Liputan BERITA

Mengenal Tanah Ampo Di Pacitan, Baikah Untuk Lahan Pertanian?

Ditulis oleh Liputan68 pada 2 Oktober 2023 ⏱️ 2 Menit Baca

Pacitan,Liputan 68.com- Kabupaten Pacitan, selama ini lebih dikenal sebagai kawasan yang mayoritas didapati lahan kering atau pegunungan kapur. Atau juga jamak disebut sebagai ampo atau tanah liat.

Menurut Ketua LSM FCC Bandung Edi Suseno, ampo merupakan tanah liat dan bahan tambang yang dalam bahasa ilmiahnya disebut bentonit.

“Secara alami tanah ampo (bentonite) sangat miskin akan kandungan humus bahan organik, tetapi memiliki kandungan mineral an organik cukup banyak. Oleh karena itu kurang cocok jika dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Tetapi baik untuk bahan genting, batu bata, dan bahan gerabah,” kata dia, Senin (2/10).

Mengapa demikian? Bandung menjelaskan, rendahnya kandungan bahan organik pada tanah ampo akan menciptakan karakter, diantaranya apabila dalam kondisi basah, tanah ampo menjadi sangat liat sehingga sulit ditembus oleh air dan perakaran tanaman.

Karena sangat liat/padat, tidak berpori pori maka kecil kemungkinan terjadinya sirkulasi udara. Oleh karena itu tanah bentonit bisa dijadikan pelapis dasar kolam tanah, pelapis pipa tambang minyak lepas pantai, dan campuran cat tembok. Namun apabila dalam kondisi kering, sangat kering sehingga daya hantar listrik (pertukaran ion) menjadi sangat kecil.

“Dengan demikian transformasi dan penyerapan unsur hara tanah oleh akar mengalami hambatan. Sebagai akibatnya kondisi tanaman nampak kurang subur (tanaman menjadi kerdil) dan produktifitas (tanaman musiman) sangat rendah,” jelasnya.

Tanaman jangka panjang (tanaman buah) tidak dapat diharapkan berbuah setiap musim, bisa jadi hanya berbuah 2 – 3 musim (tahun) sekali.

Jika kondisi tanah ampo seperti ini, maka pemberian pupuk anorganik akan sedikit sekali yang dapat diserap tanaman. Sebagian besar akan tersisa dan menjadi residu yang semakin menambah keliatan dan kekerasan tanah.

Artinya secara kimia proses elektrolisa tidak terjadi, daya hantar listrik tanah semakin rendah, pertukaran ion sulit terjadi.

“Secara fisika pori-pori tanah semakin hilang, proses aerasi terhambat, sirkulasi air macet, dan secara biologi tanah menjadi mati, tanaman mengering dan berujung pada kematian,” kata Bandung.

Lantas bagaimana solusinya? Menurut Bandung, tambahkan bahan organik pada tanah secara cukup agar tanah ampo menjadi remah/gembur, dapat menyimpan air yang meresap sehingga awet lembab.

Dengan kegemburan dan kelembaban tanah yang terjaga, daya hantar listrik tanah akan stabil, akar dapat tumbuh secara leluasa untuk menyerap unsur hara tanah yang dibutuhkan melalui pertukaran ion.

“Jika penambahan bahan organik tidak dapat dilakukan maka tanah akan menjadi semakin liat, cepat kering dan keras sehingga daya hantar listrik tidak terjadi. Akibatnya penggunaan pupuk an organik (pupuk kimia) tidak berfungsi secara baik, alias muspro,” pungkasnya. (Red/yun).

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian