BMKG mengingatkan bahwa wilayah dengan topografi curam, pegunungan, dan tebing memiliki risiko lebih tinggi terhadap tanah longsor dan banjir bandang. Sementara di kawasan perkotaan, hujan lebat berpotensi menyebabkan genangan, banjir, pohon tumbang, jalan licin, serta penurunan jarak pandang yang dapat membahayakan pengguna jalan.
Sebagai langkah mitigasi, masyarakat diimbau untuk menghindari aktivitas di area rawan bencana saat hujan lebat, memastikan saluran air di sekitar lingkungan tetap lancar, serta meningkatkan kesiapsiagaan keluarga menghadapi kemungkinan keadaan darurat.
BMKG Juanda, lanjut Erwin, juga mengajak masyarakat untuk aktif memantau perkembangan cuaca melalui Radar Cuaca WOFI, informasi peringatan dini 3 harian, serta peringatan dini 2–3 jam ke depan yang disampaikan melalui laman resmi stamet-juanda.bmkg.go.id, media sosial @infobmkgjuanda, dan layanan informasi 24 jam.
“Dengan meningkatnya potensi cuaca ekstrem ini, sinergi antara pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat diharapkan mampu meminimalkan risiko serta dampak bencana, sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu,”tegasnya.(Red/yun).
