Dialektika


Oleh: Zulkarnain Siregar

Penelisikan terhadap manusia memang tidak pernah berhenti. Hingga kini, tubuh dan kehidupan itu sendiri belum pernah memperoleh kejelasan yang benar-benar arif mengenai batasannya. Terlalu sering dikatakan bahwa kesadaran adalah sumber realitas dari gerak terhadap benda-benda lain di dunia. Kategori ruang dan waktu merupakan citra dalam diri manusia atas kesadaran yang melekat padanya.

Ketika hewan, seperti nyamuk, akan menggarap lahan pangannya, ia terlebih dahulu “mengundang” perhatian manusia dengan menunjukkan abstraksi-abstraksi dalam noesis penglihatan. Noesis yang dimilikinya berupa fiksasi consciousness, yakni kesadaran yang memuncak akibat suatu objek penglihatan yang kemudian menjadi hal yang dipikirkan. Fenomena ini hampir identik dengan libido manusia. Alam, dalam hal ini, berfungsi sebagai pengalaman yang memberikan abschattung—bayang-bayang—terhadap pengamatan esensial sebagai bentuk perlawanan eksistensial.

Dalam pandangan fenomenologi, terdapat anggapan bahwa kesadaran manusia bukanlah suatu sistem tertutup, melainkan suatu keterarahan ke luar, menuju lingkungannya. Tulisan ini diangkat ke permukaan sebagai bagian dari upaya persuasif yang bertujuan mendekati esensi kehidupan yang sesungguhnya. Dari sinilah, dalam salah satu cabang filsafat, diterima adanya dialektika antara manusia dan lingkungannya, serta antara manusia dan dirinya sendiri.

Jika empirisme menitikberatkan pada sebab-musabab kealaman dan pengalaman, sementara intelektualisme bertolak dari alam sebagai pengalaman berdimensi komprehensif, maka fenomenologi justru lebih berhasil menawarkan hubungan dialektis tersebut.

Setidaknya, tulisan ini membahas manusia dan dirinya sebagai pembentuk alam dialektika. Terutama dalam mengatasi persoalan kemanusiaan dewasa ini—di mana nilai-nilai hampir tergusur dari kehidupan—seperti ketidaksetiakawanan sosial dan lunturnya kearifan budaya bangsa. Hal ini banyak terjadi pada bangsa-bangsa dunia ketiga yang senantiasa bergulat dengan tema sentral kemiskinan dalam berbagai bentuknya, yang begitu gencar menjadi diskursus intelektual.
Pencarian kebenaran, menurut Bertrand Russell, tidak pernah absolut dan tuntas. Fenomena ini dianggap ilmiah oleh para pencari keadilan dan pejuang hak asasi manusia dewasa ini. Oleh karena itu, dalam dunia yang telah mengalami pergeseran dari modernisme ke pascamodernisme, tema ini tidak dapat disangkal menjadi isu besar umat manusia.

Manusia dan Dirinya
Ada dua kutub persoalan manusia yang menonjol dalam dekade ini, yaitu pergolakan kebebasan dan krisis keadilan. Dampak dari kedua kutub tersebut telah menyentuh dan menyatukan berbagai sendi kehidupan manusiawi. Sebenarnya, masih banyak kutub lain yang dapat dibahas, namun hal itu berada di luar kerangka “manusia dan dirinya”.

Secara logis, hubungan kedua kutub inilah yang kini tengah berlangsung, berupa kemunculan ide-ide yang mencoba mengimbangi ideologi besar seperti liberalisme, kapitalisme, sosialisme, dan komunisme—yang dinilai tidak lagi memberi poros nilai kemanusiaan universal sebagaimana kodratnya.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *