Liputan KOLOM

Dialektika

Ditulis oleh Liputan68 pada 8 Januari 2026 ⏱️ 2 Menit Baca

Oleh: Zulkarnain Siregar

Penelisikan terhadap manusia memang tidak pernah berhenti. Hingga kini, tubuh dan kehidupan itu sendiri belum pernah memperoleh kejelasan yang benar-benar arif mengenai batasannya. Terlalu sering dikatakan bahwa kesadaran adalah sumber realitas dari gerak terhadap benda-benda lain di dunia. Kategori ruang dan waktu merupakan citra dalam diri manusia atas kesadaran yang melekat padanya.

Ketika hewan, seperti nyamuk, akan menggarap lahan pangannya, ia terlebih dahulu “mengundang” perhatian manusia dengan menunjukkan abstraksi-abstraksi dalam noesis penglihatan. Noesis yang dimilikinya berupa fiksasi consciousness, yakni kesadaran yang memuncak akibat suatu objek penglihatan yang kemudian menjadi hal yang dipikirkan. Fenomena ini hampir identik dengan libido manusia. Alam, dalam hal ini, berfungsi sebagai pengalaman yang memberikan abschattung—bayang-bayang—terhadap pengamatan esensial sebagai bentuk perlawanan eksistensial.

Dalam pandangan fenomenologi, terdapat anggapan bahwa kesadaran manusia bukanlah suatu sistem tertutup, melainkan suatu keterarahan ke luar, menuju lingkungannya. Tulisan ini diangkat ke permukaan sebagai bagian dari upaya persuasif yang bertujuan mendekati esensi kehidupan yang sesungguhnya. Dari sinilah, dalam salah satu cabang filsafat, diterima adanya dialektika antara manusia dan lingkungannya, serta antara manusia dan dirinya sendiri.

Jika empirisme menitikberatkan pada sebab-musabab kealaman dan pengalaman, sementara intelektualisme bertolak dari alam sebagai pengalaman berdimensi komprehensif, maka fenomenologi justru lebih berhasil menawarkan hubungan dialektis tersebut.

Setidaknya, tulisan ini membahas manusia dan dirinya sebagai pembentuk alam dialektika. Terutama dalam mengatasi persoalan kemanusiaan dewasa ini—di mana nilai-nilai hampir tergusur dari kehidupan—seperti ketidaksetiakawanan sosial dan lunturnya kearifan budaya bangsa. Hal ini banyak terjadi pada bangsa-bangsa dunia ketiga yang senantiasa bergulat dengan tema sentral kemiskinan dalam berbagai bentuknya, yang begitu gencar menjadi diskursus intelektual.
Pencarian kebenaran, menurut Bertrand Russell, tidak pernah absolut dan tuntas. Fenomena ini dianggap ilmiah oleh para pencari keadilan dan pejuang hak asasi manusia dewasa ini. Oleh karena itu, dalam dunia yang telah mengalami pergeseran dari modernisme ke pascamodernisme, tema ini tidak dapat disangkal menjadi isu besar umat manusia.

Manusia dan Dirinya
Ada dua kutub persoalan manusia yang menonjol dalam dekade ini, yaitu pergolakan kebebasan dan krisis keadilan. Dampak dari kedua kutub tersebut telah menyentuh dan menyatukan berbagai sendi kehidupan manusiawi. Sebenarnya, masih banyak kutub lain yang dapat dibahas, namun hal itu berada di luar kerangka “manusia dan dirinya”.

Secara logis, hubungan kedua kutub inilah yang kini tengah berlangsung, berupa kemunculan ide-ide yang mencoba mengimbangi ideologi besar seperti liberalisme, kapitalisme, sosialisme, dan komunisme—yang dinilai tidak lagi memberi poros nilai kemanusiaan universal sebagaimana kodratnya.

Berpikir merupakan ciri hakiki manusia sebagai Homo sapiens. Ia menghadirkan pengetahuan dan ilmu pengetahuan yang menumbuhkan peradaban baru tanpa mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan (humanisme). Dialektika menjadi gerak pemikiran yang berkesinambungan dalam diri manusia—kecuali saat tidur—melalui penggunaan lambang sebagai abstraksi objek alam yang membentuk pengalaman.
Sebagaimana diajarkan Hegel, segala sesuatu di alam semesta terjadi dari pertentangan dua hal yang melahirkan hal lain. Pengalaman ini dapat berwujud benda, peristiwa, maupun lambang. Lambang paling praktis adalah bahasa, melalui mana kehidupan dapat direalisasikan secara konkret, meskipun tidak selalu bergantung pada kata.

Angka atau matematika pada hakikatnya juga merupakan rangkaian lambang yang setara dengan bahasa. Sebutan “manusia” sendiri merupakan generalisasi dari unsur fisik dan nonfisik. Ketika manusia mati, ia tidak lagi disebut manusia, melainkan jasad yang kembali ke asalnya dan ruh yang pulang kepada Pemiliknya.

Humanisme
Pemikiran kontemporer muncul karena pemikiran tradisional dan konvensional tidak lagi memadai untuk mengidentifikasi manusia secara utuh. Para filsuf yang diliputi keraguan terhadap pemikiran mapan sering dielu-elukan sebagai pemikir kontekstual. Pergeseran pandangan, pendekatan, dan metodologi kerap melahirkan teori-teori spekulatif.
Modernisme kerap dianggap sebagai wilayah berpikir spekulatif manusia moderat. Konsep ahimsa Mahatma Gandhi—pantangan kekerasan—merupakan kekuatan yang jauh lebih ampuh dibanding senjata paling canggih, meskipun tetap berada dalam dialektika konstruktif dan destruktif. Syarat utama pantangan kekerasan adalah keadilan menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan.

Manusia yang berlindung pada Tuhan akan melahirkan kesadaran diri dalam mengatasi raga, yang setelah mati hanya disebut jasad. Pergeseran pemikiran dari tradisional ke struktural telah mengubah cara manusia memaknai keberadaan. Manusia tidak semestinya diperlakukan seperti benda yang sekadar “ada” di dunia.

Sebagaimana dikemukakan Muhammad Iqbal, setiap sistem agama besar bermula dari anggapan tertentu tentang hakikat manusia dan alam semesta. Pemikiran ini relevan ketika melihat bagaimana humanisme universal yang dipropagandakan Barat sering menjauhkan manusia dunia ketiga dari humanisme religius.

Nietzsche dengan konsep Übermensch-nya, menurut banyak kalangan, telah melampaui batas, dan jejak pemikirannya terlihat jelas dalam karakter manusia modern dewasa ini.

Pergolakan Pemikiran
Kebebasan merupakan karakter utama yang selalu dituntut manusia, baik dalam berpikir maupun bertindak. Namun, kebebasan sering diharapkan datang dari luar diri, sehingga melahirkan kesenjangan. Pertanyaan mendasarnya: apakah manusia benar-benar bebas memilih, ataukah ia sepenuhnya ditentukan oleh hukum alam?
Jika manusia tidak memiliki kebebasan, maka tanggung jawab pun menjadi absurd. Inilah sumber kontradiksi dalam kehidupan sehari-hari: antara kehendak dan tindakan. Kebebasan sering dimaknai sebagai kebebasan memilih, namun selalu dibatasi oleh tanggung jawab sosial dan budaya.
Kebebasan menjadi konkret ketika diperjuangkan, namun sekaligus terikat oleh situasi dan kondisi. Karena itu, tidak mengherankan jika kebebasan kerap dianggap ilusi belaka. “Dunia ini panggung sandiwara,” demikian syair Ahmad Albar, di mana peran dan skenario telah tersusun rapi.

Di negeri ini, kebebasan kerap diinterpretasikan secara politis. Kebiasaan dan tekanan lingkungan membentuk perilaku multikarakter atau stereotip. Inilah wujud tanggung jawab eksistensial akibat pertentangan dalam diri manusia.
Pergolakan antara kebebasan dan krisis keadilan merupakan dua kutub besar dalam diri manusia. Keduanya bukan sumber bencana tunggal, tetapi menjadi malapetaka bila manusia menjauh dari konsepsi kekhalifahan. Oleh karena itu, biasakanlah berdialektika.

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian