Dalam perspektif Islam, kegiatan Gugur Gunung dapat dipahami sebagai bagian dari amal sosial (muamalah) yang bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah. Membersihkan makam mengingatkan manusia akan kematian (tadzkiratul maut), sebuah pengingat penting agar umat Islam lebih siap secara spiritual menyambut Ramadhan.
Para pendakwah dan ulama, termasuk kalangan kiai pesantren, pada umumnya memandang tradisi semacam ini sebagai adat baik (al-‘urf ash-shahih) selama tidak mengandung unsur syirik atau praktik yang bertentangan dengan syariat. Doa bersama, tahlil, dan niat memperbaiki diri justru sejalan dengan semangat Islam rahmatan lil ‘alamin.
Islam tidak menolak tradisi lokal, selama nilai-nilainya menguatkan tauhid, ukhuwah Islamiyah, serta akhlak mulia. Gugur Gunung, dalam konteks ini, menjadi media dakwah kultural yang halus namun efektif.
Menjaga Warisan, Menguatkan Iman
Di tengah modernisasi dan perubahan zaman, tradisi Gugur Gunung menjadi pengingat bahwa kearifan lokal memiliki peran penting dalam menjaga harmoni sosial dan spiritual. Ia bukan hanya warisan leluhur, tetapi juga sarana memperkuat iman, menumbuhkan kepedulian, dan menyiapkan hati menyambut Ramadhan dengan bersih lahir dan batin.
“Bagi masyarakat Pacitan, Gugur Gunung bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah wujud nyata bahwa Islam dan budaya dapat berjalan beriringan, saling menguatkan, dan terus hidup di tengah masyarakat,” tukasnya.(Red/yun).
