Sudirno, Tokoh Sejarah Nasional Asal Pacitan Yang Terlupakan

“Banyak. Yang saya ciptakan. Dan sulit itu. Gambar desain harus mencerminkan filosofi budaya indonesia. Dan hari ini hampir hampir saya tidak menemui pemuda yang bisa membuat gambaran mencerminkan filosofi budaya Indonesia.” kata Sudirno,sambil mengusap wajahnya.

Proses dalam melukis uang kertas, butuh waktu yang cukup lama yaitu sekitar dua bulan, dan ia mengaku butuh ketelitian Extra. Salah satu garis, atau titik saja, harus mulai dari awal.

“Tergantung. Paling dua bulan, gambar depan dan belakang. Itu kan bikin cetak birunya buat awal desain.lalu dicetak untuk jadi uang kertas. Saya gak keluar ruangan kecuali hanya untuk ke kamar mandi. Makan minum pun di dalam. Karena salah sedikit saja. Maka harus mengawali lagi dari awal. ” ungkap Sudirno

Karena faktor usia Sayangnya, beberapa pertanyaan yang telah dilontarkan oleh awak media tidak mendapat jawaban yang tepat, atau tidak nyambung, dan semua memakluminya. Mengingat, di usia yang tidak lagi muda, tidak menutup kemungkinan pendengarannya berkurang dan penyampaian Sudirno juga lirih.

Sementara itu, Kapolres Pacitan, AKBP Wiwit Ari Wibisono, saat berkunjung ke kediaman Sudirno mengatakan bahwa, warga Pacitan patut berbangga. Hal ini karena masih ada tokoh yang masih hidup dan telah berhasil menorehkan namanya pada mata uang Indonesia.

“Beliau masih ada (hidup) di tanah air ini, maka kita perlu menjaga dan menghormatinya. Janganlah dilupakan. Ketika saya mendengar beliau masih hidup dan sekaligus ini merayakan kemerdekaan, maka saya ajak beliau untuk turut merasakan kemerdekaan ini,” ungkap Kapolres, saat bersilahturahmi di kediaman Sudirno.

Kapolres menambahkan, Sudirno berhasil melukis desain mata uang yang kemudian dicetak dan dipergunakan oleh masyarakat di Indonesia, bahkan luar negeri . ia juga mendapat beberapa penghargaan atas karyanya.

“Menurut piagam yang ia terima, beliau pernah mendapat penghargaan 10 tahun berturut-turut melukis uang, mulai tahun 1965-1975,” ungkapnya.

Dengan adanya tokoh seperti Sudirno, Kapolres berpesan kepada generasi muda khususnya di Pacitan agar tokoh yang baik pada masa lalu dapat dijadikan contoh, suri tauladan yang juga baik di masa mendatang.

“Pak Sudirno sudah berhasil menorehkan sesuatu untuk bangsa. Sedangkan saya belum tentu bisa menorehkan sesuatu untuk bangsa yang tercatat di dalam sejarah Indonesia. Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama, untuk itu berbuatlah baik untuk bangsa dan negara, kalau bisa tercatat dalam sejarah Indonesia,” pungkasnya. (yul)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *