Berpikir merupakan ciri hakiki manusia sebagai Homo sapiens. Ia menghadirkan pengetahuan dan ilmu pengetahuan yang menumbuhkan peradaban baru tanpa mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan (humanisme). Dialektika menjadi gerak pemikiran yang berkesinambungan dalam diri manusia—kecuali saat tidur—melalui penggunaan lambang sebagai abstraksi objek alam yang membentuk pengalaman.
Sebagaimana diajarkan Hegel, segala sesuatu di alam semesta terjadi dari pertentangan dua hal yang melahirkan hal lain. Pengalaman ini dapat berwujud benda, peristiwa, maupun lambang. Lambang paling praktis adalah bahasa, melalui mana kehidupan dapat direalisasikan secara konkret, meskipun tidak selalu bergantung pada kata.
Angka atau matematika pada hakikatnya juga merupakan rangkaian lambang yang setara dengan bahasa. Sebutan “manusia” sendiri merupakan generalisasi dari unsur fisik dan nonfisik. Ketika manusia mati, ia tidak lagi disebut manusia, melainkan jasad yang kembali ke asalnya dan ruh yang pulang kepada Pemiliknya.
Humanisme
Pemikiran kontemporer muncul karena pemikiran tradisional dan konvensional tidak lagi memadai untuk mengidentifikasi manusia secara utuh. Para filsuf yang diliputi keraguan terhadap pemikiran mapan sering dielu-elukan sebagai pemikir kontekstual. Pergeseran pandangan, pendekatan, dan metodologi kerap melahirkan teori-teori spekulatif.
Modernisme kerap dianggap sebagai wilayah berpikir spekulatif manusia moderat. Konsep ahimsa Mahatma Gandhi—pantangan kekerasan—merupakan kekuatan yang jauh lebih ampuh dibanding senjata paling canggih, meskipun tetap berada dalam dialektika konstruktif dan destruktif. Syarat utama pantangan kekerasan adalah keadilan menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan.
Manusia yang berlindung pada Tuhan akan melahirkan kesadaran diri dalam mengatasi raga, yang setelah mati hanya disebut jasad. Pergeseran pemikiran dari tradisional ke struktural telah mengubah cara manusia memaknai keberadaan. Manusia tidak semestinya diperlakukan seperti benda yang sekadar “ada” di dunia.
Sebagaimana dikemukakan Muhammad Iqbal, setiap sistem agama besar bermula dari anggapan tertentu tentang hakikat manusia dan alam semesta. Pemikiran ini relevan ketika melihat bagaimana humanisme universal yang dipropagandakan Barat sering menjauhkan manusia dunia ketiga dari humanisme religius.
Nietzsche dengan konsep Übermensch-nya, menurut banyak kalangan, telah melampaui batas, dan jejak pemikirannya terlihat jelas dalam karakter manusia modern dewasa ini.
Pergolakan Pemikiran
Kebebasan merupakan karakter utama yang selalu dituntut manusia, baik dalam berpikir maupun bertindak. Namun, kebebasan sering diharapkan datang dari luar diri, sehingga melahirkan kesenjangan. Pertanyaan mendasarnya: apakah manusia benar-benar bebas memilih, ataukah ia sepenuhnya ditentukan oleh hukum alam?
Jika manusia tidak memiliki kebebasan, maka tanggung jawab pun menjadi absurd. Inilah sumber kontradiksi dalam kehidupan sehari-hari: antara kehendak dan tindakan. Kebebasan sering dimaknai sebagai kebebasan memilih, namun selalu dibatasi oleh tanggung jawab sosial dan budaya.
Kebebasan menjadi konkret ketika diperjuangkan, namun sekaligus terikat oleh situasi dan kondisi. Karena itu, tidak mengherankan jika kebebasan kerap dianggap ilusi belaka. “Dunia ini panggung sandiwara,” demikian syair Ahmad Albar, di mana peran dan skenario telah tersusun rapi.
Di negeri ini, kebebasan kerap diinterpretasikan secara politis. Kebiasaan dan tekanan lingkungan membentuk perilaku multikarakter atau stereotip. Inilah wujud tanggung jawab eksistensial akibat pertentangan dalam diri manusia.
Pergolakan antara kebebasan dan krisis keadilan merupakan dua kutub besar dalam diri manusia. Keduanya bukan sumber bencana tunggal, tetapi menjadi malapetaka bila manusia menjauh dari konsepsi kekhalifahan. Oleh karena itu, biasakanlah berdialektika.
