BUMDES Manubhara Alami Kerugian Akibat Festival Wolobobo Ngada

NTT.Liputan68.com. Pemerintah Kabupaten Ngada sejak 14 September hingga 24 September 2022 menggelar suatu event besar yaitu festival Wolobobo. Festival yang dilaksanakan selama 10 hari ini mengangkat kopi, bambu, dan tenun sebagai tema utama.

Seiring berjalannya festival ini, publik dipertontonkan dengan berbagai bahan perbincangan masyarakat. Berbagai hal menjadi sorotan masyarakat luas walaupun festival yang diselenggarakan Pemda Ngada ini belum sampai pada titik finish.

Berdasarkan informasi yang berhasil dirangkum media Jarrakpos.com masyarakat menyoroti serius terkait dengan toilet yang tak layak, total anggaran dalam festival tersebut dan juga kerugian yang dialami Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Manubhara, Kecamatan Jerebuu, kabupaten Ngada, provinsi Nusa Tenggara Timur,

Selain itu beberapa netizen juga berpendapat agar anggaran untuk festival dipergunakan untuk membangun dan memperbaiki infrastruktur jalan di wilayah Ngada yang dinilai masih banyak yang buruk dengan tujuan meningkatkan perekonomian masyarakat daerah setempat.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ngada, Oktavianus Botha Djawa saat dikonfirmasi media Jarrakpos.com, pada Minggu, (18/9/2022) menjelaskan bahwa, kloset/toilet yang beredar itu merupakan toilet sementara yang disiapkan peserta camping pramuka.

“Untuk kloset atau toilet ini, di Wolobobo kita punya kloset yang bagus untuk wisatawan dan ramah lingkungan, itu ada di dalam destinasi. Sedangkan yang kemarin itu bukan merupakan tempat destinasi itu hanya tempat darurat tempat camping dan pembuatannya pun sesuai dengan tema pramuka karena itu bersifat sangat sementara untuk kebutuhan beberapa hari saja. Dan yang di lokasi camping itu tidak akan kita bisa bangun karena itu adalah kawasan hutan dan bukan bagian kebun dari kebun raya,” jelas Kadis Botha Djawa

Lanjut Kadispar Ngada, kita izin kepada pengelola HKm (Hutan Kemasyarakatan) dan Lingkungan Hidup Kehutanan mereka mengizinkan cuma yang seperti itu kita tidak diperbolehkan mengubah bentang alam. Sehingga selesai camping kemarin semua dibongkar dan bambu-bambu itu langsung dikuburkan.

“Siswa yang mengikuti pramuka dan event festival wolobobo ini menjadi suatu kesatuan mereka mensupport sehingga kita berkolaborasi dengan mereka dan mereka punya program sendiri berkaitan dengan kemah itu dan toilet itu dari mereka,” tuturnya lagi.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *