Anggota DPRD NTT, Filmon Loasana, yang juga Ketua PSI Kota Kupang, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya terhadap inisiatif tersebut.
“Kita puji dan syukur, hari ini kita panen bersama KOLEGA yang dibentuk bersama teman-teman PSI. Potensi kecil kalau dikembangkan dengan serius pasti bisa besar,” ujar Filmon.
Ia menegaskan bahwa PSI memberikan 1.000 ekor benih sebagai bentuk dukungan nyata dan berkomitmen mendorong agar lokasi ini menjadi sentra lele terpusat, seperti yang telah dijalankan di Bakunase.
“Kita mau bikin satu tempat orang cari ikan, beli ikan, ada di sekitar kita. Hidup harus bermanfaat bagi orang lain,” tambahnya.
Filmon juga menyampaikan pesan dari Wali Kota Kupang agar masyarakat benar-benar memanfaatkan peluang ekonomi ini demi menggerakkan roda ekonomi kota.
Pemerintah Siap Mendukung
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Kupang, Ejbends Doeka, mengaku bangga melihat partisipasi aktif masyarakat.
“Kemajuan daerah dimulai dari partisipasi masyarakat, ide yang kuat, dan rumah tangga yang kuat. Dari 1.000 benih, tingkat kematian tidak sampai 30 persen. Ini luar biasa untuk tahap awal,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah akan terus mendukung kegiatan berbasis masyarakat seperti ini. Sejalan dengan kebijakan provinsi “Satu Kelurahan Satu Produk”, KOLEGA dinilai layak menjadi produk unggulan Kelurahan TDM.
“Semoga tempat ini menjadi kelurahan budidaya lele. Kelompok ini pantas diteladani,” tegasnya.
Dalam momentum panen simbolis 250 ekor ikan lele, usaha ini secara resmi ditetapkan sebagai satu unit usaha dalam manajemen KKMP TDM.
Orientasi koperasi di TDM pun ditegaskan bukan sekadar simpan pinjam, tetapi menjadi motor pemberdayaan ekonomi warga.
LPM Kelurahan TDM dan KKMP menyatakan kesiapan untuk terus berkolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari penyediaan benih, pelatihan sistem terpal dan bioflok, manajemen budidaya, pengolahan hasil panen, hingga akses pemasaran agar program ini tumbuh optimal dan berkelanjutan.
Di tengah keterbatasan, warga TDM membuktikan bahwa kemandirian bisa dimulai dari pekarangan rumah. Lele-lele yang dipanen hari itu bukan sekadar hasil budidaya tiga bulan, tetapi simbol tekad sebuah kelurahan untuk berdiri tegak, produktif, dan berdaya. ***
