“Ada banyak rumor yang berkembang, termasuk soal peran BKD. Tapi bagi saya, bukan soal benar atau tidaknya rumor itu. Yang penting, pejabat yang dilantik harus karena kualitas dan kinerjanya,” tegas Celly di Ruang Fraksi PKB DPRD Provinsi NTT.
“Kalau jabatan diberikan bukan karena kemampuan, jangan mimpi NTT bisa maju,” lanjutnya dengan nada keras.
Politisi PKB yang dikenal vokal ini menilai, pelantikan besar-besaran tersebut menjadi ujian pertama pemerintahan baru untuk menunjukkan bahwa reformasi birokrasi di NTT benar-benar dijalankan dengan prinsip meritokrasi, mengutamakan orang yang layak, bukan yang dekat.
Selain itu, Celly juga menyinggung ret-ret pejabat Pemprov NTT di Universitas Pertahanan (Unhan) RI, Belu, yang digelar akhir September lalu.
Menurutnya, kegiatan itu seharusnya membawa perubahan nyata dalam cara berpikir dan bekerja para aparatur.
“Baru saja mereka selesai ret-ret, tentu banyak pelajaran dan inspirasi yang diperoleh. Tapi jangan berhenti di situ. Sekarang saatnya dibuktikan lewat kinerja, bukan lewat janji,” ujarnya tajam.
Ia berharap, hasil dari ret-ret tersebut menjadi titik balik bagi lahirnya pejabat yang rendah hati namun berani, memiliki integritas, serta mampu bekerja efektif untuk rakyat.
“Kalau ret-ret hanya jadi formalitas tanpa perubahan sikap dan produktivitas, itu sama saja bohong. Rakyat NTT butuh pejabat yang bawa hasil, bukan sekadar bawa wacana,” pungkas Celly.***

