Tanaman jangka panjang (tanaman buah) tidak dapat diharapkan berbuah setiap musim, bisa jadi hanya berbuah 2 – 3 musim (tahun) sekali.
Jika kondisi tanah ampo seperti ini, maka pemberian pupuk anorganik akan sedikit sekali yang dapat diserap tanaman. Sebagian besar akan tersisa dan menjadi residu yang semakin menambah keliatan dan kekerasan tanah.
Artinya secara kimia proses elektrolisa tidak terjadi, daya hantar listrik tanah semakin rendah, pertukaran ion sulit terjadi.
“Secara fisika pori-pori tanah semakin hilang, proses aerasi terhambat, sirkulasi air macet, dan secara biologi tanah menjadi mati, tanaman mengering dan berujung pada kematian,” kata Bandung.

Lantas bagaimana solusinya? Menurut Bandung, tambahkan bahan organik pada tanah secara cukup agar tanah ampo menjadi remah/gembur, dapat menyimpan air yang meresap sehingga awet lembab.
Dengan kegemburan dan kelembaban tanah yang terjaga, daya hantar listrik tanah akan stabil, akar dapat tumbuh secara leluasa untuk menyerap unsur hara tanah yang dibutuhkan melalui pertukaran ion.
“Jika penambahan bahan organik tidak dapat dilakukan maka tanah akan menjadi semakin liat, cepat kering dan keras sehingga daya hantar listrik tidak terjadi. Akibatnya penggunaan pupuk an organik (pupuk kimia) tidak berfungsi secara baik, alias muspro,” pungkasnya. (Red/yun).

