Produksi Tembakau Pacitan, Belum Bisa Mengkafer Kebutuhan Produksi Pabrik Rokok Lokal. Terpaksa Harus “Impor” Dari Luar Daerah
Pacitan- Luas tanam dan produksi tembakau di Kabupaten Pacitan, dari tahun ke tahun memang cenderung mengalami kenaikan. Namun begitu, hasil panenan berbagai jenis tembakau tersebut belum bisa mengkafer kebutuhan pabrik rokok yang ada di kota setempat.
Maka tak heran bila pabrik rokok lintingan harus “mengimpor” dari berbagai daerah di Jawa maupun sampai dari luar Jawa. “Produksi tembakau dari Pacitan itu berapa. Tiga hari saja sudah habis, ” kata Widarto, pemilik salah satu pabrik rokok terkemuka di Pacitan, saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya, Rabu (26/7).
Wiwit begitu pengusaha pabrik rokok asal Tulungagung itu menjelaskan, untuk memenuhi bahan baku produksi rokoknya, ia terpaksa harus “mengimpor” tembakau dari luar daerah. Baik di seputaran Jawa hingga Sumatera. “Kalau di Jawa seperti dari Madura, serta Temanggung. Kalau Sumatera seperti Deli Serdang misalnya,” jelas dia.
Wiwit mengakui saat ini harga berbagai jenis tembakau memang tengah melambung. Untuk satu kilogram (kg), tak ada yang di bawah 50 ribu. “Semua jenis tembakau, nggak ada yang murah. Rata-rata diatas 50 ribuan per kg,” sebut Wiwit.
Sementara itu seperti diberitakan sebelumnya, Kabid Perkebunan, Dinas Tanaman Pangan dan Pertanian Pacitan, Joko Rinanto mengatakan, sekalipun terbilang bukan sebagai daerah penghasil tembakau, namun para petani tembakau di Kabupaten Pacitan punya semangat tinggi untuk bercocok tanam bahan baku pembuatan rokok tersebut.
Bahkan menurut catatan Dinas Tanaman Pangan dan Pertanian setempat, dari tahun ke tahun area tanam tembakau dan panenan mereka terus bertambah.
Pada Tahun 2022, luas tanam tembakau mencapai 271 hektar dengan hasil produksi kurang lebih sebesar 300, 54 ton.
Area tanam tembakau Jawa, lanjut Joko tersebar di wilayah Kecamatan Bandar, Nawangan, Tulakan, Ngadirojo dan Sudimoro. “Semangat petani tembakau kita cukup tinggi. Terbukti dari tahun ke tahun luas tanam mereka semakin bertambah. Demikian juga hasil panenan juga terus meningkat,” kata Joko.
Selain jenis tembakau Jawa, juga ada tembakau Virginia yang luasan tanamnya sekitar 130 hektare. “Untuk tembakau jenis Virginia ini tersebar di Kecamatan Punung, Pringkuku, Pacitan, Arjosari, Kebonagung dan Tegalombo,” jelas pejabat bertubuh subur ini pada perwarta.
Masih di kesempatan yang sama, Joko juga mengungkapkan, selang setahun, luasan area tanam tembakau di Pacitan bertambah menjadi 380 hektare. Yang terdiri dari tembakau Jawa seluas 140 hektare, tembakau Virginia seluas 130 hektare dan tembakau Grompol seluas 100 hektare.
“Kita terus melakukan pendampingan khusus dari tim perkebunan dengan kemitraan dari PT Sadana yang merupakan perusahaan penyuplai tembakau pabrikan dari sejumlah merek rokok ternama yang ada di Indonesia.
Harapannya petani tembakau di Pacitan semakin berdaya sehingga bisa membawa dampak terhadap roda perekonomian mereka,” tukasnya. (Red/yun).

Tinggalkan Balasan