Pacitan,Liputan 68.com- Di ruang sidang DPRD Pacitan, ketukan palu terdengar tegas. Namun tak banyak yang tahu, irama itu sejatinya lahir dari disiplin panjang seorang pendekar yang pernah menaklukkan sunyi dan lelah di rimba persilatan.
Arif Setia Budi, nama yang akrab disapa ASB, menjalani hidup bukan sekadar sebagai politisi. Ia tumbuh dari dunia yang mengajarkan bahwa kekuatan bukan terletak pada seberapa keras pukulan, melainkan pada kemampuan menahan diri.
Tubuhnya yang tegap bukan semata hasil latihan fisik, tetapi jejak dari kesabaran yang diasah bertahun-tahun.
Di gelanggang pencak silat, ASB mengenal arti jatuh dan bangkit. Dari perguruan silat terkemuka tempatnya berproses, ia dianugerahi gelar “Roko Mas”, yaitu sebuah predikat yang tak hanya menakar kelincahan jurus, tetapi juga kejernihan hati.
Gelar itu datang bukan sebagai mahkota, melainkan amanah untuk selalu menjaga adab, menghormati sesama, dan berdiri lurus tanpa meninggi.
Wajahnya kerap tampak tegas, bahkan sedikit garang. Namun di balik sorot mata yang tajam, tersimpan kelembutan yang memilih diam ketimbang melukai. Dalam perbedaan pendapat, ASB lebih dulu mendengarkan sebelum berbicara.
Ia paham betul, suara hati sering kali lebih lantang daripada suara lantang itu sendiri. Terlebih saat berhadapan dengan mereka yang lebih tua darinya.
Persilatan telah mengajarinya satu hal penting. “Lawan sejati bukanlah orang di hadapan kita, melainkan ego di dalam diri,”ujarnya, usai memimpin sidang paripurna belum lama ini.








