Kraton Surakarta memiliki 81 perkebunan. Hasil dari perkebunan tersebut banyak sekali.
Keuntungannya berlipat ganda. Sehingga bisa dikatakan kaya raya (Darsiti, 2001 : 62). Bumi narawita adalah tanah yang berfungsi penghasilan, pemasukan serta meningkatkan kas Kraton Surakarta. Sebetulnya Kraton Surakarta mempunyai beberapa tanah yang dijadikan sebagai lahan bisnis.
Misalnya: tanah untuk pendirian pabrik gula Manisharjo, kebun tembakau di Tegal Gondo Klaten, kebun teh di Ngampel Boyolali dan kebun kopi di Kembang Semarang (Wiranegara, 2005: 7). Tentu saja tanah-tanah tersebut telah memberi kontribusi besar terhadap eksistensi Kraton Surakarta. Biaya dari hasil tanah ini digunakan untuk pemeliharaan dan pelestarian kebudayaan.
Pada hari Senin Paing tanggal 10 bulan Rejeb tahun Be 1808, dengan sengkalan Kaesti Kombul Murti ing Bumi atau 30 Juni 1879, dengan sengkalan Trus Kaswareng Murtining Rat, di dalam istana ada pertemuan. Sinuwun menerima kedatangan komandan Bintanging Orde Vranes Josep dari negara Oostenrijk dari raja di Oostenrijk, diterima oleh tuan residen diiringi tuan asisten residen serta sekretaris tuan Juru Bahasa, tuan Militer Komandan serta para opsir, serta KGPAH Mangkunagoro sekeluarga yang menjadi tuan rumah pada pertemuan tersebut.
Setelah komander memakai soho, surat dari Oostenrijk lalu dibaca. Lalu memberi penghormatan dengan membunyikan meriam, setelah itu pertemuan selesai. Sinuwun dan permaisuri sering keluar untuk jalan-jalan ke pelosok negeri naik kereta diikuti oleh para putra dan petinggi, diikuti para abdi dalem yang naik kuda. Jika musim sedang terang, sinuwum jalan-jalan pada sore hari sekitar jam 5, kalau musim hujan, pagi hari sekitar jam 8-9. Hal tersebut membuat senang para kawula yang daerahnya dilewati.
Sinuwun beserta permaisuri serta para selir pernah datang ke pesanggrahan Langenharjo naik kuda, para putri juga naik kuda. Sudah termasuk babad Notocangkromo, pernah datang ke Ngrodon, juga naik kuda setiap datang ke Langenharjo.
Memberikan perintah pada para pengikut dengan dilagukan, lalu perintah tersebut ditulis dalam Sabak yang diberi tanda: Adisoro (abdi-dalem kesayangan kliwon wanita) lalu diberikan kepada abdi-dalem juru tulis yang terpilih (dulu dinamakan punakawan sekretaris) lalu diberikan pada abdi-dalem wedana yang ada di Srimanganti.
Purbanagaran kusir Belanda Drahguender Hoerdenas serta lain-lainnya yang punya kewajiban mengikuti dan siap sedia di pasanggrahan.
D. Manunggaling Kawula Gusti.
Kadang kala sinuwun bersama permaisuri datang ke pesanggrahan Tegalgondo bersama para putra dan para petinggi serta bermacam-macam abdi-dalem. Kadang kedatangan sinuwun tadi bersama dengan abdi dalem pambendhe, setiap pagi jam 8 bendhe dipukul 3 kali supaya para abdi dalem yang ada di pesanggrahan bersiap. Bunyi bendhe yang bertama kali pertanda untuk berdandan/bersiap-siap, yang kedua berangkat untuk menghadap, yang ketiga sudah lengkap.
Pesanggrahan Tegalgondo dibangun oleh Sinuwun Kanjeng Susuhunan PB VII, yang diperintahkan untuk mengerjakan adalah abdi-dalem onder-mayor R Panji Jayaningrat, di kemudian hari menjadi patih bergelar Kanjeng Raden Adipati Sosronagoro.
Dari semua pesanggrahan yang dibangun tersebut, yang paling sering dikunjungi adalah Langenharjo, sampai-sampai ada warga bangsa Cina sinse yang membuka toko, lama-kelamaan sinse tersebut dijadikan abdi dalem yang berkewajiban untuk membuatkan teh bagi sinuwun.
Atas kehendak sinuwun, sinse tersebut diberi nama ganjaran Amirdjes. Juga atas kehendak sinuwun, disebutkan dalam Serat Menak Wong Agung Jayeng Rono memiliki pengikut bernama Amirdjes, setiap ada pertemuan agung ia bersama-sama abdi dalem Belanda, hanya saja pakaiannya cara Cina. Kadang kadang juga diperintahkan untuk menghadap sinuwun, pernah juga ke Pengging ketika belum jadi pesanggrahan.
Sinuwun suka naik kuda, seringkali ia naik kuda di halaman dengan diiringi musik tropongan atau tropongbang, tingkah laku kuda bisa mengikuti lagu irama gending.
Kadang kala ia pergi ke pesanggrahan di Langenharjo bersama permaisuri, diiringi oleh selir sinuwun bernama Raden Ayu Wirasmoro dan Raden Rarasati, mereka semua naik kuda diiringi para putra sinuwun yang juga naik kuda. Jadi perhatian masyarakat di sepanjang jalan, sampai dijadikan babad bernama Babad Notocangkromo.
Sesampainya di pesanggrahan Langenharjo biasanya lalu berlatih senjata dan memanah, permaisuri juga melatih para pengikut yang memang suka, sehingga kelihatan trampil bermain pedang. Pesanggrahan Langenharjo dibangun sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan Kanjeng Ratu Kidul (Bram Setiadi, 2011 : 176).
Keadaan demikian itu menjadi pertanda bahwa kerajaan dalam keadaan tentram, keluhuran sinuwun menjadi pertanda tidak adanya halangan, juga menandakan bahwa kehidupan rumah tangganya yang damai.
Sinuwun juga menyukai bepergian naik perahu. Setiap kali sungai sedang tinggi airnya, bisa dipastikan ia akan pergi keluar bersama permaisuri dan para pengikut untuk naik perahu. Pada waktu itu, di dalam kota belum dibuat tanggul, karena itu setiap musim hujan di kota selalu kebanjiran, kadang sampai di alun-alun, malah pernah sampai di pelataran kraton.
Sinuwun kemudian pergi naik perahu sekalian memberikan makanan para penduduk yang rumahnya kebanjiran, serta uang satu teng (4 1/5 sen), kadang sinuwun juga memberi semangat, ‘Selamat semua, tidak apa-apa, jangan dibuat susah.’ Kata kata sinuwun tersebut membuat para pengikutnya merasa senang tak terkira.
Karena sinuwun senang naik perahu, maka perahu yang dimiliki cukup banyak dan bagus. Perahu yang paling bagus dan besar dinamai Kyai Rojomolo. Dinamai Kyai Rojomolo karena sangat besar, kalau sungai tidak sedang banjir tidak bisa dijalankan karena kandas. Perahu tersebut buatan Sinuwun Kanjeng Susuhunan PB V ketika masih menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom.
Ada lagi yang bernama Kyai Rojoputri, bentuk perahunya cukup besar, hadiah dari Kanjeng Tuan Jendral pada masa pemerintahan Susuhunan PB VI.
Selain senang naik perahu, sinuwun sering berjalan-jalan di dekat pesanggrahan Langenharjo dan Parangjoro untuk menyenangkan para istri dan para putra, kadang juga mengundang rekan-rekan sinuwun sekeluarga sehingga menjadi suatu pertemuan.
Di sana lalu dibangun tarub yang dihiasi dengan janur kuning dan bermacam-macam dedaunan untuk tempat duduk sinuwun dan para tamu, aa juga tarub untuk tempat gamelan, musik serta tempat untuk para abdi dalem yang ikut. Ada juga tempat untuk mempersiapkan bermacam macam suguhan.
Juga disediakan perahu tembo utntuk para lurah juru selam dan lurah pambelah. Kalau juru selam terlihat muncul di permukaan dan mendapatkan ikan besar, lalu disoraki dan diriingi musik carabalen.
Anak-anak dan orang dewasa di sekitarnya, bahkan ada yang datang dari jauh, berdatangan ingin melihat. Jadilah pasar dadakan, banyak orang berjualan.
E. Kyai Rajamala
Karem ing galih. Kesenangan sinuwun untuk jalan jalan menyenangkan istri dan anak menjadi pertanda luhurnya kewibawaan sinuwun karena semua bisa dilakukan, menjadi tanda bahwa masa tersebut merupakan masa kebahagiaan.
Ketika masa pemerintahan Kanjeng Sinuwun PB VIII, di seluruh negeri Surakarta ada banjir besar sampai masuk ke dalam kraton. Banjir tersebut terjadi sampai hari Sabtu Legi tanggal 12 ruwah tahun Jimawal 1821.
Menurut perhitungan para ahli, setiap 32 tahun akan ada banjir besar lagi. Karena itu sebelum tahun 1921 tersebut, dua tahun sebelumnya, sinuwun memerintahkan untuk memperbaiki perahu Kyai Rojomolo. Perahu tersebut diperbaiki di tepi sungai Langenharjo sebelah barat. Setiap kali sinuwun datang ke Langenharjo, beliau mampir untuk melihat pengerjaannya.
Sebelum memasuki bulan Ruwah tahun Jimawal 1821, perbaikan perahu Kyai Rojomolo sudah selesai. Meskipun air sungai kadang sudah tinggi, namun belum bisa membuat Kyai Rojomolo mengambang, jadi perahu tersebut masih ada di tepi sungai. Pada suatu hari banjir cukup besar.
Sinuwun dan permaisuri pergi ke Langenharjo diantar para putra dan abdidalem naik Kyai Rojomolo namun jalannya tidak bisa kencang. Setelah beberapa lama naik perahu mereka kembali ke pesanggrahan.
Pada hari Jumat Kliwon tanggal 11 bulan Ruwah tahun Jimawal 1821, sungai Langenharjo banjir sampai hampir meluap, padahal hujan masih turun dengan deras. Kemungkinan air masih naik lagi, karena itu keadaan tersebut dilaporkan. Pada sore harinya sinuwun dan permaisuri datang ke Langenharjo.
Malam harinya hujan masih deras, paginya air sungai semakin besar sampai masuk pelataran pesanggrahan. Sinuwun dan permaisuri serta para putra lalu naik perahu Kyai Rojomolo, diikuti perahu-perahu kecil yang dinaiki para abdi dalem membawa gamelan beserta niyaganya.
Perginya sinuwun tidak boleh terlalu jauh, hanya sampai Bacem lalu kembali ke pesanggrahan. Pada hari itu hanya sebagai pengingat bahwa Perahu Kyai Rojomolo dinaiki oleh sinuwun.
Pesanggrahan menjadi sarana pertemuan umum. Itulah wujud manunggaling kawula gusti.
Adanya Pesanggrahan Langenharjo menjadi sarana untuk melakukan tata cara ritual. Paguyuban abdi dalem Karaton Surakarta Hadiningrat atau Pakasa Sidoarjo yang dipimpin oleh KMT Rizki telah memperoleh pencerahan. Demi pengembangan budaya adi luhung.
(LM-01)
