Liputan BERITA

Pacitan Tidak Harmonis, Bersatunya Aji dan Gagarin di Pilbup 2024. Dikhawatirkan Berdampak Negatif?

Ditulis oleh Liputan68 pada 16 Mei 2024 ⏱️ 2 Menit Baca

Pacitan,Liputan 68.com- Konstelasi politik bakal carut-marut seandainya duet Aji-Gagarin akan kembali berlangsung di Pilbup 2024.

Menurut pengamat politik di Pacitan, La Mema Parandy, wacana bersatunya lagi Indrata Nur Bayuaji bersama Gagarin dalam menatap perhelatan Pilbup serentak 2024, tidak akan berdampak positif bagi masyarakat.

Tak hanya itu, secara politis juga tidak berdampak signifikan bagi langkah Gagarin. “Aji pada posisi nggak nyaman. Bersatunya lagi dua pemimpin yang terkesan dipaksakan cenderung akan menciptakan suasana yang tidak harmonis.

Sebab saya tengarai kalau wacana ini benar terjadi, lebih didasarkan pada ego pribadi masing-masing yang ditunggangi ego pribadi politik nasional,” kata pria yang lebih populer dengan panggil Bang Amir ini saat bertandang ke posko media, Timur Pendopo, Kamis (16/5).

Masih kata Bang Amir, fakta politik di Pileg 14 Februari lalu, bahwa Golkar kehilangan dua kursi DPRD. Fenomena ini akan berdampak cukup luas dan tingkat kepercayaan masyarakat kepada kedua pemimpin (Aji-Gagarin) akan lemah. “Ini ego sentris yang terkesan masih melekat, kalau Pacitan ini seakan-akan punya mereka. Tapi nggak ada dampak elektroral secara nasional,” ujarnya.

Baik Aji dan Gagarin, keduanya punya latar perjuangan politik yang cukup panjang hingga keduanya pernah duduk sebagai anggota dewan. “Akan tetapi tidak ada kesungguhan dari keduanya saat menjabat di eksekutif. Mereka belum bisa menjalankan tugasnya masing-masing,” kritik Bang Amir.

Di satu periode duet Aji-Gagarin, menurut Amir, di Pacitan sempat berlangsung blankspot atau delay kepemimpinan. Hal ini sangat jauh berbeda ketika Pacitan dipimpin oleh Bupati Indartato.

“Efek pembangunan ada ketika dipimpin Indartato.Setelah Pacitan dipimpin Aji-Gagarin tidak kelihatan, lantaran saat itu sempat berlangsung bencana non alam badai COVID-19 dan dampak badai elnino yang menyebabkan berlangsungnya anomali cuaca

Situasi Pacitan seperti ini. Secara internal harmonisasi kedua pemimpin tidak nampak adanya kekompakan.

Ketidak harmonisan ini kalau dipaksakan bagaimana bisa bekerja dengan kondisi tidak nyaman. Ini birokrasi yang berkaitan dengan aspirasi. Masyarakat akan jengah dan antipati.

Kalau memang ingin kembali bersama, ciptakan keharmonisan dan kelanggengan. Supaya Pacitan benar-benar bahagia dan sejahtera. Saya titip itu,” tegas Bang Amir.

Sementara itu salah seorang tokoh masyarakat, Hadi Subowo berpendapat, akan sungguh repot dalam elektoral politik, seandainya Aji dan Gagarin dipisahkan.

Karena walaupun pasangan ini selama hampir 4 tahun tidak kelihatan mesra, namun Gagarin punya sikap lebih dewasa dan mewarnai dalam tatanan politik dan kebirokrasian.

“Nah, yang harus digagas kedepan adalah pembagian tugas ( job diskripsi ) antara Bupati dan Wakilnya harus lebih diperjelas, biar kondisi pemerintahan kelihatan solid, ini hukumnya fardu ain.

Dalam posisi seperti ini SBY agak gundah apabila terjadi pemisahan dan yang jelas dengan segala resiko lebih memprioritaskan kesempatan dinastinya yang mana Aji sebagai saudara SBY.

Artinya berbeda ketika masih ada tokoh lain seperti almarhum Pak Suyono dan Pak Indartato secara politik dan kemampuan eksekutif ada pengakuan dari masyarakat untuk dicalonkan sebagai bupati,” tandas Hadi Subowo.

Dari uaraian diatas, pengamat politik lainnya, Nasir mengatakan, dapat disimpulkan bahwa bersatunya kembali Aji-Gagarin dalam Pilbup 2024 tidak akan berdampak positif bagi masyarakat.

Menurut pengamat politik La Mema Parandy, lanjut dia, bersatunya lagi dua pemimpin yang terkesan dipaksakan cenderung akan menciptakan suasana yang tidak harmonis. Ini didasarkan pada ego pribadi masing-masing yang ditunggangi ego pribadi politik nasional.

Fakta politik di Pileg 14 Februari lalu menunjukkan bahwa Golkar kehilangan dua kursi DPRD, yang akan berdampak cukup luas dan melemahkan tingkat kepercayaan masyarakat kepada kedua pemimpin (Aji-Gagarin).

Keduanya punya latar belakang perjuangan politik yang cukup panjang, namun tidak ada kesungguhan dari keduanya saat menjabat di eksekutif.

Situasi internal menunjukkan ketidakharmonisan, yang jika dipaksakan, akan sulit untuk bekerja dengan kondisi tidak nyaman.

Pembagian tugas yang lebih jelas antara Bupati dan Wakilnya dianggap penting. Hadi Subowo, yang menurut Nasir, berpendapat bahwa pembagian tugas antara Bupati dan Wakilnya harus lebih diperjelas, biar kondisi pemerintahan kelihatan solid.

Dengan demikian, konstelasi politik di Pacitan menjelang Pilbup 2024 menunjukkan ketidakharmonisan dan kekhawatiran akan dampak negatif bagi masyarakat serta elektoral politik. (Red/yun).

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian