Linier Dengan Konsep Presiden Jokowi, Festival Rawat Jagat Pacitan Sebagai Stimulus Kemajuan Daerah Dari Sisi Ekonomi
Pacitan- Membangun daerah tak cukup dengan insfrastruktur. Namun budaya dan pendidikan juga pilar penting untuk memajukan daerah.
Hal tersebut sebagaimana disampaikan Koordinator Konsorsium Kangen Pacitan, Abdillah Yusuf, yang merupakan event organiser (EO) kegiatan Rawat Jagat, saat menggelar konferensi pers, Rabu (26/7).
Pria berkopiah miring menyerupai style Gus Baha ini mengatakan, butuh proses panjang untuk bisa menyelenggarakan event bertaraf nasional di Pacitan tersebut.
Lobi-lobi bertaraf nasional pun telah ia lakukan hingga akhirnya ada sinyal positif dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bahwa event Rawat Jagat bisa diselenggarakan di kampung halaman Presiden ke enam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut. “Semua juga tak lepas dari keterbukaan dan semangat dari Pak Bupati,” ujarnya.
Yusuf begitu budayawan muda ini akrab disapa menegaskan, komunikasi harus bisa terjalin dua arah. Ini perlunya peran media massa untuk bisa menyampaikan pesan yang positif kepada masyarakat. “Ini sebagai wujud dari sebuah ikhtiar dan bisa berlanjut,” harapnya.
Lebih lanjut Yusuf menerangkan, Rawat Jagat merupakan peristiwa kebudayaan dan tidak ada unsur klenik, mistik ataupun keagamaan. Pacitan yang secara geografis berdekatan dengan Yogyakarta, Wonogiri, Wonosari dan juga Ponorogo, secara akses masih tertinggal jauh. Posisi Pacitan, bisa dibilang tidak strategis dibanding kabupaten tetangga tersebut.
Namun disisi lain, Pacitan punya potensi budaya dan wisata yang bisa diandalkan. Berangkat dari kondisi tersebut, lanjut Yusuf, Kangen Pacitan membuat langkah-langkah strategis untuk bisa membesut sebuah event besar yang diharapkan bisa menjadi daya tarik tersendiri. “(Kangen) punya pemikiran buat event apa di Pacitan agar bisa di lirik. Salah satunya kita harus bisa bikin keramaian dalam arti festival.
Pak Bupati kepingin banyak even di daerah. Dengan harapan, even kebudayaan nantinya akan berdampak positif dalam pergerakan ekonomi. Inilah yang akhirnya kami tangkap sebagai peristiwa budaya yang besar. Dan sekali lagi event kebudayaan Rawat Jagad ini tidak akan ada efek bagi masyarakat secara kejiwaan. Tidak syirik, di Arab saja ketika ada kegiatan budaya masyarakat memakai wewangian seperti bukur. Nah tanah Jawa termasuk di Pacitan memakai menyan misalnya,” katanya.
Dan yang lebih fundamental, Yusuf menegaskan dengan terselenggaranya event budaya bertaraf nasional nantinya diharapkan bisa menjadi motor penggerak roda perekonomian masyarakat. Gagasan tersebut juga pernah di lontarkan Presiden Jokowi.
Kangen, kata Yusuf, sama sekali tidak ngrusuhi APBD. Kegiatan Rawat Jagat murni dari donasi para pengusaha dan juga sumbangsih dari kementrian terkait. “Insha Allah wisatawan akan berduyun-duyun datang ke Pacitan. Sebab event Rawat Jagat nantinya juga akan dihadiri Dirjen dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Rawat Jagat akan menjadi cita-cita, menjadi festival milik warga dan bukan milik pemkab. Tapi sekali lagi pemkab tetap menjadi mitra kami,” katanya.
Anggota Kangen Pacitan lainnya, Misbahudin menambahkan, Pacitan secara kultural sangat menarik khususnya dalam hal seni, sebagai gagasan untuk berkolaborasi. Oleh sebab itu dengan terselenggaranya event Rawat Jagat akan bisa menjadi sarana pengetahuan tentang seni. “Rawat Jagat ini sebagai sarana membangun artistik sebuah festival. Pelibatan seni akan bisa menjadi metode baru untuk membangun desa dan daerah.
Kita kedepankan semangat saling bergotong royong. Semua umur bisa terlibat. Jangan orang kota saja yang terlibat, tapi orang desa juga. Ini festival milik orang Pacitan. Potensi desa sebuah kekayaan. Orang desa punya semangat dan punya potensi untuk membangun desanya,” imbuh seniman asal Makasar ini.
Misbahudin juga menegaskan, festival itu nantinya akan lebih menonjolkan tema prosesi dengan pelibatan panji-panji desa.
Panji- panji tersebut mengaplikasikan sebuah konsep gagasan desa dan kewilayahan. “Panji desa merupakan simbol. Juga ada flashmop tari eklek dan tambahan konten yang menguatkan desa,” jlentrehnya.
Sementara itu Bangun Narotama, yang juga panitia Rawat Jagat ikut angkat bicara. Ia menegaskan tema lingkungan juga akan diangkat pada festival tersebut.
“Bukan ruwat tapi merawat. Kita ajak masyarakat selalu peduli lingkungan. Anak didik akan tampil. Mereka agar peduli dengan lingkungan. Peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah plastik. Ini Modal budaya atau setidaknya ngopeni lingkungan,” tegas dia. (Red/yun).

Tinggalkan Balasan