“Nah, yang harus digagas kedepan adalah pembagian tugas ( job diskripsi ) antara Bupati dan Wakilnya harus lebih diperjelas, biar kondisi pemerintahan kelihatan solid, ini hukumnya fardu ain.
Dalam posisi seperti ini SBY agak gundah apabila terjadi pemisahan dan yang jelas dengan segala resiko lebih memprioritaskan kesempatan dinastinya yang mana Aji sebagai saudara SBY.
Artinya berbeda ketika masih ada tokoh lain seperti almarhum Pak Suyono dan Pak Indartato secara politik dan kemampuan eksekutif ada pengakuan dari masyarakat untuk dicalonkan sebagai bupati,” tandas Hadi Subowo.
Dari uaraian diatas, pengamat politik lainnya, Nasir mengatakan, dapat disimpulkan bahwa bersatunya kembali Aji-Gagarin dalam Pilbup 2024 tidak akan berdampak positif bagi masyarakat.
Menurut pengamat politik La Mema Parandy, lanjut dia, bersatunya lagi dua pemimpin yang terkesan dipaksakan cenderung akan menciptakan suasana yang tidak harmonis. Ini didasarkan pada ego pribadi masing-masing yang ditunggangi ego pribadi politik nasional.
Fakta politik di Pileg 14 Februari lalu menunjukkan bahwa Golkar kehilangan dua kursi DPRD, yang akan berdampak cukup luas dan melemahkan tingkat kepercayaan masyarakat kepada kedua pemimpin (Aji-Gagarin).
Keduanya punya latar belakang perjuangan politik yang cukup panjang, namun tidak ada kesungguhan dari keduanya saat menjabat di eksekutif.
Situasi internal menunjukkan ketidakharmonisan, yang jika dipaksakan, akan sulit untuk bekerja dengan kondisi tidak nyaman.
Pembagian tugas yang lebih jelas antara Bupati dan Wakilnya dianggap penting. Hadi Subowo, yang menurut Nasir, berpendapat bahwa pembagian tugas antara Bupati dan Wakilnya harus lebih diperjelas, biar kondisi pemerintahan kelihatan solid.
Dengan demikian, konstelasi politik di Pacitan menjelang Pilbup 2024 menunjukkan ketidakharmonisan dan kekhawatiran akan dampak negatif bagi masyarakat serta elektoral politik. (Red/yun).
