Dalam pagelaran wayang kerap dilantunkan gendhing gula klapa. Bait syairnya berbunyi budi luhur kulinakna, watak asor singkirana. Pitutur luhur ini dihayati benar oleh segala lapisan sosial.
Bagi masyarakat Jawa, pendapa kabupaten masih dianggap sakral. Mendapat undangan dari Kanjeng Ndoro Bupati merupakan kebanggaan karena tak semua orang bisa memperoleh.
Peparing dari bupati dianggap sebagai beja kemayangan, seperti ketiban wahyu keprabon.
Jasmerah, jangan sekali kali melupakan sejarah. Orang Nganjuk diharapkan selalu eling marang bibit kawitane. Secara kronologis Kabupaten Nganjuk pernah diperintah oleh kerajaan Medang, Kahuripan, Doho, Jenggolo, Singosari, Majapahit, Demak dan Mataram. Karena letaknya jauh dari ibukota, maka dinamika pembangunan teritorial kurang dominan.
Cuma dapat rembesan saja. Itu pun sudah beruntung dan luwung. Dalam perancangan dan pengambilan keputusan jelas tidak dilibatkan sehingga tidak ikut panen hasilnya.
Kabupaten Nganjuk secara geografis bisa dikelompokkan menjadi tiga bagian: perkotaan, pedesaan dan pegunungan. Wilayah perkotaan ditandai dengan adanya kantor bupati, alun alun, masjid agung, pasar dan deretan toko yang menjadi pusat bisnis.
Kanan kiri kawasan ini merupakan pemukiman penduduk yang tertata rapi. Dari gaya bangunan rumahnya, bisa ditebak penghuninya adalah kelas menengah yang mempunyai penghasilan lumayan tinggi.
Alat dan kendaraan yang dimiliki sudah menunjukkan sosial ekonomi mapan. Orang desa menyebut mereka kelompok priyayi dan ndoro.
Maca owah gingsire jaman. Alun alun termasuk sarana umum yang menjadi kebanggaan bersama. Pagi, sore, siang dan malam selalu ramai untuk ngenggar-enggar penggalih, sambil jajan aneka panganan dan minuman, cenil, samplok, nagasari, gethuk, ketan, gandhos, mendut dan utri. Para bakul amat cekatan dan ramah melayani pembeli.
Ketika malam mulai larut, bakul sego pecel telaten jagongan bersama pelanggannya. Krupuk, rempeyek, tempe dan tahu berbaur dengan kuluban kembang turi, capar dan godhong tela. Begitulah rutinitas kota Nganjuk sehari hari.
Desa mawa cara, negara mawa tata. Berbeda dengan wilayah perkotaan, suasana pedesaan memang agak tenang dan sepi. Sawah dan tanduran merupakan hiasan utama.
Kadang kadang tampak ternak sapi dan kambing. Di tengah-tengah pemukiman biasa dijumpai ayam yang berkeliaran. Dari segi sosial ekonomi, kehidupan orang desa Nganjuk boleh dikatakan masih perlu perhatian.
Lapangan kerja yang monoton membuat para muda mudinya pergi merantau untuk mengadu nasib. Rupa rupanya mereka kurang tertarik untuk berkarir di desanya. Kemungkinan besar ketrampilan mereka tidak bisa diterapkan di kampung halamannya. Mereka perlu wadah baru, supaya keinginannya bisa di kampung. Kayaknya hanya kota besar yang cocok buat kehidupan mereka. Tata lahir amakarti, jroning batin angesthi Gusti.
Tata praja
Tata praja diatur sesuai dengan paugeran kang utama. Perjalanan sejarah keberadaan Kabupaten Berbek sebagai cikal bakal Kabupaten Nganjuk sekarang ini. Dikatakan cikal bakal oleh karena ternyata kemudian bahwa alur sejarah keberadaan Kabupaten Nganjuk adalah berangkat dari keberadaan Kabupaten Berbek di bawah kepemimpinan Kanjeng Raden Tumenggung Sosrokoesoemo I.
Pada masa pemerintahan beliau telah dapat diselesaikan sebuah bangunan Masjid kuno yang bercorak Hinduistis disebut Masjid Yoni Al Mubarok. Agama ageming aji.
Setelah Kanjeng Raden Tumenggung Sosrokoesoemo I meninggal dunia pada tahun 1760, sebagai penggantinya adalah Raden Tumenggung Sosrodirdjo tahun 1811. Kemudian Bupati Berbek dijabat Kanjeng Raden Tumenggung Sosrokoesoemo II. Kanjeng Adipati menggunakan etika kekuasaan sesuai dengan tuntunan sastra piwulang. Beliau punya hubungan yang erat dengan Raden Ajeng Sukaptinah, garwa prameswari Sri Susuhunan Paku Buwana IV.
Penggantinya adalah Raden Tumenggung Pringgodikdo. Untuk itu segala kewibawaan adegan wayang diawali dengan suluk pathet nem Ageng. Setelah beliau mangkat digantikan oleh Raden Tumenggung Soemowilojo.
Lantas diteruskan Kanjeng Raden Tumenggung Sosrokoesoemo III. Putranya laki laki tertua: Raden Mas Sosrohadikoesoemo menggantikan menduduki jabatan sebagai Bupati Berbek. Pada masa jabatan Kanjeng Raden Tumenggung Sosrohadikoesoemo mulai digunakannya itulah bang pengalum aluming praja.
E. Kepemimpinan Kota Angin
Para Bupati Nganjuk selalu berdarma bakti untuk kemajuan negeri. Alam semesta yang berlipat lipat guna kesejahteraan rakyat. Udhu bahu suku lan panemu digerakkan berdasarkan ilmu laku.
1. KRT Sosrokoesoemo I (1719 – 1760)
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono I di kraton Kartasura. Patihnya dijabat oleh KRA Sindurejo I.
2. KRT Sosrodirdjo, (1760-1811)
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono III di kraton Surakarta. Patihnya dijabat oleh KRA Mangkupraja I.
3. KRT Sosronagoro II (1811-1830)
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IV di kraton Surakarta. Patihnya dijabat oleh KRA Cakranegara.
4. KRT Sosrokoesoemo II (1830-1852)
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VII di kraton Surakarta. Patihnya dijabat oleh KRA Sosrodiningrat II.
5. KRT Pringgodikdo (1852 – 1866)
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VII di kraton Surakarta. Patihnya dijabat oleh KRA Sosrodiningrat III.
6. KRT Soemowilojo (1866 – 1878)
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX di kraton Surakarta. Patihnya dijabat oleh KRA Sosronagara I.
7. KRT Sosrokoesoemo III (1878 – 1890)
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX di kraton Surakarta. Patihnya dijabat oleh KRA Mangunkusuma.
8. KRT Sosrohadikoesoemo (1890 – 1936)
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX di kraton Surakarta. Patihnya dijabat oleh KRA Sosrodiningrat IV.
9. KRT Prawiro Widjojo (1936 – 1942)
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X di kraton Surakarta. Patihnya dijabat oleh KRA Sosrodiningrat IV.
10. KRT Mochtar Praboe Mangkoenagoro (1943 – 1947)
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono XI di kraton Surakarta. Patihnya dijabat oleh KRA Sosrodiningrat IV.
11. Mr. R. Iskandar Gondowardojo (1947 – 1949)
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Wakilnya dijabat oleh Muhammad Hatta.
12. R.M. Djojokoesoemo (1949 – 1951)
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Wakilnya dijabat oleh Muhammad Hatta.
13. K.I. Soeroso Atmohadiredjo (1951 – 1955)
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Wakilnya dijabat oleh Muhammad Hatta.
14. M. Abdoel Sjoekoer Djojodiprodjo (1955 – 1958)
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Wakilnya dijabat oleh Muhammad Hatta.
15. M. Poegoeh Tjokrosoemarto (1958 – 1960)
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
16. Soendoro Hardjoamidjojo, SH (1960 – 1968)
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
17. Soeprapto, BA (1968 – 1978)
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
18. Drs. Soemari (1978 – 1983)
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Wakil Presiden dijabat oleh Adam Malik.
19. Drs. Ibnu Salam (1983 – 1993)
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Wakil Presiden dijabat oleh Umar Wirahadikusuma.
20. Dr. Soetrisno R. M.Si (1993 – 2003)
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, Habibie, Gus Dur dan Megawati. Wakil Presiden dijabat oleh Tri Sutrisno, Habibie, Megawati dan Hamzah Has. Pada masa kepemimpinan Soetrisno ini memang sedang mengalami suksesi kepemimpinan nasional berkali kali.
21. Ir. Siti Nurhayati, MM (2003 – 2008)
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Megawati dan Susilo Bambang Yudoyono. Wakil Presiden dijabat oleh Hamzah Has dan Jusuf Kalla.
22. Drs. H.M. Taufiqurrohman (2008 – 2018)
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono dan Joko Widodo. Wakil Presiden dijabat oleh Boediono dan Jusuf Kalla.
23. Novi Rahman Hidayat, S.Sos. M.M, (2018 – 2021 )
24. Dr Drs H Marhaen Djumadi SE, SH, MM, MBA (2021 – 2023)
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Wakil Presiden dijabat oleh Jusuf Kalla dan Ma’ruf Amin.
Pendapa Kabupaten yang megah, alun alun yang luas, pasar Wage, Masjid Agung sebenarnya bantuan dari Kraton Surakarta Hadiningrat. Hampir semua pendapa agung di seluruh tanah Jawa merupakan warisan Kraton Surakarta. Sudah sewajarnya bila orang Nganjuk mengucapkan terima kasih, karena telah berhutang budi.
Masyarakat Kabupaten Nganjuk menyebar ke seluruh kawasan nusantara. Njajah desa milang kori, njalak paningal mlaya bumi. Artinya mencari daya penghidupan, demi kejayaan masa depan. Warga Nganjuk akan menjadi wong sugih, kajen keringan, ayem tentrem lahir batin.
Lagu Kapribaden
Kabudayan kesenian pancen nyata.
Iku dadi pikukuh kapribadening bangsa.
Kerawitan pedalangan beksa olahraga.
Candi Ngetos wis nyata peninggalan kuna.
Pembangunan kuncara liyan praja.
Rerenggane kutha wis sarwa tumata.
Ja lali ja keri kutha Nganjuk nggon seni.
Nguri uri budaya bangsa dilakukan warga Nganjuk di mana saja. Misalnya trah Nganjuk yang merantau di Jl Kakap Raya 36 Yogyakarta. Adityo Jatmiko, Aryo Bimo Setianto, Anindito Wisnu Prasetyo bertugas dengan sepenuh hati.
Dibimbing oleh Sari Indah Setiani selaku pembina Sanggar Seni Pustaka Laras. Adat istiadat seni edi peni, budaya adi luhung leluhur tetap dilestarikan. Seminggu dua kali nabuh gamelan.
Kiprah ini tentu membawa suka cita. Jika Mbah Yatinem tahu, tentu gembira sekali. Tapi Allah telah nimbali Mbah Yatinem hari Kamis Pahing, 1 Januari 2004. Lalu Mbah Rijan dan Mbah Dini meneruskan momong putra wayah. Tanggal 17 Agustus 2021 Mbah Rijan surut ing tepet suci, manjing ing suwarga jati. Putra wayah wajib melanjutkan roda sejarah agung.
Pelajaran sejarah Kabupaten Nganjuk menyertakan perjalanan Kraton Medang, Kahuripan, Daha, Jenggala, Singosari, Kediri, Majapahit, Demak, Pajang, Mataram dan Surakarta. Teladan utama layak untuk direnungkan. Tepa palupi kang migunani kanggo ngrenggani Jagad raya.
(LM-01)
