Paku Buwana II Belajar Ilmu Wali Sanga di Kadilangu Demak

Oleh: Dr. Purwadi, M. Hum. 

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA. Hp. 087864404347)

A. Ajaran Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga guru suci ing tanah Jawi. Paku Buwana II belajar ilmu agama di Kadilangu Demak Bintara sejak tahun 1715. Dengan diantar oleh Kanjeng Ratu Kencono.

Garwa prameswari Amangkurat Jawi ini memang putri KRT Tirtokusumo Bupati Kudus. Juga alumni peguron Kadilangu yang dibangun oleh Sunan Kalijaga. Muridnya banyak. Datang dari berbagai pelosok negeri.

Wali Sanga adalah guru raja Demak dan Pajang. Berpengalaman dalam menyebarkan agama lewat jalur budaya. Berperan pada awal berdirinya kerajaan Demak. Pelajaran ini dihayati benar oleh Paku Buwana II.

Raden Patah raja pertama Kasultanan Demak Bintara. Masjid agung Demak berdiri bersamaan dengan lahirnya kasultanan Demak Bintoro yang dipimpin oleh Raden Patah sejak tahun 1478. Raja Demak yang dimulai Raden Patah lantas Kraton Pajang dan Mataram menganggap masjid Demak sebagai pusaka agung. Karena dibangun oleh wali sanga.

Saka guru atau tiang penyangga utama masjid agung Demak dibuat oleh Sunan Kalijaga, dengan mengumpulkan serpihan tatal. Kesaktian Sunan Kalijaga menakjubkan. Tatal tatal yang berserakan dikumpulkan menjadi satu, lantas dianyam menjadi tiang bangunan yang kokoh. Saka guru atau tiang itu berdiri tegak sepanjang masa.

Keutamaan dalam beragama bagi Paku Buwana II terasa penting. Daya linuwih masjid Demak dianggap wingit dan magis. Disebelah masjid ini bersemayam makam Raden Patah dan Prabu Puntadewa raja negeri Amarta. Prabu Puntadewa dikenal sebagai raja berdarah putih. Beliau memang penguasa negeri Amarta yang suci dan berbudi tinggi, ber budi bawa leksana, ambeg adil paramarta, memayu hayuningrat.

Prabu Puntadewa mempunyai pusaka yang ampuh, tangguh, dan sepuh. Pusaka ini bernama jimat Kalimasada. Makna Jimat Kalimasada atau Jamus Kalimasada ini belum diketahui oleh Prabu Puntadewa maka hidupnya belum bisa sempurna. Oleh karena itu perlu orang yang bisa mbabar kawruh.

Raden Patah sebagai raja Islam di tanah Jawa diminta tolong oleh Prabu Puntadewa, agar menjelaskan makna jimat Kalimasada. Bertempat di Masjid Demak Raden Patah memberi makna Jimat Kalimasada. Sebetulnya kalimasada merupakan pembacaan dua kalimat syahadat. Kalimasada berarti kalimat syahadat.

Dengan dibimbing oleh Raden Patah, lalu Prabu Puntadewa mengucapkan dua kalimat syahadat. Pembacaan dua kalimat syahadat ini disaksikan oleh segenap dewan wali sanga. Seketika Prabu Puntadewa menjadi insan kamil atau hidup yang sempurna.

Tiba saatnya Prabu Puntadewa surut ing kasidan jati, manjing ing tepet suci. Prabu Puntadewa raja negeri Amarta ini wafat. Wali sanga melakukan sholat jenazah Prabu Puntadewa di masjid Demak. Raden Patah dan Wali Sanga melakukan upacara pemakaman untuk mengantar Prabu Puntadewa menuju swargaloka.

Bangunan masjid itu didirikan oleh para wali bersama-sama dalam waktu satu malam. Atap tengahnya ditopang, seperti lazimnya, oleh empat tiang kayu raksasa. Salah satu di antaranya tidak terbuat dari satu batang kayu utuh melainkan dari beberapa balok, yang diikat menjadi satu.

Tiang tersebut adalah sumbangan Kanjeng Sunan Kalijaga. Rupanya tiang itu disusun dari potongan potongan balok yang tersisa dari pekerjaan wali wali lainnya, pada malam pembuatan bangunan itu ia datang terlambat, oleh karenanya tidak dapat menghasilkan sebuah pekerjaan yang utuh.

Tentang Masjid Agung Demak Bintara, Kanjeng Sunan Kalijaga menduduki tempat yang penting. Dialah yang berjasa membetulkan kiblat masjid mengarah ke Mekkah. Kanjeng Sunan Kalijaga jugalah yang memperoleh baju wasiat antakusuma, di tengah para wali yang sedang bermusyawarah.

Baju yang juga disebut Kiai Gundil itu dianggap sebagai salah satu pusaka raja raja Jawa. Kanjeng Kanjeng Panembahan Senopati, Narendra Mataram Hadiningrat pertama yang merdeka.

pada 1590 dapat mengalahkan Pangeran Madiun karena mengenakan baju tersebut yang membuatnya kebal. Baju itu diterimanya dari Syekh Kadilangu, ahli waris Kanjeng Sunan Kalijaga. Pada 1703 baju tersebut masih disebut sebagai salah satu pusaka kraton.

Kisah mengenai pembangunan Masjid Agung Demak Bintara dan mengenai baju tersebut, ada hubungannya dengan api surga. Ki Ageng Sela, tokoh yang menangkap kilat, di ladang. Ia membawa kilat itu ke Masjid Agung Demak Bintara atau kepada Kanjeng Sultan Demak Bintara. Sebuah relief, yang dibuat di atas pintu gerbang utara bangunan.

Pintu gerbang yang bernama Pintu Bledeg Kilat. Dulu adalah pintu gerbang utama. Kilat yang telah terkurung untuk beberapa waktu, kemudian dapat meloloskan diri atau dibebaskan. Sela adalah suatu tempat di tlatah sebelah timur Demak Bintara.

Ki Ageng Sela yang sejarah itu sangat dimuliakan sebagai moyang trah wangsa Narendra Mataram Hadiningrat. Dua kali setahun Sunan Surakarta menyuruh mengambil api dari lampu di atas makam Ki Ageng Sela, untuk menyalakan lampu di muka ruang sucinya sendiri, di bagian kraton yang paling dalam. Hal api Sela ini tiba di Surakarta dengan arak-arakan yang khidmat, banyak pula pangeran memanfaatkan kesempatan itu untuk menyalakan lampu.

Mukjizat penangkapan kilat di Demak Bintara itu dihubungkan dengan suatu keputusan politik penting. Penghormatan pada Ki Ageng Sela merupakan tradisi trah bagi wangsa Mataram Hadiningrat. Masjid Agung Demak Bintara menjadi pusat bagi umat muslim kuno di Jawa Tengah. Di kalangan itu bahkan ada anggapan bahwa mengunjungi Demak Bintara dan makam orang suci di sana dapat disamakan dengan naik haji ke Mekkah.

Nama Kudus yang pada abad ke-16 diberikan kepada pusat keagamaan Islam yang lain, terletak tidak jauh dari Demak Bintara, berasal dari kata al-Quds. Hal nama Arab untuk Yerusalem juga kota suci bagi orang Islam.

Sinuwun Sunan Paku Buwana I di Kartasura berkata bahwa Masjid Agung Demak Bintara dan makam suci di Kadilangu sajalah yang merupakan pusaka mutlak, ugere pusaka ing tanah Jawa.

Pada 1710 ia memerintahkan perbaikan bangunan itu dan mengganti atapnya dengan sirap baru. Sinuwun Sunan Amangkurat II atau Amangkurat Surabaya pada 1682 mengucapkan sumpah setianya kepada perjanjian perjanjian yang diadakannya di Masjid Agung Demak Bintara.

Betapa pentingnya Masjid Agung Demak Bintara di alam pikiran orang Jawa Islam. Masjid Agung Demak Bintara telah menjadi Kotanegara Islam pertama di Jawa Tengah. Kota yang kemudian dikenal sebagai Kotanegara Kraton Demak Bintara. Kota ini cepat menjadi pusat perdagangan dan lalu lintas, dan menjadi pusat ibadat bagi kelompok menengah Islam yang baru muncul. Politik ngelar jajahan raja raja Demak Bintara dalam masa kejayaannya telah jauh masuk ke Jawa Barat, Tengah, dan Timur.

Perhatian Paku Buwana II dalam bidang agama cukup tinggi. Hal itu selalu dibarengi dengan dakwah agama, sebab semangat agama raja raja dan pengikut mereka sendiri sedang berkobar-kobar. Raja-raja Demak Bintara menganggap Masjid Agung Demak Bintara sebagai simbol kraton Islam mereka. Masjid Agung Demak Bintara pada abad-abad berikutnya menjadi krusial sekali dalam dunia Jawa, dan itu pada prinsipnya merupakan jasa trah Demak Bintara.

Masjid Agung Demak Bintara merupakan pusat untuk menghormati orang suci, terutama Kanjeng Sunan Kalijaga, wali dan pelindung Jawa Tengah sebelah selatan. Meskipun kekuasaan raja-raja Demak Bintara jatuh, kesetiaan yang berurat berakar terhadap para wali mengakibatkan Masjid Agung Demak Bintara tetap merupakan pusat kehidupan beragama di Jawa Tengah.

Kisah mengenai imam imam Masjid Agung Demak Bintara beserta para pengurusnya sangat terpandang. Di dekat pengimaman Masjid Agung Demak Bintara terdapat sebuah relief yang disemen dalam tembok. Relief tersebut menunjukkan candra sangkala, yakni tahun prastawa berwujud lukisan konkret, namanya mempunyai nilai angka.

Candra sangkala tersebut berwujud lukisan kepala, kaki, tubuh, dan ekor, menunjukkan tahun 1401 Jawa yang sesuai dengan 1479.

Pada pintu gerbang utama Masjid Agung Demak Bintara tertera candra sangkala yang melambangkan tahun 1428 J yakni 1506.

Tahun prastawa itu bertepatan dengan waktu muncul dan ngrembakanya kekuasaan Kraton Demak Bintara. Tahun 1506 cocok dengan tahun 1507, yakni duk nalikaning Sultan Demak Bintara Kanjeng Sultan Trenggana hadir pada peresmian masjid.

Raden Patah menjadi pimpinan upacara adat. Contoh ini cukup memberi inspirasi bagi Paku Buwana II. Prosesi pelaksanaan upacara Grebeg Besaran dimulai setelah sholat Idul Adha yang diselenggarakan di Masjid Agung Demak. Arak arakan di bawah koordinasi Pemerintah Kabupaten Demak, dari Masjid Agung menuju pendopo Sasono Renggo lantas dilanjutkan tahlilan di cungkup kompleks makam Sunan Kalijaga. Mereka yang bertugas berpakaian busana Jawa lengkap yang berbaris mengikuti rombongan ulama yang berbusana serba putih.

Upacara pada kegiatan dakwah Islam yang diselenggarakan oleh para Wali Sanga pada masa silam.
Masjid Agung Demak menjadi titik awal berangkatnya barisan dari anggota karnaval karena amat relevan dengan perjuangan Sunan Kalijaga yang telah membuat tiang atau saka guru.

Lama sekali Paku Buwana II belajar agama di Masjid Demak. Oleh karena itu Masjid Agung Demak juga bernuansa historis sekaligus mistis. Dalam berbagai kepustakaan Jawa, terutama serat serat babad Masjid Demak diungkapkan dengan penuh heroisme yang bernuansa magis.

Masjid di samping sebagai tempat beribadah rutin, juga dapat berfungsi sebagai sekretariat bersama. Apalagi bila tempatnya amat strategis, masjid bisa digunakan untuk merancang berbagai program sosial. Ini didasari benar oleh para wali. Seluruh para wali membahas rencana membangun masjid agung untuk berhimpun menyelenggarakan salat jamaah kala berkumpul, juga para adipati di Jawa dan seberang jikalau mereka hadir semua. Janganlah mereka sampai kecewa dan dapat diterima sepantasnya. Sarana haruslah patut menjadi pusaka sang raja.

Kehendak seluruh wali yang delapan membangun masjid baru yang agak besar agar kelak meninggalkan jejak tempat keramat di negeri Demak sebagai pusaka bagi semua raja di Tanah Jawa. Sementara masjid agung lama yang diciptakan Kanjeng Sunan Ngampel saat kejayaan Majapahit sekedar sebagai cikal bakal. Masjid itu diciptakan untuk Sang Adipati Bintara.

Tatkala membuka lahan dan mulai membangun pemukiman yang memancar dari Ngampel atas petunjuk gurunya Kanjeng Sunan Ngampeldenta. Raden Patah membuat pemukiman, membabat hutan di Demak. Tanah perkebunan tebu yang berbau wangi lama kelamaan menjadi kraton. Banyak santri yang belajar di sana, menjunjung tinggi agama Islam. Semua teguh beribadah. Pada waktu itu, Kanjeng Sunan Ngampel Denta.

Datang membuatkan masjid untuk sholat berjamaah. Mengenai ukurannya janganlah para pembaca kisah ini salah mengira. Masjid Agung Demak itu ada dua. Yang satu masjid lama satunya lagi masjid baru. Jangan sampai keliru mengenalinya, berhati-hati dan cermat. Sengkala menjadi pengingat di situ kejelasannya. Kini kisah berlanjut lagi, mereka para wali bermusyawarah akan membuat pusaka persalatan agung. Semua sudah bersepakat.

Dimulailah pekerjaan, mereka berbagi kerja. Masing-masing bertanggung jawab dengan tugasnya. Sudah diukur dengan seksama besar dan kecilnya, panjang dan pendeknya bagian bangunan. Semua unsur bangunan masjid digambarkan beserta ukurannya, demikian pula lama waktu pengerjaannya.

Dihimpun seluruh bagian menjadi sebuah kerangka. Dicocokkan bagian bagian tetapnya, balok yang menjadi puncaknya. Seluruh wali mengambil tugas, lengkap dengan wali kesembilan Panembahan Bintara.

Saka guru yang berjumlah empat bagian para Wali Sanga. Sementara, saka pembantu yang berjumlah dua belas yang terletak di antara saka pinggir dan di luar saka guru yang empat adalah tugas para wali bawahan. Kanjeng Pangeran Atas Angin, Syekh Siti Jenar, Pangeran dari Gerage, Raja Brahmana Penguasa Gresik, Pangeran Bawean, Sunan Cendana.

Peran Wali ini semua dipelajari oleh Paku Buwana II selama berguru agama di Kadilangu Demak Bintara. Sunan Geseng, Pangeran Cahyana yang dimakamkan di Gunung Lawet, Pangeran Jambukarang, Pangeran Kurawang, Syekh Wali Lanang, Syekh Waliyulislam. Juga Syekh Maghribi, Syekh Suta Maharaja, Syekh Parak dan Syekh Bentong, Raja Brahmana Galuh, Raja Brahmana di padepokan Pemalang, Brahmana Karangbaya. Juga Kanjeng Sunan Katib, Sunan dari Panataran, Sunan Tembalo, Sang Brahmana Ngusman Nuraga, Brahmana Ngusman Aji mereka mempunyai tugas saka bagian tengah.

Adapun saka pinggiran berjumlah dua puluh. Ditugaskan untuk mengerjakan saka pinggir ini para wali dan Brahmana yang menjadi perdikan, para ulama yang hebat dan agung, para mufti dan hukama. Para zahid dan ngabid yang taat, para ahli mistik mungahid dan ahli iman. Mereka itu mukmin yang terpilih dan orang-orang yang sholeh. Mereka bertugas mengerjakan saka pinggir. Sedangkan gelagar utama, yang menjadi alas puncak dan usuk pangkal. Dengan gelagar penopang utama.

Gelagar pelat ditangani oleh para adipati. Sedangkan gelagar penopang kedua dan semua jurai pelipit serta bubungan agung baik yang di atas maupun yang di bawah. Menjadi tugas bagi seluruh satria, kerabat raja besar maupun kecil. Adapun semua usuk dan yang menjadi pagar pembatasnya sudah ditugaskan kepada para mantri hulubalang. Punggawa mantri terkemuka. Sementara semua sirap yang dipakai untuk atap. Semua menyumbangkan material. Ketika itu mereka pun bubar, sesudah menyepakati hari pengumpulan bagian bangunan.

Mereka semua pulang ke rumahnya masing-masing untuk mengerjakan bagian bangunan yang menjadi tugasnya. Tak diceritakan di sini lama pengerjaannya. Dan perakitan kerangka bagian atas sudah disusun, jadilah semua. Sudah dirakit tiap bagian dengan serasi, demikian pula dengan bagian dalamnya, semua tiangnya, sudah disusun.

Gelagar pengikat dan gelagar pelat sudah disusun semua. Yang ketinggalan hanyalah tiang utama. Yang empat, ketika itu baru dimulai. Ketika akan dirakit, tiang utama kurang satu, baru tiga jumlahnya. Maka Sunan Bonang pun menanyakan tentang Sunan Kalijaga mengapa tidak kelihatan sedang tugasnya belum diselesaikan. Tiang utama yang menjadi bagian tugas Sunan Kalijaga tiada tanda tandanya.

Hanya tafakur menyendiri terlihat tenang-tenang saja. Kini perakitan tiang-tiang itu semakin terdesak oleh waktu. Waktu semakin mendesak oleh karena besok haruslah sudah berdiri tegak Masjid Agung.

Kanjeng Sunan Kalijaga tersentak lalu mendekat ke depan mendapat marah dari Kanjeng Sunan Bonang Sang Penguasa Jagad. Kanjeng Sunan Kalijaga berhatur sembah menunduk menerima marah. Lalu pergilah Sunan Bonang dari hadapan Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga kemudian menuju tempat orang yang sedang bekerja, mengumpulkan kepingan kayu terserak.

Teramat banyak jumlah potongan kayu yang dibopongnya. Keping-keping itu diikat, ditata, disusun dengan cermat oleh Sunan Kalijaga.

Bagaikan orang membuat obor berbentuk silinder bulat nan panjang, tinggi dan langsing. Sunan Kalijaga merasa cocok hatinya. Kisah ini memberi berbagai macam kearifan simbolik kepada kita. Bahwa tak ada rotan, akar pun jadi adalah sebuah kreativitas yang patut dihargai. Soal soal sepele pun bisa bermakna. Begitulah perjuangan Raden Patah yang amat hebat.

Masjid Demak bagi Raden Patah bukan saja sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai ajang pendidikan mengingat lembaga pendidikan pesantren pada masa awal ini belum menemukan bentuknya yang final.

Peguron Kadilangu tetap menjadikan Masjid Demak sebagai pusaka utama. Paku Buwana II membangun Masjid dan pesantren di Mataram. Maka sesungguhnya merupakan center of excellence yang saling mendukung dan melengkapi dalam membentuk kepribadian muslim yang berakhlakul karimah, toleransi pada sesama dan mempunyai sikap saling menghormati.

Dengan demikian Paku Buwana II punya prinsip yang luwes dalam praktek keagamaan. Kerajaan Mataram sebagai tempat persemaian toleransi yang hakiki.

B. Paku Buwana II Membaca Kitab Makrifat.

Raden Patah Bintara melanjutkan kejayaan Prabu Brawijaya. Dengan menerapkan ajaran Wali Sanga. Untuk itu Paku Buwana II juga membaca ilmu kasampurnan.

Kitab makrifat jati dikarang oleh Sunan Bonang. Raja Demak membaca demi pengertian yang mendalam. Jaman kejayaan kraton Majapahit sesungguhnya tetap diteruskan oleh kraton Demak Bintara yang didirikan oleh Raden Patah. Pusaka Majapahit juga tetap diuri uri oleh Demak Bintara.

Misalnya Gong Kyai Sekar Delima berkumandang saat perayaan Grebeg Mulud. Kyai Gunturmadu dan Guntursari ditabuh selama tujuh hari di Masjid Agung. Kegiatan spiritual ini makin diperhatikan oleh Paku Buwana II dalam menganyam peradaban.

Kerajaan Demak Bintoro berdiri pada tahun 1478.

Rajanya bernama Raden Patah atau Kanjeng Sultan Syah Alam Akbar Patah Jimbun Sirullah. Raden Patah adalah putra Prabu Brawijaya V, raja Majapahit. Ibunya adalah Putri Cempa atau Ratu Dworowati. Sejak kecil Raden Patah belajar agama Islam kepada Aryo Damar di kota Palembang.

Dengan demikian Kasultanan Demak Bintoro merupakan kelanjutan dari kerajaan Majapahit. Raden Patah adalah pewaris langsung perjuangan Prabu Brawijaya raja Majapahit.

Kisah Sunan Kalijaga berguru kepada Sunan Bonang dibaca oleh Paku Buwana II. Terdapat ilmu makrifat jati yang ditulis dalam bentuk tembang macapat.

Dhandhanggula Sultan Demak

Kanjeng Sultan samana undangi,
Arsa tindak marang Kalijaga,
Arsa mboyongi karsane,
Dumateng kang pilungguh,
Kalijaga sang mahayogi,
Samekta ponang bala,
Bidal Sanga Prabu,
Watara wong tigang leksa,
Kang umiring pra dipati pepak sami,
Busana warna warna.

Den pondongi mring Demak Nagari,
Anglegani wau Sang Pandhita,
Nalika sung sugatane,
Dhawuh mring pra wadya gung,
Samya saos godong pribadi,
Pra dipati satrya,
Mantri sadaya wus,
Lurah pakathik sadaya,
Kang Sinuhun angliwet amung sakendhil,
Kendhil Siyem kinarya.

Bekta solet mubeng Sang Ayogi,
Ngedhuk liwet ingarepanira,
Pra dipati dewe-dewe,
Dalah sabalanipun,
Nora telas kendhil sawiji,
Tuwuk wong tigang leksa,
Kendhile kinedhuk,
Parandene dereng telas,
Karamate wong tigang leksa asami,
Langkung nikmat ing jasat.

Nulya tatal tinumpukan aglis,
Sinambungan wis dadi sak saka,
Susunan Kali sabdane,
Enjingira winuwus,
Yata pepak kang para wali,
Susunan Ngudung prapta,
Wus tumameng ngayun,
Pangeran Dipati Bintara,
Kang Sinuhun ing Bonang ngandika aris,
Lah payo lekasana.

Masa keemasan Kasultanan Demak Bintoro yang dipimpin Raden Patah berdampak pada kemakmuran rakyat di seluruh kawasan tanah Jawa.

Berturut turut raja yang memerintahkan dengan bijaksana di kerajaan Demak Bintoro. Untuk itu Paku Buwana II mencermati sistem menejemen raja Demak. Dipelajari selama berguru di pondok Kadilangu. Raja Demak memang hebat sekali.

1) Raden Patah atau Kanjeng Sultan Syah Alam Akbar Patah Jimbun Sirullah I. Sejak kecil sudah punya pengalaman mobilitas tinggi. Beliau termasuk pangeran dalam kategori kosmopolit. Memerintah tahun 1478-1510.

2) Pati Unus atau Pangeran Adipati Sabrang Lor atau Kanjeng Sultan Syah Alam Akbar Yunus Sirullah II. Terkenal sebagai pelaut ulung. Mengarungi samudra hingga laut Merah Afrika. Beliau pelopor ketrampilan maritim. Memerintah tahun 1510-1518.

3) Sultan Trenggono atau Kanjeng Sultan Syah Alam Akbar Mahmud Rosid Sirullah III. Beliau seorang ilmuwan tangguh. Kitab tasawuf diterjemahkan dalam bahasa Jawa. Pemuda pemudi dikirim ke Turki dan bagdad. Memerintah tahun 1518-1539.

4) Sunan Prawoto atau Kanjeng Sultan Syah Alam Akbar Amirul Mukminin Sirullah IV. Berpengaruh di kalangan pesantren pesisir. Beliau mengajarkan kesalahan sosial. Suka lara lapa tapa brata di alas sukolilo.
Memerintah tahun 1539-1546.

Ada pengusaha besar dari Aceh atau kerajaan Samudra Pasai. Dia adalah Pangeran Hadirin yang menikah dengan putri Sultan Trenggono, yaitu Kanjeng Ratu Kalinyamat. Pangeran Hadirin dan Ratu Kalinyamat menjadi orang yang kaya raya. Usahanya meliputi perdagangan, pelayaran, pelabuhan, pertukangan, perkebunan dan pertanian. Tokoh ini merupakan sponsor dan donatur Kasultanan Demak Bintoro. Jasanya sungguh besar.

Pangkur

Nimas Ratu Kalinyamat. Tilar wisma sumengka anggane wukir. Tapa wuda sinjang rambut. Aneng gunung Danaraja. Apratignya tan arsa tapihan ingsun. Yen tan antuk adiling Hyang. Patine sedulur mami.

Begitulah prasapa Kanjeng Ratu Kalinyamat. Beliau amat setia dengan suami. Berkat perjuangan pada rakyat, beliau dipercaya menjadi Bupati Jepara pertama. Ratu Kalinyamat juga mendidik Bupati Glagahwangi, Purbalingga, Wonosobo, Banjarnegara, Banyumas, Tegal, Batang, Kendal dan Madiun. Ratu Kalinyamat sponsor utama kepala daerah masa Kasultanan Demak Bintara.

Kebudayaan Jawa dan Islam mengalami pembaruan. Kitab tasawuf disusun dengan menggunakan metrum tembang macapat. Misalnya suluk Sunan Bonang, suluk sujinah, suluk Malang Sumirang, suluk Syekh Malaya suluk Tekawardi. Semua membahas ilmu makrifat Kejawen.

Sasmitaning ngaurip puniki. Mapan ewuh yen tan weruha. Tan jumeneng ing uripe. Banyak simbol simbol Islam Kejawen yang perlu pemahaman semiotik. Perlu studi khusus untuk memahami Islam Kejawen yang memadukan agama dan budaya Jawa.

Paku Buwana II belajar agama di Kadilangu Demak Bintara. Didampingi oleh Pangeran Wujil. Intelektual yang mumpuni dalam bidang keagamaan dan hukum syariat.

Perpaduan harmonis antara tasawuf Islam dengan ajaran Kejawen tersaji dalam cerita dewaruci. Di sana lantas dikenal adanya istilah Manunggaling kawula Gusti. Ungkapan ini mengandung pengertian teologis, sosiologis dan politis. Pemikiran yang lahir sejak jaman Kraton Demak Bintara ini amat populer di lingkungan Kejawen.

Babad tanah Jawi memberi kisah tentang Ibunda Raden Patah. Tempat lahir dan pendidikan Raden Patah di kota Palembang.

Dhandhanggula Demak Bintoro

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *