DENPASAR – Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida memaparkan langkah-langkah penanganan serta rencana strategis pengendalian banjir di Bali, menyusul terjadinya dua peristiwa banjir besar yang melanda sejumlah wilayah pada September dan Desember 2025. Curah hujan ekstrem yang diperparah oleh penumpukan sampah di alur sungai disebut menjadi penyebab utama terjadinya luapan air di berbagai daerah.
Kepala BWS Bali Penida, Gunawan Suntoro, ST., MDM., M.Eng, menjelaskan bahwa banjir besar yang terjadi pada 10 September 2025 dipicu oleh hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem. Data dari Pos Klimatologi Penatih mencatat curah hujan mencapai 493 mm, angka yang jauh di atas kondisi normal.
“Kondisi tersebut diperparah oleh banyaknya sampah yang terbawa arus dan menyumbat aliran sungai, sehingga menyebabkan air meluap di beberapa titik,” ungkap Gunawan Suntoro.
DAS Tukad Badung, Mati, dan Ayung Paling Terdampak
Banjir September lalu tercatat menyebar di berbagai wilayah Provinsi Bali, dengan dampak terparah terjadi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Tukad Badung, Tukad Mati, dan Tukad Ayung yang bermuara di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Selain merendam kawasan permukiman, banjir juga mengakibatkan kerusakan infrastruktur sumber daya air, seperti tanggul sungai, saluran irigasi, serta bangunan pengambilan air baku (intake).
Sementara itu, banjir kembali terjadi pada 14 dan 15 Desember 2025, meskipun dengan intensitas yang lebih rendah. Curah hujan yang tercatat di Pos Curah Hujan Buagan mencapai 96 mm. Namun demikian, genangan tetap terjadi di sejumlah wilayah, antara lain Jl. Kunti–Legian (Badung), Desa Batuan–Sukawati, Desa Saba–Blahbatuh, dan Ubud di Kabupaten Gianyar.
“Banjir Desember ini dipengaruhi oleh kondisi cuaca ekstrem akibat terbentuknya Siklon 93S di selatan perairan Indonesia,” jelas Gunawan.
Langkah Cepat Penanganan dan Pemulihan
Menindaklanjuti kejadian tersebut, BWS Bali Penida telah melakukan sejumlah upaya penanggulangan dan pemulihan jangka pendek, di antaranya:
* Koordinasi intensif dengan Pemerintah Daerah, BPBD, TNI, dan Polri dalam penanganan pascabencana.
* Pengoperasian mobil pompa untuk menyedot genangan air di titik-titik rawan seperti Underpass Simpang Dewa Ruci, Pasar Badung, Jl. Kunti, dan lokasi lainnya.
* Mobilisasi alat berat (excavator) untuk pembersihan material dan sampah pascabanjir.
* Pemeliharaan serta rehabilitasi infrastruktur sumber daya air yang mengalami kerusakan akibat banjir.
Normalisasi Sungai dan Pemantauan Dini
Sebagai langkah pencegahan jangka pendek, BWS Bali Penida juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk melakukan normalisasi sungai, termasuk pengerukan sedimen di alur sungai serta Waduk Muara Nusa Dua, guna mengembalikan kapasitas tampung air.
Selain itu, BWS Bali Penida secara aktif melakukan pemantauan peringatan dini cuaca yang dikeluarkan oleh BMKG, serta mengoperasikan infrastruktur sungai khususnya pintu air bendung dan waduk sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP).
“Langkah ini penting untuk meminimalisir dampak apabila kembali terjadi hujan dengan intensitas tinggi,” katanya.
Masterplan Pengendalian Banjir Disiapkan Tahun 2026
Untuk solusi jangka panjang, BWS Bali Penida telah mengusulkan studi Masterplan dan Detail Engineering Design (DED) Pengendalian Banjir bagi Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, khususnya di wilayah DAS Tukad Ayung, Tukad Mati, dan Tukad Badung. Studi tersebut direncanakan mulai dilaksanakan pada Tahun Anggaran 2026.
Dalam kajian itu, BWS Bali Penida juga akan menelaah kebutuhan sistem peringatan dini (Early Warning System/EWS) guna mengurangi risiko korban jiwa dan dampak banjir. Selain itu, akan dilakukan kajian terkait sempadan sungai sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri PUPR Nomor 28 Tahun 2015.
“Pengendalian banjir tidak bisa hanya mengandalkan penanganan darurat. Diperlukan perencanaan terpadu, kesadaran lingkungan, dan kepatuhan terhadap aturan tata ruang,” tegas Gunawan Suntoro.
Dengan langkah penanganan jangka pendek hingga perencanaan jangka panjang tersebut, BWS Bali Penida berharap risiko banjir di Bali dapat ditekan, sekaligus meningkatkan ketahanan wilayah terhadap dampak cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi. (Red)
