Myang suratira Sri Nara Pati,
Majalengka kang dhawuh mring sira,
nulya tinampen sirage,
mring Harya Damar sampun,
ponang surat binuka aglis,
sinuksma ing wardaya,
penget layang ingsun,
Brawijaya majalengka,
Heh ta sira Harya Damar, sira sun paringi,
Garweng ngong putri cina.
Nanging aja kokrewang saresmi,
lah hentenen ing titipaningwang,
yen wus mijil wawratane,
sakarsanira iku,
marang putri Cina wus dadi
pan iku garwanira,
ywa ta hamaringsun,
sahesthining sriraning wang,
pan wus kamot aneng patra kang sun tulis,
rampung tata titinya.
Kota Palembang dipimpin oleh Arya Damar. Beliau bersama Putri Cina mendidik Raden Patah. Sejarah perlu dipelajari untuk merancang kehidupan pada masa mendatang
Banyak pelajaran pada masa silam yang dapat digunakan untuk referensi hari ini dan hari esok. Sejarah kerajaan Majapahit pernah mengalami masa kejayaan, keemasan dan kemakmuran. Pemerintahan kuat, bersih dan berwibawa. Rakyat hidup makmur rukun dan bahagia. Kerajaan Majapahit menjadi sumber tenaga untuk mengembangkan jiwa kebangsaan.
Referensi historis ini dipakai oleh Paku Buwana II untuk mengembangkan seni budaya. Rum kuncaraning bangsa dumunung ing luhuring budaya.
C. Paku Buwana II Menghayati ajaran Wali Sanga.
Wali Sanga penasihat Raden Patah. Paku Buwana II yang berkuasa tahun 1726 – 1749 menggunakan prinsip para wali. Yakni keselarasan antara agama dan budaya.
Wali Songo Pendukung Utama Kasultanan Demak Bintara. Raden Patah mendirikan Kasultanan Demak Bintara atas restu wali sanga. Beliau juga didorong oleh Bupati pesisir. Tanah Jawa melakukan akulturasi budaya Hindu, Budha dan Islam. Hasilnya adalah pola keselarasan hidup berbangsa dan bernegara.
Wali Songo menyebarkan agama Islam selalu menggunakan wayang dan gamelan. Sunan Kalijogo menciptakan lakon wayang jimat Kalimo Sodo atau Kalimat Syahadat.
Maka selama Paku Buwana II memimpin Karaton Mataram kerap ada pagelaran wayang kulit. Tentu dengan mengambil tema lakon yang diciptakan oleh para Wali.
Sunan Bonang membuat gending gangsaran, lancaran, ladrang, ketawang. Gending ini simbol syariat, tarikat, hakikat, makrifat. Tiap tahun kerajaan Demak Bintoro yang dipimpin Raden Patah melaksanakan upacara Grebeg Sekaten sebagai sarana kebudayaan.
Ada pepatah bagus, Arab digarap Jawa digawa. Begitulah metode para wali dalam menyampaikan ajaran luhur. Pendukung utama Kerajaan Demak Bintoro yang dipimpin Raden Patah, yaitu Wali Songo. Masyarakat percaya bahwa Wali Songo termasuk orang yang memiliki daya linuwih. Wali Songo memang sakti mondroguno. Mereka disebut guru suci ing tanah Jawi.
Kesembilan wali ini yaitu :
1) Maulana Malik Ibrahim di wilayah Gresik. Beliau disebut juga Sunan Maghdum Ibrahim. Dianggap Sunan yang paling sepuh.
2) Sunan Ampel di wilayah Surabaya. Termasuk deretan Wali senior. Istrinya Ki Ageng maloka.
3) Sunan Bonang di wilayah Tuban. Disebut juga Kanjeng Sunan wahdad. Beliau guru langsung Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar.
4) Sunan Kudus di wilayah Kudus. Beliau banyak mendidik para penguasa Jawa pesisir. Amat berwibawa di mata Sultan Pajang dan Demak Bintara.
5) Sunan Giri di wilayah Gresik. Ada Sunan Giri Parepen, Giri Gajah, Giri Kedaton. Dipercaya punya legitimasi politik yang tinggi.
6) Sunan Drajad di wilayah Lamongan. Dipercaya memiliki drajad yang tinggi. Banyak peziarah untuk mendapatkan derajat pangkat semat.
7) Sunan Muria di wilayah Jepara. Tiap hari peziarah datang untuk ngalap berkah. Diharapkan akan mendapatkan kemuliaan, wirya arta winasis.
8) Sunan Gunung Jati di wilayah Cirebon. Mendirikan kasultanan Banten dan Cirebon. Bertugas di wilayah Jawa Barat.
9) Sunan Kalijogo di wilayah Demak. Terkenal sebagai guru suci ing tanah Jawi. Berpusat di Kadilangu. Tiap tahun Karaton Surakarta Hadiningrat mengutus untuk mengganti langse di makam Sunan Kalijaga.
Pada jaman kerajaan Demak Bintoro Wali Songo menjadi penasihat utama raja dan pejabat istana. Di samping itu Wali Songo juga menjadi pembimbing masyarakat yang tinggal di perkotaan, pedesaan dan pegunungan.
Para raja Jawa, terutama Kraton Demak, Pajang, Mataram menempatkan Wali sanga sebagai penasihat spiritual kerajaan. Beliau tampil berwibawa. Nasihatnya adalah sabda brahmana raja.
Perlu diketahui sistem hubungan Diplomasi Kasultanan Demak Bintoro. Kasultanan Demak Bintoro melakukan kegiatan pembangunan di segala bidang. Tujuannya untuk memperoleh kemajuan dan kesejahteraan yang merata bagi seluruh rakyat. Semua warga kerajaan mendapat kesejahteraan lahir batin. Mereka cukup sandang pangan papan.
Sistem diplomasi Demak dijadikan kaca panduan bagi Paku Buwana II. Kedudukan kraton Damak Bintara amat diperhitungkan. Hubungan diplomasi dan kerja sama antar bangsa dilakukan oleh kerajaan Demak Bintoro. Pada tahun 1517 Khalifah Al Mutawakkil III dari Kasultanan Turki Utsmaniyah mengadakan kunjungan Kenegaraan.
Sultan Demak Bintara sangat berbahagia. Kedua Sultan ini berbicara tentang peradaban dunia yang penuh dengan toleransi atas keberagaman. Sebagian dari delegasi kerajaan Turki Utsmaniyah itu belajar seni ukir ukiran di Kabupaten Jepara.
Paku Buwana II merasa beruntung. Karena mendapat tepa palupi historis. Kasultanan Demak Bintoro yang dipimpin Raden Patah semakin arum kuncoro, ngejayeng jagad raya. Rajanya berhasil mewujudkan negeri yang baldhatun thoyibatun warobun ghofur. Tanah Jawa benar benar panjang punjung pasir wukir, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kata raharja.
D. Paku Buwana II Meniru Kepemimpinan Demak Bintara.
Penerus kepemimpinan Raden Patah memegang tegang ajaran para Wali Sanga. Paku Buwana II raja Mataram mewarisi wulang wuruk kautaman.
Teladan utama diwariskan oleh Raden Patah. Para Bupati Demak Bintara dalam membangun peradaban agung.
1. Aryo Pangiri 1582 sampai 1586. Diangkat oleh Sultan Hadiwijaya, raja Pajang.
2. Adipati Wironagoro 1586 sampai 1606. Diangkat oleh Panembahan Senapati, raja Mataram.
3. Adipati Haryonagoro 1606 sampai 1613. Diangkat oleh Prabu Hadi Hanyakrawati, raja Mataram.
4. Adipati Batang 1613 sampai 1616. Diangkat oleh Sultan Agung, raja Mataram.
5. Adipati Gombong 1616 sampai 1617. Diangkat oleh Sultan Agung, raja Mataram.
6. Adipati Purnonagoro I 1617 sampai 1621. Diangkat oleh Sultan Agung, raja Mataram.
7. Adipati Purnonagoro II 1621 sampai 1646. Diangkat oleh Sultan Agung, raja Mataram.
8. Adipati Purnonagoro III 1646 sampai 1649. Diangkat oleh Amangkurat Tegal Arum, raja Mataram.
9. Adipati Mangkuprojo I 1649 sampai 1680. Diangkat oleh Amangkurat Tegal Arum, Raja Mataram.
10. Adipati Mangkuprojo II 1680 sampai 1720. Diangkat oleh Amangkurat Amral, raja Mataram.
11. Adipati Wiryokusumo 1720 sampai 1747. Diangkat oleh Amangkurat Jawi, raja Mataram.
12. Adipati Sumodiningrat I 1747 sampai 1760. Diangkat oleh Paku Buwono II, raja Mataram.
13. Adipati Sumodiningrat II 1760 sampai 1763. Diangkat Paku Buwono III, raja Surakarta Hadiningrat.
14. Adipati Sumodiningrat III 1763 sampai 1772. Diangkat Paku Buwono III, raja Surakarta Hadiningrat.
15. Adipati Kaliwungu 1772 sampai 1776. Diangkat Paku Buwono III, raja Surakarta Hadiningrat.
16. Adipati Brotokusumo 1776 sampai 1781. Diangkat Paku Buwono III, raja Surakarta Hadiningrat.
17. Adipati Wiryo Hadinagoro 1781 sampai 1801. Diangkat Paku Buwono III, raja Surakarta Hadiningrat.
18. Adipati Cokronagoro 1801 sampai 1845. Diangkat Paku Buwono IV, raja Surakarta Hadiningrat.
19. Adipati Condronagoro 1845 sampai 1864. Diangkat Paku Buwono VII, raja Surakarta Hadiningrat.
20. Adipati Purbodiningrat 1864 sampai 1881. Diangkat Paku Buwono IX, raja Surakarta Hadiningrat.
21. Adipati Suryodiningrat I 1881 sampai 1901. Diangkat Paku Buwono IX, raja Surakarta Hadiningrat.
22. Adipati Suryodiningrat II 1901 sampai 1918. Diangkat Paku Buwono X, Raja Surakarta Hadiningrat.
23. Adipati Cokrohamijoyo 1918 sampai 1923. Diangkat Paku Buwono X, raja Surakarta Hadiningrat.
24. Adipati Sosrohadiwijoyo 1923 sampai 1936. Diangkat Paku Buwono X, raja Surakarta Hadiningrat.
25. Adipati Tirtokusumo 1936 sampai 1942. Diangkat Paku Buwono X, raja Surakarta Hadiningrat.
26. Adipati Soepangat 1942 sampai 1945. Diangkat Paku Buwono XI, raja Surakarta Hadiningrat.
27. Haryo Joyo Sudarmo 1945 sampai 1948. Masa Presiden Soekarno.
28. Rawuh Reksohadiprojo 1948 sampai 1949. Jaman Presiden Soekarno.
29. Soekirjo 1949 sampai 1953. Jaman Presiden Soekarno.
30. Soekandar 1953 sampai 1957. Jaman Presiden Soekarno.
31. Sidoel karto Atmojo 1957 sampai 1958. Jaman Presiden Soekarno.
32. Indriyo Yatmoprawiro 1958 sampai 1966. Jaman Presiden Soekarno.
33. Doemami SH 1966 sampai 1972. Jaman Presiden Soekarno.
34. Moch Adnan Widodo 1972 sampai 1973. Jaman Presiden Soeharto.
35. Winarno Suryo Adi Subroto 1973 sampai 1978. Jaman Presiden Soeharto.
36. Drs. Soedomo 1978 sampai 1984. Jaman Presiden Soeharto.
37. Kol Sumartha 1984 sampai 1985. Jaman Presiden Soeharto.
38. Waluyo Cokrodarmanto 1985 sampai 1986. Jaman Presiden Soeharto.
39. Kol Soekarlan 1986 sampai 1996. Jaman Presiden Soeharto.
40. Kol Djoko Widji Suwito 1996 sampai 2001. Jaman Presiden Soeharto.
41. Dra Endang Setyaningdyah 2001 sampai 2006. Jaman Presiden Megawati.
42. Drs Tafta Zaini 2006 sampai 2012. Jaman Presiden SBY.
43. Drs Daekirin Said 2012 sampai 2016. Jaman Presiden SBY.
44. HM Natsir menjabat bupati Demak sejak 2016 Jaman Presiden Joko Widodo.
Nama Demak warisan Raden Patah sangat populer dalam pandangan terpelajar dan masyarakat umum. Sejarah lisan dan tulis nama Masjid Demak Bintara kerap disebut.
Budaya Jawa dikelola Raden Patah dengan bijaksana. Berbahagia sekali orang Indonesia memiliki memori historis tentang Masjid Agung Demak. Mugi mugi tetap basuki lestari.
Raden Patah dikenang sepanjang masa. Paku Buwana yang dilantik sejak tahun 1726 mendapat suri teladan. Tanah Jawa mengalami perubahan kebudayaan yang penuh makna. Budaya Hindu Budha Islam berkembang dengan adonan yang harmonis.
Akulturasi budaya dilanjutkan oleh Paku Buwana II. Warisan Wali Sanga merupakan bentuk dakwah yang menghormati kebudayaan. Jawa digawa Arab digarap. Karaton Mataram memimpin peradaban. Agama ageming aji.
(LM-01)
