Vaksin COVID-19, Benarkah Bisa Membangun Kekebalan? Berikut Penjelasan IDI Pacitan Terkait Disease COVID-19 dan Influenza Serta Dampak Komplikasinya

Pacitan,Liputan 68.com- Empat tahun sudah bencana non alam coronavirus disease COVID-19 berlalu dari bumi Pacitan.

Sekarang ini, interaksi sosial sudah kembali normal seperti sediakala. Namun begitu, tak sedikit masyarakat yang mengalami kegalauan beriringan dengan pelaksanaan vaksinasi COVID-19.

Benarkah vaksinasi itu bisa membangun kekebalan terhadap serangan virus asal Wuhan, China tersebut serta serangan influenza pada umumnya?

Berikut penjelasan Wakil Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Pacitan, Johan Tri Putranto.

Johan mengatakan, influenza atau juga dikenal dengan flu adalah kondisi medis yang ditandai dengan batuk, pilek, hidung tersumbat, demam, dan sakit kepala.

Kondisi ini disebabkan oleh infeksi virus yang dapat menyebar melalui percikan atau cipratan air liur (droplet) dari penderita flu.

“Pengertian flue atau influenza adalah gangguan sistem pernapasan yang disebabkan oleh infeksi virus. Kondisi ini sering kali terjadi ketika memasuki musim pancaroba karena cenderung mudah menular ke orang lain, terutama pada 3 –4 hari pertama saat penderitanya terinfeksi oleh virus flue,” ujar dokter umum yang saat ini menjabat sebagai Kepala Tata Usaha RSUD dr Darsono Pacitan, dalam siaran persnya, Rabu (3/7).

Menurut Johan, flue adalah kondisi yang kerap disamakan dengan common cold atau selesma. Walaupun memiliki gejala yang serupa, dua kondisi tersebut disebabkan oleh virus yang berbeda.

Selain itu, gejala influenza juga cenderung lebih parah hingga sering kali mengganggu aktivitas pengidapnya dan dapat terjadi secara mendadak.

Sementara itu, gejala selesma biasanya cenderung ringan dan terjadi secara bertahap.

Lantas apa penyebab utama dari flue? Johan menegaskan, penyebab utama flue adalah infeksi virus influenza.

Virus tersebut dapat menyebar dengan mudah ketika menghirup percikan air liur di udara (droplet) dari penderita flu saat bersin atau batuk. “Penularan juga bisa terjadi saat tangan yang terkena percikan air liur penderita flue tersebut menyentuh mulut, hidung, atau mata,” jelas dokter yang pernah menjabat sebagai Kepala UPT Puskesmas Gondosari, Kecamatan Punung, Dinas Kesehatan Pacitan ini pada wartawan.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, sejumlah faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami flu, diantaranya adalah:

1. Memiliki daya tahan tubuh yang lemah, misalnya karena mengidap penyakit HIV/AIDS.

2.Tubuh dalam kondisi yang tidak prima karena kurang istirahat.

3. Sedang hamil atau baru melahirkan.

4. Balita dan lansia.

5. Menderita kondisi medis tertentu, seperti asma, diabetes, penyakit jantung, atau obesitas.

6.Tinggal atau bekerja di fasilitas umum, seperti panti jompo, asrama, dan lain -lain.

7. Sering kontak langsung atau menggunakan peralatan pribadi bersama dengan penderita flu.

Gejala flue pada umumnya, hampir serupa dengan common cold. Namun, berbeda dengan common cold, gejala flu biasanya akan menyerang secara tiba -tiba, cenderung lebih parah, mengganggu aktivitas penderitanya, dan dapat berlangsung lebih lama.

Adapun sejumlah gejala umum flue adalah sebagai berikut:

1. Pilek.

2. Hidung tersumbat.

3. Demam.

4. Menggigil.

5. Batuk.

6. Bersin-bersin.

7. Nyeri tenggorokan.

8. Nyeri kepala.

9. Lemas.

10. Mual dan/atau muntah.

11. Nyeri otot.

12. Tidak nafsu makan.

“Gejala-gejala tersebut biasanya akan muncul dan memberat pada 2 –3 hari setelah terinfeksi oleh virus influenza.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *