Liputan BERITA

BMKG Peringatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Jawa Timur hingga 10 Februari 2026, Masyarakat Diminta Tingkatkan Kewaspadaan

Ditulis oleh Yuniardi Yuniardi pada 1 Februari 2026 ⏱️ 2 Menit Baca

Pacitan,Liputan 68.com- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang diprakirakan terjadi di hampir seluruh wilayah Jawa Timur pada periode 1 hingga 10 Februari 2026. Peringatan ini menjadi perhatian serius mengingat dampak yang dapat ditimbulkan berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat dan memicu berbagai bencana hidrometeorologi.

Peringatan tersebut tertuang dalam Rilis Pers BMKG Nomor e.B/ME.02.04/005/KSUB/I/2026, yang menyebutkan potensi terjadinya hujan sedang hingga lebat, disertai petir dan angin kencang, bahkan berpeluang menimbulkan banjir, banjir bandang, tanah longsor, puting beliung, serta hujan es di sejumlah wilayah.

Kepala Pelaksana BPBD Pacitan, Erwin Andriatmoko, menyampaikan bahwa masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, khususnya di daerah yang selama ini dikenal rawan bencana.

“Cuaca ekstrem berpotensi terjadi secara tiba-tiba. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan lebih waspada, terutama yang tinggal di wilayah rawan banjir dan longsor,” ujarnya, Ahad (1/2/2026).

Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi hampir seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur, antara lain Kabupaten Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Kediri, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, hingga kawasan Madura dan wilayah perkotaan seperti Surabaya, Malang, Kediri, Madiun, dan Kota Batu.

BMKG Juanda menjelaskan bahwa saat ini seluruh wilayah Jawa Timur telah memasuki musim hujan, bahkan beberapa daerah masih berada dalam fase puncak musim hujan. Kondisi ini menyebabkan intensitas dan durasi hujan menjadi lebih tinggi dibandingkan periode normal.

Secara meteorologis, peningkatan cuaca ekstrem ini dipengaruhi oleh aktifnya Monsun Asia, serta adanya gangguan gelombang atmosfer seperti Low Frequency, Gelombang Rossby, dan Gelombang Kelvin yang melintasi wilayah Jawa Timur.

Selain itu, suhu muka laut di perairan Selat Madura yang masih cukup hangat turut memperkuat suplai uap air ke atmosfer. Ditambah dengan kondisi atmosfer lokal yang labil, faktor-faktor tersebut mendorong terbentuknya awan konvektif yang berpotensi menghasilkan hujan lebat dalam waktu singkat.

BMKG mengingatkan bahwa wilayah dengan topografi curam, pegunungan, dan tebing memiliki risiko lebih tinggi terhadap tanah longsor dan banjir bandang. Sementara di kawasan perkotaan, hujan lebat berpotensi menyebabkan genangan, banjir, pohon tumbang, jalan licin, serta penurunan jarak pandang yang dapat membahayakan pengguna jalan.

Sebagai langkah mitigasi, masyarakat diimbau untuk menghindari aktivitas di area rawan bencana saat hujan lebat, memastikan saluran air di sekitar lingkungan tetap lancar, serta meningkatkan kesiapsiagaan keluarga menghadapi kemungkinan keadaan darurat.

BMKG Juanda, lanjut Erwin, juga mengajak masyarakat untuk aktif memantau perkembangan cuaca melalui Radar Cuaca WOFI, informasi peringatan dini 3 harian, serta peringatan dini 2–3 jam ke depan yang disampaikan melalui laman resmi stamet-juanda.bmkg.go.id, media sosial @infobmkgjuanda, dan layanan informasi 24 jam.

“Dengan meningkatnya potensi cuaca ekstrem ini, sinergi antara pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat diharapkan mampu meminimalkan risiko serta dampak bencana, sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu,”tegasnya.(Red/yun).

Ditulis oleh Yuniardi Yuniardi

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian