dengan sengkalan Kembul Kaluhuraning Sarira Nata. Pasanggrahan tersebut menghadap ke timur menghadap sungai, di depannya ada pohon beringin kembar yang dipagari.
Di belakang dan kanan kirinya berupa persawahan yang luas dan asri. Meskipun pembangunannya belum selesai, sinuwun sudah sering datang bersama permaisuri dan para pengikutnya. Setelah pasanggrahan tersebut sudah terlihat indah pemandangannya, sinuwun kemudian memberinya nama Langenharjo.
Pada masa Paku Buwana IX dibuatlah pusaka Kyai Jaka Muncar, Dhuwung Leres, Dhapur Pasopati, Pamor Ron Ndulu, Toya Surakarta dengan Empu Singawijaya. Selain itu beliau membuat Kyai Jaka Mulya, Dhuwung Luk Sanga, Dhapur Panimbal, Pamor Ron Ndulu, Toya Surakarta dengan Empu Singawijaya (Soewito Santoso, 1990 : 61). Setelah pasanggrahan tersebut selesai, sinuwun ingin mengadakan pentas tari sebagai peringatan tingalan-dalem. Malam hari Rabu Kliwon dan Rabu siangnya memanggil KGPA Haryo Mangkunagoro IV sekalian anak dan istri dan para Pangeran.
Ketika KGPAH Mangkunagoro akan menghadap di pesanggrahan Langenharjo, seharusnya ia mengenakan busana sikepan seperti jika masuk ke istana. Karena saat itu bukan masuk istana, ia ingin memakai busana beskap tapi takut, sedangkan kalau memakai busana sikepan terlalu tinggi. Jadi KGPAH Mangkunagoro kemudian memakai busana ‘rokkie’ dengan cara Jawa.
Pada malam Selasa Wage, Kanjeng Susuhunan dan permaisuri sudah datang ke pasanggrahan Langenharjo disambut para putra sentana, abdi dalem, para pengikut semuanya sudah melaksanakan tugasnya masing-masing, seperti: minuman, cerutu, ruang makan, perawat lampu, gamelan dan para niyaga tidak ada yang kurang. Pada malam Rabu jam 8 sore, sampeyan-dalem duduk di pendapa. Para pembesar, pangeran, putra sentana turut menghadap.
Tidak lama KGPAH Mangkunagoro datang bersama istri dan putranya, para lelaki langsung menghadap sinuwun, sedangkan yang wanita masuk ke dalam bertemu dengan permaisuri. Setelah gending penghormatan, KGPAH Mangkunagoro bersama rombongannya disambut dengan baik. Sinuwun merasa senang melihat pakaian yang dikenakan, lalu bertanya: “Pakaian ini namanya apa?”
Kanjeng Gusti menjawab bahwa busananya disebut rokkie Belanda, dipakai cara Jawa.
“Bagus sekali, akan saya namai pakaian Langenharjan, sekalian sebagai peringatan Maspati. Juga saat menghadap ke kraton kuperbolehkan memakai pakaian tersebut.”
Kanjeng Gusti menjawab, “Baik.”
Setelah berbincang-bincang, sekitar jam 1 lalu makan, pesta di paringgitan. Para putri makan di dalam. Selesai makan sinuwun lalu pergi.
Kanjeng Gusti Mangkunagoro diberikan penginapan di dalam pasanggrahan. Begitu pula dengan para putri. Para putra Mangkunagaran yang laki-laki tinggal di rumah para kawula-dalem alit, dekat pasanggrahan, sebagian bermalam di perahu sinuwun yang disediakan di danau.
Pada masa itu sedang ramai gamelan baru bernama angklung. BPH Gondowisworo, pembesar langenprojo, membawa angklung dan wayang kemudian memainkannya bersama para abdi yang ada di perahu. Kemudian menjadi tontonan orang banyak. Hal itu didengar oleh sinuwun, kemudian memerintahkan untuk memberi minuman keras, jadi semakin ramai.
Paginya sinuwun ingin jalan-jalan ke sungai Banjarmalati di dekat Parangjoro, bersama dengan permaisuri dan putra-putri juga diminta ikut.
Ketika sinuwun naik perahu, ia mendengar suara angklung milik BPH Gondoatmojo, membuat hatinya merasa senang. Ia kemudian memerintahkan untuk memainkannya bergantian dengan musik sinuwun. Sinuwun kembali ke pesanggrahan jam 1 siang lalu makan. Setelah sinuwun pergi, tinggal gusti bersama istri dan para pengikutnya sudah diperbolehkan mundur, sedangkan ikan oleh-oleh dari jalan-jalan tadi diberikan pada Mangkunagaran secara merata.
Malam harinya, Kamis Legi, sinuwun dan permaisuri kembali ke istana. Selanjutnya setiap hari Jum’at atau kadang-kadang beberapa minggu sekali, sinuwun pasti datang ke pesanggrahan Langenharjo.
Datang pagi, pulang sore, kadang-kadang juga menginap.
Bersamaan dengan hari Sabtu Legi, tanggal 12 bulan Rabingulakir tahun Be 1800, dengan sengkalan Kumbul Luhuring Murti Nata, sinuwun bersama permaisuri pergi ke Klaten naik kereta api diikuti beberapa putra sentana dan beberapa abdi-dalem.
Keperluannya untuk membuka karetek tosan di Gondang yang baru saja selesai pembangunannya dengan biaya Rp 29.950. Sinuwun kembali ke istana pada sore hari. Pada tanggal 21 Mei 1873 seluruh jalur kereta api sepanjang 203 km antara Semarang-Vorstenlanden dibuka bagi lalu lintas umum.
Ini merupakan awal jalur kereta api ke Vorstenlanden di Jawa Tengah dengan persinggahan di Kota Solo dan Yogyakarta (Krisnina Maharani, 2015 : 74).
Kembali ke pasanggrahan Langenharjo, semakin lama semakin banyak bangunan yang didirikan, kamar dan gedung-gedung, begitu pula tamannya. Karena itu semakin indah dipandang.
Di luar pasanggrahan, para kawula yang membangun rumah di sana semakin banyak dan semakin makmur. Setiap kali sinuwun datang ke pasanggrahan, banyak orang berjualan di sana, kemudian jadi pasar dadakan.
C. Sarana Bertemunya Raja dan Kawula.
Sinuwun kemudian membangun pesanggrahan lagi di sebelah barat pasanggrahan Langenharjo, jaraknya kurang lebih 1 ½ pal ke atas, diberi nama Parangjoro. Bangunan ini juga menghadap ke timur ke arah sungai. Setiap sinuwun datang ke Parangjoro naik kereta, menginap atau pulang sore hari naik perahu mengikuti aliran singai, kemudian mampir ke Langenharjo.
Dari Langenharjo naik perahu lagi sambil bermin kembang api yang membuat anak-anak desa di sepanjang sungai yang dilewati sinuwun merasa senang. Sesampainya di daerah Juruk lalu turun dari perahu berganti naik kereta yang sudah disiapkan, lalu kembali ke kraton.
