Pacitan,Liputan 68.com- Fenomena politik eksklusif secara kebetulan berlangsung di dua kabupaten di Jatim yang saling berdekatan. Yaitu Pacitan dan Ponorogo.
Kalau di Kabupaten Ponorogo, atau yang lebih dikenal sebagai Kota Reog tersebut, pasca bergulirnya era reformasi yang salah satunya ditandai dengan pelaksanaan pemilu kepala daerah secara langsung, belum pernah terjadi bupati menjabat selama dua periode.
Demikian pula di Pacitan. Disepanjang pelaksanaan Pilkada secara langsung, belum pernah sejarah mencatat jabatan wakil bupati selama dua periode.
Seperti era pertama Pilkada langsung, pasangan H. Suyono dan HG Soedibyo terpilih sebagai pemenang. Namun diparuh waktu masa jabatan, Bupati Suyono berhalangan tetap dan digantikan oleh Wakilnya, HG Soedibyo sekalipun hanya menjabat sebagai bupati selama satu bulan.
Kemudian di era pemerintahan Bupati Indartato, awal kali berpasangan dengan Suprayitno. Namun tak genap dua tahun menjabat sebagai wakil bupati, yang bersangkutan mangkat dan posisi jabatannya digantikan oleh H. Soedjono, yang tak lain adalah ayah kandung dari Bupati Indrata Nur Bayuaji.
Di rezim ketiga ini, Bupati Aji (Indrata Nur Bayuaji, Red) berpasangan dengan Wabup Gagarin. Lantas apakah di periode selanjutnya mereka masih akan tetap bersama atau harus pecah kongsi politik? Pertanyaan ini masih menjadi misteri, yang belum terjawab.
Apalagi bila dikaitkan dengan fenomena, belum pernah terjadi Wakil Bupati Pacitan menjabat selama dua periode.
Pemandangan seperti itu, apakah dimaknai sebagai mitos atau hanya secara kebetulan?
